Tampilkan postingan dengan label Teori Belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teori Belajar. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 April 2011

Tingkatan prestasi belajar siswa

Untuk mengetahui sampai dimana tingkat keberhasilan siswa terhadap proses belajar yang telah dilakukan dan sekaligus juga untuk mengetahui keberhasilan mengajar guru, dapat dilakukan penilaian salah satunya dengan menggunakan test hasil belajar. Dan untuk mengetahui bukti keberhasilan yang dinyatakan berupa prestasi belajar itu ditempuh dengan alat. Dan dalam hal ini evaluasi merupakan salah satu alat yang dapat menunjukkan tingkat prestasi anak. Dengan nilai hasil evaluasi yang telah dilakukan, misalnya ulangan, ujian tengah semester, ujian akhir semester maka dapat mengetahui tingkat kemampuan atau pencapaian prestasi belajar siswa menentukan predikat siswa. Dibawah ini tabel batas minimal prestasi belajar siswa.














Dari tabel diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
a. Sangat baik / optimal: yaitu apabila siswa dapat menguasai pelajaran dan bisa menjawab soal evaluasi sebesar 80%
b. Baik/ Medium: apabila siswa mampu menyelesaikan 70% - 79% soal yang ada
c. Cukup/ minimal: Jika siswa mampu mengerjakan 60% - 69% soal yang diberikan.
d. Kurang: apabila siswa yang hanya menyelesaikan 50% - 59% soal
e. Gagal: Siswa yang dinyatakan gagal, ketika hanya mampu mengerjakan soal sebanyak 0% (tidak mengerjakan/ salah semua)- 49%.
Untuk mengukur dan mengevaluasi tingkat keberhasilan belajar tersebut dapat dilakukan melalui tes/ evaluasi prestasi belajar. Berdasarkan tujuan dan ruang lingkupnya, tes prestasi belajar dapat digolongkan kedalam jenis penelitian sebagai berikut;
a. Tes formatif
Penilaian ini digunakan untuk mengukur setiap satuan bahasan tertentu dan bertujuan hanya untuk memperoleh gambaran tentang daya serap siswa terhadap satuan bahasan tersebut. Hasil tes ini digunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar bahan tertentu dan waktu tertentu, atau sebagai feed back (umpan balik) dalam memperbaiki proses belajar mengajar.

b. Tes subsumatif
Penilaian ini meliputi sejumlah bahan pengajaran atau satuan bahasan yang telah diajarkan dalam waktu tertentu. Tujuannya ialah selain untuk memperoleh gambaran daya serap, juga untuk menetapkan tingkat prestasi belajar siswa. Hasilnya diperhitungkan untuk menentukan nilai raport.

c. Tes sumatif
Penilaian ini diadakan untuk mengukur daya serap siswa terhadap pokok � pokok bahasan yang telah diajarkan selama satu semester. Tujuannya ialah untuk menetapkan tingkat atau taraf keberhasilan belajar siswa dalam suatu priode belajar tertentu. Hasil tes ini dimanfaatkan untuk kanaikan kelas, dan menyusun peringkat (rangking) atau sebagai ukuran kualitas sekolah.


Rujukan:
1. Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru (Bandung: Remaja Rosada Karya, 2002), hlm. 153
2. Nana Sudjana, Cara Belajar Siswa Aktif Dalam Proses Belajar Mengajar (Bandung: Sinar Baru, 1989), hlm. 39


Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

Faktor-faktor Pendukung Prestasi Belajar Siswa

Menurut Nana Sujana faktor yang dapat mendukung prestasi belajar siswa adalah hasil belajar yang dicapai siswa yang dipengaruhi oleh dua factor utama yaitu yang pertama; factor dari dalam diri siswa itu sendiri dan yang kedua; factor yang datang dari luar diri siswa itu sendiri atau factor lingkungan.

Menurut Slameto bahwasannya faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar adalah sebagai berikut:
a. Faktor Intern, meliputi:
1) Faktor Biologis ( yang bersifat jasmani)
a) faktor Kesehatan
Sehat berarti dalam keadaan baik, yaitu baik segenap badan beserta bagian-bagian yang lain atau bebas dari penyakit. Kesehatan adalah keadaan atau hal sehat. Kesehatan seseorang berpengaruh terhadap belajarnya.
Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu juga ia akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk jika badannya lelah, kurang darah ataupun ada gangguan-gangguan atau kelainan-kelainan fungsi alat indranya serta tubuhnya.
Agar seseorang dapat belajar dengan baik haruslah mengusahakan kesehatan badannya tetap terjamin dengan cara selalu mengindahkan ketentuan-ketentuan tentang bekarja, tidur, makan, olah raga dan rekreasi.
2) Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabakan kurang baik dan kurang sempurnanya anggota tubuh atau badan. Seperti: buta, tuli, patah kaki, patah tangan, lumpuh dan lain-lain.
Keadaan cacat tubuh juga mempengaruhi belajar. Siswa yang cacat belajarnya akan tergaggu, misalnya siswa tersebut menjadi minder, kurang percaya diri dll. Jika hal ini terjadi, hendaknya ia belajar pada lembaga pendidikan khusus atau diusahakan alat batu agar dapat menghindar atau mengurangi kecacatannya itu.
3) Faktor Psikologis (yang bersifat rohani)
Sekurang-kurangnya ada tujuh factor psikologis yang mempengaruhi belajar siswa. Faktor-faktor itu adalah: intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kelelahan. Uraian berikut ini akan membahas factor-faktor tersebut.
4) Inteligensi
Intelegensi menurut Ngalim Purwanto adalah factor total, berbagai macam daya jiwa erat bersangkutan didalam (ingatan , fantasi, perasaan, perhatian, minat dan sebagainya turut mempengaruhi seseorang).
Intelegensi merupakan salah satu aspek yang penting dan sangat menentukan berhasil tidaknya seoarng siswa dalam belajar, manakala siswa memiliki intelegensi normal tetapi prestasi belajarnya sangat rendah sekali, hal ini bisa disebabkan oleh hal-hal lain, seperti sering sakit, tidak belajar dirumah, dan sebagainya. Kalau seorang siswa memiliki tingkat intelegensi dibawah normal, maka sulilt baginya untuk bersaing didalam pencapaian prestasi tinggi dengan siswa yang mempunyai intelegensi normal atau diatas normal. Siswa yang demikian keadaannya hendaknya diberi pertolongan khusus serta pendidikan khusus, seperti kursus dan lain sebagainya.
Intelegensi seorang siswa dapat diketahui dari tingkah laku atau pebuatannya yang tampak. Bagi suatu perbuatan intelegensi bukan hanya kemampuan yang dibawa sejak lahir saja yang penting, faktor-faktor lingkungan dan pendidikan pun memegang peranan penting.
a. Perhatian
Perhatian adalah pemusatan energi psikis yang tertuju kepada suatu pelajaran. Untuk mendapatkan hasil belajar yang baik, siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya, jika pelajaran tidak menjadi perhatian siswa, maka timbullah kebosanan, sehingga ia tidak lagi suka belajar. Agar siswa dapat belajar dengan baik, usahakanlah bahan pelajaran selalu menarik perhatian dengan cara mengusahakan pelajaran itu sesuai dengan hobi atau bakatnya.
b. Ingatan
Secara teoritis ingatan akan berfungsi: (1) Menerima Kesan-kesan dari luar, (2) menyimpan kesan, (3) memproduksi kesan. Oleh karena itu, ingatan merupakan kecakapan untuk menerima, menyimpan dan memproduksi kesan-kesan di dalam belajar. Hal ini sekaligus untuk menghindari kelupaan karena lupa merupakan gejala psikologis yang selalu ada.
c. Bakat
Bakat adalah Salah satu kemampuan manusia untuk melakukan suatu kegiatan dan sudah ada sejak manusia itu ada. Hal ini dekat dengan persoalan inteligensia yang merupakn struktur mental yang melahirkan � kemampuan� untuk memahami sesuatu. Dengan uraian diatas jelaslah bahwa bakat itu mempengaruhi belajar. Jika bahan pelajaran yang dipelajari siswa sesuai dengan bakatnya, maka hasil pelajarannya lebih baik karena ia senang belajar dan pastilah selanjutnya ia akan lebih giat lagi dalam belajar .
d. Motif
Kata motif diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan didalam subyek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Jadi motif erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai. Di dalam menentukan tujuan itu dapat disadari atau tidak, bahwa untuk mencapai tujuan itu perlu berbuat, sedangkan yang berbuat adalah motif itu sendiri sebagai daya penggerak atau pendorongnya.
e. Kematangan
Kematangan adalah suatu tingkat dalam pertumbuhan seseorang, dimana organ tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Oleh karena itu seorang guru harus mengetahui tingkat kematangan anak agar dapat menyesuaikan diri dengan persiapan anak didiknya. Dengan kata lain dalam proses belajar mengajar materi yang di sampaikan harus di sesuaikan dengan tingkat pertumbuhan dan cara berpikir siswa.
f. Kesiapan atau readiness
Menurut James Drever adalah preparedness to respond or react, yaitu kesiapan untuk memberi respon atau bereaksi. Kesediaan itu timbul dari diri seseorang dan juga berhubungan juga dengan kematangan, karena kematangan berarti kesiapan untuk melaksanakan kecakapan. Kesiapan ini perlu diperhatikan dalam proses belajar, karena jika siswa tersebut sudah ada kesiapan untuk belajar, maka hasil belajarnya akan lebih baik.
g. Kelelahan
Kelelahan pada seseorang walaupun sulit untuk dipisahkan tetapi dapat dibedahkan menjadi dua macam: yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani (bersifat psikis). Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh, dan nanti akan timbul kecendrungan untuk membaringkan tubuh. Kelemahan jasmani terjadi karena terjadi kekacauan sisa pembakaran di dalam tubuh sehingga darah kurang atau tidak lancar pada bagian-bagian tertentu. Sedangkan kelelahan rohani dapat di lihat dengan adanya kelesuhan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang. Kehilangan ini sangat terasa pada kepala pusing sehingga sulit untuk berkonsentrasi.
Dari uraian diatas dapatlah di mengerti bahwa kelelahan itu dapat mempengaruhi belajar. Agar siswa dapat belajar dengan baik harus menghindari jangan sampai terjadi kelelahan dalam belajarnya.

b. Faktor Eksetrn
Selain faktor internal yang diakibatkan dari dalam diri siswa, ada pula faktor eksternal atau faktor yang diakibatkan dari luar diri siswa, yang dapat mempengaruhi prastasi belajar siswa antara lain:
1. Faktor lingkungan keluarga.
Keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama bagi siswa. Keluarga adalah termasuk di dalam salah satu faktor yang mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan siswa. Dari lingkungan keluarga inilah yang pertama kali anak dikenalkan dan menerima pendidikan dan pengajaran terutama dari ayah dan ibunya. Pengaruh keluarga bagi siswa adalah berupa: cara orang tua mendidik anak, hubungan antara keluarga, pengertian orang tua, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga dan latar belakang kebudayaan.
Hal-hal lain yang dapat mempengaruhi prestai belajar siswa dari dalam keluarga ini adalah suasana keluarga. Suasana keluarga yang ramai, gaduh atau tegang karena orang tua sering berselisih pendapat dapat mengganggu konsentrasi belajar siswa. Demikian pula keadaan ekonomi keluarga, dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa, misalnya ekonomi keluarga yang kurang maka fasilitas belajar anak bisa kurang terpenuhi, bahkan tempat belajar anak kurang memadai atau tidak ada, akibatnya siswa tidak dapat belajar dengan baik sehingga menjadi penghambat prestasi belajarnya.
2. Faktor lingkungan sekolah
Faktor lingkungan sekolah mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam belajar karena hampir sepertiga dari kehidupan siswa sehari-hari berada disekolah. Faktor lingkungan sekolah yang dapat menunjang keberhasilan siswa, antara lain; cara penyampaian pelajaran, faktor antara guru dengan siswa, faktor asal sekolah, faktor kondisi gedung, kelas harus memenuhi syarat belajar, dan kedisiplinan yang diterapkan oleh sekolah yang bersangkutan.
3. Faktor lingkungan masyarakat
Faktor lingkungan masyarakat disebut juga sebagai faktor lingkungan sekitar siswa dimana ia tinggal, Faktor lingkungan masyarakat ini juga memberikan pengaruh terhadap keberhasilan siswa. Faktor ini dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
a) Faktor media massa; termasuk semua alat-alat media massa seperti; buku, koran, TV, video casette, internet dan sebagainya, yang dapat dimanfaatkan secara positif sebagai penunjang belajar siswa. Namun juga bisa berdampak negatif, bila salah digunakan. Karena itu perhatian, pembimbingan dan kebijaksanaan orang tua dan guru diperlukan untuk mengendalikan mereka.
b) Faktor pergaulan; teman bergaul dan aktivitas dalam masyarakat yang dapat membentuk keberhasilan dalam belajar siswa, bila dapat membagi waktu belajar dengan baik. Bila tidak dapat membagi waktu dengan baik maka aktivitas siswa tersebut akan berantakan dan itu akan berpengaruh pada prestasi belajarnya. Sehingga perhatian dan pengawasan orang tua sangat diperlukan.
Tipe keluarga, seperti pendidikan, jabatan, orang tua siswa, semua itu akan memberikan pengaruh dalam perkembangan siswa.


Rujukan:
1. Nana Sudjana, Cara Belajar Siswa Aktif Dalam Proses Belajar Mengajar (Bandung: Sinar Baru, 1989), hlm. 39
2. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2002), hlm 53
3. Singgih D. Gunarsah, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja (Jakarta: Gunung Mulia, 1985), hlm 131-134


Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

Teori Motivasi

Beberapa teori motivasi yang akan dibicarakan pada kesempatan ini, pada bab ini akan dijelaskan lima teori yaitu: teori hedonisme, teori naluri, teori reaksi yang dipelajari, teori daya pendorong dan teori kebutuhan. Adapun perincianya sebagai berikut:
1. Teori Hedonisme
Hedone adalah bahasa Yunani yang berarti kesukaan, kesenangan atau kenikmatan. Hedonisme adalah suatu aliran didalam filsafat yang memandang bahwa tujuan hidup yang utama pada manusia adalah mencari kesenangan (hedone) yang bersifat duniawi. Menurut pandangan hedonisme, manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang mementingkan kehidupan yang penuh kesenangan dan kenikmatan. Oleh karena itu setiap menghadapi persoalan yang perlu pemecahan, manusia cenderung memilih alternativ pemecahan yang dapat mendatangkan kesenangan dari pada yang mengakibatkan kesukaran, kesulitan, penderitaan, dan sebagainya.

Implikasi dari teori ini ialah adanya anggapan bahwa semua orang akan ceenderung menghindari hal-hal yang sulit dan menyusahkan, atau yang mengandung resiko berat, dan lebih suka melakukan sesuatu yang mendatangkan kesenangan baginya.

2. Teori Naluri
Pada dasarnya manusia memiliki tiga dorongan nafsu pokok yaitu: (1). Dorongan nafsu (naluri) mempertahankan diri. (2). Dorongan nafsu (naluri) mengembangkan diri. (3). Dorongan nafsu (naluri) mengembangkan atau mempertahankan jenis. Dengan demikian ketika naluri pokok itu, maka kebiasaan-kebiasaan apapun tindakan-tindakan dan tingkah laku manusia yang diperbuatnya sehari-hari mendapat dorongan atau digerakkan oleh ketiga naluri tersebut. Oleh karena itu, menurut teori ini untuk memotivasi seseorang harus berdasarkan naluri mana yang akan dituju dan perlu dikembangkan.

Sering kali kita temukan seseorang bertindak melakukan seseuatu karena didorong oleh lebih dari naluri pokok sekaligus sehingga sukar bagi kita untuk menetukan naluri pokok mana yang lebih dominan mendorong orang tersebut melakukan tindakan yang demikian itu. Sebagai contoh: seorang mahasiswa tekun dan rajin belajar meskipun dia hidup didalam kemiskinan bersama keluarganya. Hal apakah yang menggerakkan mahasiswa itu tekun dan rajin belajar? Mungkin karena ia benar-benar ingin menjadi pandai (naluri mengembangkan diri). Akan tetapi mungkin juga karena ia ingin meningkatkan karier pekerjaanya sehingga dapat hidup senang bersama keluarganya dan dapat membiayai sekolah anak-anaknya (naluri mengembangkan atau mempertahankan jenis dan naluri mempertahankan diri).

3. Teori Reaksi yang Dipelajari
Teori ini berpandangan bahwa tindakan atau perilaku manusia tidak berdasarkan naluri-naluri tetapi berdasarkan pola-pola tingkah laku yang dipelajari dari kebudayaan ditempat orang itu hidup. Orang belajar paling banyak dari lingkungan kebudayaan ditempat ia hidup dan dibesarkan. Oleh karena itu, teori ini disebut juga teori lingkungan kebudayaan.

Menurut teori ini, apabila seorang pemimpin atau seorang pendidik akan memotivasi anak buah atau anak didiknya, pemimpin atau pendidik itu hendaknya mengetahui benar-benar latar belakang kehidupan dan kebudayaan orang-orang yang dipimpinnya. Dengan mengetahui latar belakang kebudayaan seseorang kita dapat mengetahui polah tingkah. lauknya dan dapat memahami pula mengapa ia bereaksi dan bersikap yang mungkin berbeda dengan orang lain dalam menghadapi suatu masalah.

4. Teori Daya Pendorong
Teori ini merupakan perpaduan antara �teori naluri� dengan �teori reaksi yang dipelajari�. Daya pendorong adalah semacam naluri, tetapi hanya suatu dorongan kekuatan yang luas terhadap suatu arah yang umum. Misalnya suatu daya pendorong pada jenis kelamin yang lain. Semua orang dalam semua kebudayaan mempunyai daya pendorong pada jenis kelamin yang lain. Namun, cara-cara yang digunakan dalam mengejar kepuasan terhadap daya pendorong tersebut berlain-lainan bagi tiap individu menurut latar belkang kebudayaan masing-masing.

Oleh karena itu, menurut teori ini, bila seorang pemimpin atau seorang pendidik ingin memotivasi anak buahnya, ia harus mendasarkannya atas daya pendorong yaitu atas naluri dan juga reaksi yang dipelajari dari kebudayaan lingkungan yang dimilikinya. Memotivasi anak didik yang sejak kecil dibesarkan didaerah gunung kidul misalnya, kemungkinan besar akan berbeda dengan cara memberikan motivasi pada anak yang dibesarkan di kota medan meskipun masalah yang dihadapinya sama.

5. Teori kebutuhan
Teori ini beranggapan bahwa tindakan yang dilakukan oleh manusia pada hakikatnya adalah untuk memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan fisik maupun kebutuhan psikis. Oleh karena itu, menurut teori ini, apabila seorang pemimpin ataupun pendidik bermaksud memberikan motivasi kepada seseorang, ia berusaha mengetahui terlebih dahulu apa kebutuhan-kebutuhan orang yang akan dimotivasinya.

Berikut ini salah sartu dari teori kebutuhan yang dimaksud. Teori Abraham Maslow. Sebagai seorang pakar psikologi, Maslow mengemukakan adanya lima tingkatan kebutuhan pokok manusia. Kelima tingkatan kebutuhan pokok inilah yang kemudian dijadikan pengertian kunci dalam mempelajari motivasi manusia. Adapun kelima tingkatan kebutuhan pokok yang dimaksud dapat dilihat pada gambar berikut ini:














Keterangan:
a. Kebutuhan fisiologis: kebutuhan ini merupakan kebutuhan dasar, yang bersifat primer dan fital yang menyangkut fungsi-fungsi biologis dasar dari organisme manusia seperti kebutuhan akan pangan, sandang, dan papan, kesehatan fisik, kebutuhan seks dansebagainya.
b. Kebutuhan rasa aman dan perlindungan (safety and security) seperti terjamin keamanannya, terlindung dari bahaya dan ancaman penyakit, perang, kemiskinan, kelaparan, perlakuan tidak adil, dan sebagainya.
c. Kebutuhan sosial (social needs) yang meliputi antara lain kebutuhan akan dicintai, diperhitungkan sebagai pribadi, diakui sebagai anggota kelompok, rasa setia kawan, kerja sama.
d. Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs), termasuk kebutuhan dihargai karena prestasi, kemampuan, kedudukan atau setatus, pangkat, dan sebagainya.
e. Kebutuhan akan aktualisasi diri (self actualization), seperti antara lain: kebutuhan mempertinggi potensi-potensi yang dimiliki, pengembangan diri secara maksimum, kreatifitas , dan ekspresi diri.

Tingkat atau hirarki kebutuhan dari maslow ini tidak dimaksud sebagai suatu kerangka yang dapat dipakai setiap saat, tetapi lebih merupakan kerangka acuan yang dapat digunakan sewaktu-waktu bila mana diperlukan untuk memperkirakan tingkat kebutuhan mana yang mendorong seseorang �yang akan dimotivasi- bertindak melakukan sesuatu.

Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat mengamati bahwa kebutuhan manusia itu berbeda-beda. Faktor-faktor yang mempengaruhi adanya perbedaan tingkat kebutuhan itu antara lain latar belakang pendidikan, tinggi rendahnya kedudukan, pengalaman masa lampau, pandanagan atau falsafah hidup, cita-cita dan harapan masa depan, dari tiap individu.

Setiap individu tidak akan berusaha meloncat kepemuasan kebutuhan ke tingkat atas sebelum kebutuhan yang ada dibawahnya terpuaskan. Bagaimanapun manusia adalah makhluk yang tak pernah berada dalam keadaan sepenuhnya puas. Hal ini terlihat dari kebutuhan-kebutuhan yang ada dalam diri manusia tidak pernah berhenti menuntut adanya pemuasan. Kebutuhan yang pada suatu saat telah terpuaskan dilain saat akan kembali menuntut adanya pemuasan. Demikian seterusnya sehingga tuntutan dan pemuasan kebutuhan membentuk lingkaran yang tidak berujung.

Rujukan:
1. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1999), hlm. 74-78.
2. E. koeswara, Motivasi, (Bandung: Angkasa, 1989), hlm. 223
3. Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar, (Bandung: Sinar baru, 1992), hlm. 186
4. Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), hlm. 205.



Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com , www.arminaperdana.blogspot.com


Konsep Dasar Motivasi

Proses motivasi dan berbagai factor yang mempengaruhinya telah dibahas oleh para pakar motivasi dari sudut pandang yang berbeda-beda dan menghasilkan pengertian yang berbeda-beda pula. Hal ini disebabkan karena motivasi sangatlah komplek yang tidak bisa didefinisikan dan diinterpretasikan dari sust pandang tertentu saja. Bukan berarti definisi yang ada semuanmya salah, akan tetapi semuanya saling mendukung satu sama lain. Suatu hal yang lumrah dalam ilmu-ilmu pengetahuan yang sifatnya tidak eksak.

Motivasi tidak bisa dibahas dengan cermat apabila masih difahami sebagai suatu kepribadian (personality) yang dimiliki oleh sementara orng saja. Hal ini lebih baik dimengerti dalam komitmennya dengan dampak lingkungan terhadap nama orng bereaksi. Maksudnya penerjemahan dan penafsiran tentang motivasi sulit untuk bisa diterima oleh setiap indiviudu dengan berbagai latar beakang dan karakteristiknya, karena proses terbentuknya motivasi antara satu orang dengan yang lainnya tidak mesti sama, sehingga menghasilkan tingkat motivasi yang berbeda pula walaupun rangsangannya sama. Motivasi itu hendaknya dipahami dengan melihat reaksi individu atas berbagai rangsangan yang ada.

Pada satu sisi motivasi tampak sebagai kebutuhan dan sekaligus sebagai pendorong yang dapat menggerakkan semua potensi setiap orang. Sedangkan disisi lain motivasi tampak sebagai suatu usaha positif dalam menggerakkan daya dan potensi yang ada, sehingga menghasilkan kinerja yang bagus demi tercapainya tuuan yang telah ditetapkan, baik tujuan organisasi maupun tujuan individual. Dalam hubungan inilah Raymond B. Cattel menemukan suatu kenyataan bahwa konsep motivasi berkaitan erat dengan konsep �sintality�. Dengan �sintality� atau sintalitas diartikan �pencapaian � atau �pemuasan tujuan�.

Konsep lain yang bertalian dengan motivasi adalah konsep yang biasanya diutarakan dengan istilah �need� atau kebutuhan dan istilah �incetive� atau perangsang. Kedua istilah ini bagaikan dua sisi dari mata uang logam yang sama. Hubungan kedua logam ini sebanding dengan hubungan konsep tujuan dan alat untuk mencapai tujuan itu (Ends and mean concept). Perangsang atau insentif ini dapat dipandang alat untuk memenuhi atau memuaskan kebutuhan.

Keadaan motivasi seseorang dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu situasi motivasi yang subyektif dan situasi motivasi yang obyektif. Yang subyektif merupakan keadaan yang terdapat dalam diri seseorangyang disebut need (kebutuhan), drive (dorongan), desire (keinginan), dan Impuls (bisikan-bisikan hati). Sedangkan yang obyektif adalah keadaan yang berada diluar seseorang yang biasa disebut dengan istilah incentive (rangsangan) dan goal (tujuan). Suatu kesimpulan yang dapat diambil adalah bagaimana konsep motivasi didefinisikan atau ditafsirkan tidak akan lepas dari tiga komponen dasar yaitu tujua, kebutuhan dan dorongan atau rangsangan.


Rujukan:
1. Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar, (Bandung: Sinar baru, 1992).
2. Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998).
3. Mustaqim dan Abdul Wahib, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991).
4. E. koeswara, Motivasi, (Bandung: Angkasa, 1989)


Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

Definisi Motivasi

Dalam proses belajar mengajar motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajarnya. Motivasi disini merupakan syarat mutlak didalam belajar. Oleh karena itu seorang guru disini diharapkan bisa memberi motivasi belajar kepada siswa.

Menurut Oemar Hamalik dalam bukunya �psikologi belajar dan mengajar� menyatakan motivasi adalah suatu perubahan energi dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan.

Adapun pengertian motivasi menurut para pakar pendidikan adalah sebagai berikut:
1. Menurut James O. Whittaker menyatakanan motivasi adalah kondisi-kondisi atau keadaan yang mengaktifkan atau memberi dorongan kepada makhluk untuk bertingkah laku mencapai tujuan yang ditimbulkan oleh motivasi tersebut.
2. Menurut Mc Donal, �Motivation is a nergy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reaction�. Motivasi adalah suatu perubahan energi didalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan.
3. Menurut Ghuthrie motivasi hanya menimbulkan variasi respons pada individu, dan bila dihubungkan dengan hasil belajar, motivasi tersebut bukan instrumental dalam belajar .
4. Menurut Wood Worth dan Marques motif adalah suatu tujuan jiwa yang mendorong individu untuk aktivitas-aktivitas tertentu dan untuk tujuan-tujuan tertentu terhadap situasi disekitarnya.

Dari devinisi atas dapat diartikan bahwa motivasi adalah sebab-sebab yang ada dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan suatu aktivitas atau perbuatan untuk mencapai suatu tujuan. Motivasi disini berasal dari dalam diri sendiri, dan juga motivasi dapat dirangsang oleh faktor dari luar individu tersebut.


Rujukan:
1. Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar, (Bandung: Sinar baru, 1992), hlm. 186
2. Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), hlm. 205-206.
3. Mustaqim dan Abdul Wahib, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hlm. 72


Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

Jumat, 01 April 2011

Teori Belajar Behavioristik

Menurut teori behavioristik, belajar adalah suatu perubahan tingkah laku yang dapat diamati secara langsung, yang terjadi melalui hubungan stimulus-stimulus dan respon-respon menurut prinsip-prinsip mekanistik. Para penganut teori ini berpendapat bahwa sudah cukup bagi siswa untuk mengasosiasikan stimulus-stimulus dan respon-respon yang diberi reinforcement apabila ia memberikan respon yang benar. Mereka tidak mempersoalkan apa yang terjadi dalam pikiran siswa sebelum dan sesudah respon dibuat.

Behavioris berkeyakinan bahwa setiap anak manusia lahir tanpa warisan kecerdasan, warisan bakat, warisan perasaan dan warisan yang bersifat abstrak lainnya. Semuanya itu timbul setelah manusia mengalami kontak dengan alam dan lingkungan sosial budayanya dalam proses pendidikan. Dan menurut mereka, segenap perilaku manusia itu bisa dipelajari dan dibentuk oleh lingkungannya. Maka individu akan menjadi pintar, terampil, dan mempunyai sifat abstrak lainnya tergantung pada apakah dan bagaimana ia belajar dengan lingkungannya.

Dalam hal ini Sumadi Suryabrata (1990) memberikan ciri-ciri teori behavioristik adalah:
a) Perkembangan tingkah laku seseorang itu tergantung pada belajar.
b) Mementingkan bagian-bagian atau elemen-elemen, tidak keseluruhan.
c) Mementingkan reaksi dan mekanisme �Bond�, refleks dan kebiasaan-kebiasaan.
d) Bertinjauan historis, artinya segala tingkah lakunya terbentuk karena pengalaman dan latihan.
Tokoh penganut teori ini adalah Edward L. Thorndike, Ivan Petrovich Pavlov, E.R. Guthrie, B.F. Skinner, R.M. Gagne, Albert Bandura dan lainnya.

Model-Model Teori Belajar Behavioristik
1. Connectionisme atau Bond-Psychology (Trial and Error)
Teori belajar behavioristik ini dipelopori oleh Thorndike (1874-1949) dengan teorinya connectionisme yang disebut juga trial and error. Pada tahun 1980 Thorndike melakukan eksperimen dengan kucing sebagai subyeknya. Menurutnya belajar adalah pembentukan hubungan (koneksi) antara stimulus dengan respon yang diberikan oleh organisme terhadap stimulus tadi. Cara belajar yang khas yang ditunjukkannya adalah trial dan error (coba-coba). Di samping itu, Thorndike menggunakan pedoman melakukan hal-hal yang mendatangkan rasa senang yang disebut �pembawa kepuasan (satisfier)� dan menghindari keadaan yang tidak menyenangkan yang diistilahkan dengan �pembawa kebosanan (annoyer)�. Dari eksperimen Thorndike ini, bisa diambil tiga hukum dalam belajar, yaitu:
(1) Law of readiness (hukum kesiapan). Belajar akan berhasil apabila individu memiliki kesiapan untuk belajar.
(2) Law of exercise (hukum latihan), merupakan generalisasi dari law of use dan law of disuse, yaitu jika perilaku itu sering dilatih atau digunakan, maka eksistensi perilaku tersebut akan semakin kuat (Law of use). Sebaliknya, jika perilaku tadi tidak dilatih, maka perilaku tersebut akan menjadi bertambah lemah atau tidak digunakan sama sekali (law of disuse). Dengan kata lain, belajar akan berhasil apabila banyak latihan atau ulangan.
(3) Law of effect, yaitu jika respon menghasilkan efek yang memuaskan, hubungan antara stimulus dan respon akan semakin kuat. Sebaliknya, jika respon menghasilkan efek yang tidak memuaskan, maka semakin lemah hubungan antara stimulus dan respon tersebut. Dengan kata lain, belajar akan bersemangat apabila mengetahui atau mendapatkan hasil yang baik.

2. Classical Conditioning (Pembiasaan Klasik)
Sementara Thorndike mengadakan penelitian, di Rusia Ivan Pavlov (1849-1936) juga menghasilkan teori belajar Classical Conditioning (Pembiasaan Klasik). Menurut Terrace (1973), Classical Conditioning adalah sebuah prosedur penciptaan reflek baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut. Teori ini dihasilkan berdasarkan pada eksperimen terhadap anjing, persiapan Pavlov bisa dilihat dalam Gambar 2.2. sebagai berikut:









Gambar 2.2. Percobaan Ivan Petrovic Pavlov
Sumber: Rita L. Atkinson (1997: 295)

Secara alami, anjing ketika diberi makanan (Unconditioned Stimulus= US), akan mengeluarkan air liur (Unconditioned Response=UR). Kemudian Pavlov mencoba dengan cara memberikan makanan (US), 30 detik setelah mentronom (Conditioned Stimulus=CS) dibunyikan. Maka terjadilah refleks pengeluaran air liur (UR). Percobaan tersebut diulangi sebanyak 32 kali dan ternyata bunyi mentronom saja telah dapat menyebabkan keluarnya air liur (Conditioned Response=CR) dan bertambah deras jika makanan diberikan. Kalau digambarkan sebagaimana dalam gambar 2.3.
















Gambar 2.3. Skema Teori Belajar Clasical Conditioning
Sumber: Muhibbin Syah (2004: 97)

Kesimpulan dari eksperimen Pavlov adalah apabila stimulus yang diadakan (CS) itu selalu disertai dengan stimulus penguat (US), maka stimulus tadi (CS) cepat atau lambat akhirnya akan menimbulkan respon atau perubahan yang kita kehendaki (CR). Adapun cara menghilangkan refleks refleks bersyarat ini melalui proses pensyaratan kembali (Reconditioning, hereconditionering).
Proses belajar berdasarkan eksperimen Pavlov tunduk pada dua hukum, yaitu:
(1) Law of Respondent Conditioning (hukum pembiasaan yang dituntut), yaitu jika dua macam stimulus (hubungan antara CS dan US yang salah satunya menjadi reinforcer) dihadirkan secara simultan, maka refleks ketiga (hubungan antara CS dan CR) akan meningkat.
(2) Law of Respondent Extinction (hukum pemusnahan yang dituntut), yaitu jika refleks yang sudah diperkuat melalui respondent conditioning didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.

3. Operant Conditioning (Pembiasaan Perilaku Respon)
Kemudian muncul Burhus Frederic Skinner dengan teorinya Operant Conditioning (Pembiasaan Perilaku Respon) yang mengadakan eksperimen terhadap tikus. Respon dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respon tertentu. Dari teori ini dapat disimpulkan bahwa proses belajar tunduk kepada dua hukum, yaitu:
(1) Law of operant conditioning, yaitu jika timbulnya tingkah laku operant diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan tingkah laku tersebut akan meningkat.
(2) Law of operant extinction, yaitu jika timbulnya tingkah laku operant tidak diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan tingkah laku tersebut akan menurun bahkan musnah.
Dan konsekuensi tingkah laku itu ada yang menyenangkan (berupa reward) dan tidak menyenangkan (berupa punisment).

4. Contiguous Conditioning (Pembiasaan Asosiasi Dekat)
Selain itu muncul pula Edwin R. Guthrie dengan teorinya Contiguous Conditioning (Pembiasaan Asosiasi Dekat) yang mengasumsikan terjadinya peristiwa belajar berdasarkan kedekatan hubungan antara stimulus dengan respon yang relevan. Di dalamnya terdapat prinsip kontiguitas (contiguity) yang berarti kedekatan antara stimulus dan respon. Oleh karena itu, menurutnya peningkatan hasil belajar itu bukanlah hasil pelbagai respon yang kompleks terhadap stimulus-stimulus yang ada, melainkan karena dekatnya asosiasi antara stimulus dengan respon yang diperlukan. Walaupun demikian, dalam proses belajar tetap memerlukan reward, sedangkan hukuman akan lebih efektif apabila menyebabkan murid itu belajar.

5. Sarbon (Stimulus and Response Bond Theory)
John B. Watson (1878-1958) adalah orang pertama di Amerika Serikat yang mengembangkan teori belajar Ivan Pavlov dengan teorinya Sarbon (Stimulus and response Bond Theory). Watson berpendapat bahwa belajar merupakan proses terjadinya refleks-refleks atau respons-respons bersyarat melalui stimulus pengganti. Menurutnya, manusia dilahirkan dengan beberapa refleks dan reaksi-reaksi emosional berupa takut, cinta, dan marah. Semua tingkah laku lainnya terbentuk oleh hubungan-hubungan stimulus-respons baru melalui �conditioning�. Jadi, menurut Watson, belajar dipandang sebagai cara menanamkan sejumlah ikatan antara perangsang dan reaksi (asosiasi-asosiasi tunggal) dalam sistem susunan saraf.

6. Social Learning Theory (Teori belajar sosial)
Albert Bandura dikatakan sebagai neo-behaviorism muncul dengan teorinya Social Learning Theory (Teori belajar sosial). Hal yang paling asas dalam teori ini adalah kemampuan seseorang untuk mengabstraksikan informasi dari perilaku orang lain kemudian mengambil keputusan mengenai perilaku mana yang akan ditiru yang selanjutnya akan dilakukan sesuai dengan pilihannya. Artinya tingkah laku manusia itu bukan semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri.

Pendekatan teori belajar sosial terhadap proses perkembangan sosial dan moral siswa adalah dengan mengadakan conditioning (pembiasaan merespon) dan imitation (peniruan). Dalam conditioning ini diperlukan adanya reward (ganjaran) dan punishment (hukuman). Sedangkan dalam imitasi, seorang guru dan orang tua memainkan peranan penting sebagai model yang akan dicontoh perilaku sosialnya.

Dari berbagai pendapat pakar behavioris, dapat ditarik benang merah antara pendapat yang satu dengan yang lainnya, walaupun pada hakikatnya sama. Semua pakar behavioris sepakat bahwa belajar merupakan hubungan antara stimulus dan respon. Akan tetapi, Thorndike menggunakan trial-and-error sebagai pemecahannya. Sedangkan Pavlov dan Skinner membentuk pembiasaan tingkah laku dengan bantuan reinforcement (penguatan). Kalau Guthrie berpandangan bahwa hasil belajar itu bukan karena banyaknya hubungan stimulus dan respon, akan tetapi dikarenakan dekatnya hubungan antara keduanya. Watson sebaliknya, memandang bahwa belajar merupakan menanamkan rangkaian asosiasi-asosiasi ke dalam sistem susunan saraf. Sedangkan Bandura dengan teori belajar sosialnya, lebih menekankan belajar sebagai proses pengambilan keputusan dalam bertingkah laku dengan cara peniruan dan pembiasaan melalui informasi yang didapatkan dari lingkungan.


Rujukan:
1. W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran (Jakarta: PT. Grasindo, 1991), hlm. 380.
2. Ahmad Thonthowi, Psikologi Pendidikan (Bandung: Angkasa, Tt), hlm. 100.
3. Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hlm. 124.
4. Muhaimin (dkk.), Paradigma Pendidikan Islam; Upaya mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002), cet. 2, hlm. 137-144.
5. Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2003), hlm. 165-167.
6. Ratna Wilis Dahar, Teori-Teori Belajar (Jakarta: Depdikbud Dirjend Lembaga Tenaga Kependidikan, 1988), hlm. 15.
7. Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2004), Cet.3, hlm. 65.
8. Gordon H. Bower dan Ernest R.Hilgard, Theories of Learning. 4th Edition. (New Jersey: Prentice Hall. Inc, 1998), hlm. 11.




Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Tujuan dan Aktivitas Belajar

Secara umum, belajar dilakukan individu untuk mencapai sesuatu yang mempunyai arti baginya. Tujuan ini dapat diidentifikasi dengan terjadinya perubahan pada individu dan dapat digolongkan ke dalam tiga golongan, yaitu:
a. Pengetahuan (knowledge); dalam hal ini sifat perubahannya adalah kognitif. Perubahan yang diharapkan adalah dari tidak mengetahui menjadi mengetahui, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dan sebagainya.
b. Keterampilan (skill); sifat perubahannya adalah psikomotorik. Perubahan yang diharapkan adalah dari tidak bisa membuat, melakukan, membentuk dan sebagainya berubah bisa membuat, melakukan, membentuk sesuatu, dan sebagainya.
c. Sikap (attitude); sifat perubahannya adalah afektif. Perubahan yang diharapkan adalah dari sikap negatif menjadi sikap positif, dari sikap salah menjadi sikap baik dan sebagainya.
Maka tujuan belajar bisa dikatakan mengikuti teori Benyamin S. Bloom yang harus menyentuh tiga ranah, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.

Aktifitas-Aktifitas Belajar
Setelah kita mengetahui apa itu belajar, bentuk-bentuknya, tujuan, dan prinsip belajar, maka individu pembelajar harus mempunyai set belajar, yaitu arah atau sikap terhadap kegiatan. Artinya ketika individu itu belajar, maka ia harus mempunyai arah kegiatan untuk mempermudah dalam mencapai tujuan yang ingin dicapainya, baru kemudian melakukan aktifitas belajar.

Aktifitas belajar bermacam-macam, terdiri dari a) mendengarkan secara aktif dan bertujuan, b) meraba, membau dan mencicipi/mencecap apabila didorong oleh kebutuhan dan motivasi untuk mencapai tujuan yang berkaitan dengan perubahan tingkah laku, c) menulis atau mencatat, d) membaca, e) membuat ikhtisar atau ringkasan dan menggarisbawahi dapat membantunya mengingat atau mencari kembali materi yang diperlukan suatu saat, f) mengamati tabel-tabel, diagram-diagram dan bagan-bagan, karena terdapat tipe individu yang lebih cepat belajarnya dalam bentuk visual, g) menyusun paper atau kertas kerja, h) mengingat yang didasari dengan set belajar, i) berpikir dikatakan sebagai aktifitas belajar tertinggi, karena dengan berpikir, individu akan menemukan sesuatu yang baru, dan j) latihan dan praktek karena individu yang melaksanakan kegiatan berlatih tentunya mempunyai dorongan untuk mencapai tujuan tertentu yang dapat mengembangkan aspek yang ada dalam dirinya.

Uraian di atas menjelaskan bahwa semua itu kegiatan yang tersebut di atas bisa dikatakan sebagai aktifitas belajar, apabila didorong oleh kebutuhan dan motivasi untuk mencapai perubahan tingkah laku yang diinginkan. Dengan demikian, walaupun aktifitas belajar dilakukan tetapi tidak ada set belajar, maka tidak disebut sebagai belajar karena tidak menjadikan terjadinya perubahan tingkah laku subyeknya.


Rujukan:
1. Ahmad Thonthowi, Psikologi Pendidikan (Bandung: Angkasa, Tt), hlm. 100.
2. Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hlm. 124.


Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com