Tampilkan postingan dengan label Kepemimpinan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kepemimpinan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 April 2011

Artikulasi Nilai Kepemimpinan Kepala Sekolah

Menurut Ekosusilo, istilah �nilai� merupakan istilah yang tidak mudah untuk didefinisikan dan dibatasi secara pasti. Ini disebabkan karena nilai merupakan sebuah realitas yang abstrak. Sedangkan EM. Kaswardi menuyebutkan nilai adalah realitas abstrak yang merupakan prinsip-prinsip yang menjadi pedoman hidup seseorang. Nilai adalah suatu tipe kepercayaan yang berada dalam ruang lingkup sistem kepercayaan di mana seseorang bertindak atau menghindari suatu tindakan, atau mengenai sesuatu yang pantas atau tidak pantas dikerjakan.

Nilai juga dapat didefinisikan sebagai ide-ide mendasar yang sesuai dengan yang diinginkan, yang benar, dan yang baik oleh sebagian besar anggota organisasi. Sekolah sebagai organisasi mempunyai nilai-nilai yang diyakini oleh anggota organisasi yang termanifestasi pada cara berpikir, bertindak, dan menyikapi hal-hal yang terkait dengan sekolah.
Nilai dan keyakinan dalam kepemimpinan merupakan landasan filosofis semangat organisasi (spirit of organization) sehingga roda organisasi dapat bergerak sesuai dengan visi dan misi yang diharapakan. Nilai dan keyakinan seorang pemimpin tentang organisasi yang dipimpinnya merupakan dimensi terdalam dari nilai-nilai universal yang diemban sekolah, yang merupakan refleksi dari nilai dan keyakinan warga sekolah.

Nilai dan keyakinan yang dimiliki seorang pemimpin, biasanya termanifestasi dalam diri organisasi. Di mana pemimpin berupaya agar nilai dan keyakinannya dapat menjadi harapan dan milik anggota organisasi. Peran dan tanggung jawab kepala sekolah adalah untuk mentransformasi nilai dan keyakinan agar terwujud dalam perilaku organisasi. Kepala sekolah mengarahkan nilai dan keyakinan untuk membangun budaya sekolah unggul (culture of excellence school).

Nilai dan keyakinan dalam organisasi sekolah yang perlu menjadi perhatian untuk mencapai keunggulan sekolah (excellence school) yaitu kualitas, keefektifan, persamaan, efisiensi, dan pemberdayaan. Keunggulan sekolah tercapai karena didukung dengan nilai-nilai dasar yang diyakini kepala sekolah dan anggota organisasi. Nilai dan keyakinan tersebut bersifat laten dan termanifestasi dalam kehidapan sehari-hari, seperti nilai keunggulan, nilai ibadah (pengabdian), nilai tanggung jawab dan sebagainya.

Sejauh mana nilai dan keyakinan dapat memberikan kontribusi dalam menggerakkan roda organisasi sangat tergantung pada peran dan tanggung jawab kepala sekolah. Ia dituntut untuk mengkomunikasikan nilai dan keyakinan organisasi agar memberikan dampak positif terhadap perilaku anggotanya. Siswa, guru, staf, orang tua, dan masyarakat harus memahami, menghayati, dan mengartikulasikan nilai dan keyakinan sekolah untuk mencapai tujuan.

Kepala sekolah diharapkan dapat membangun nilai dan keyakinan sekolah yang kokoh sebagai landasan untuk membangun sekolah yang baik (good school). Nilai dan keyakinan dapat menjadi landasan moral perilaku anggota organisasi sekolah. Kepala sekolah membangun nilai dan keyakinan anggota didasarkan pada visi dan misi sekolah tersebut.

Nilai-nilai pendidikan dapat diperoleh dengan jalan merealisasikan tiga nilai kehidupan yang saling terkait satu sama lainnnya, yaitu:
1) Creative values (nilai-nilai kreatif), dalam hal ini berbuat kebajikan dan melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi lingkungan termasuk usaha merealisasikan nilai-nilai kreatif.
2) Experimental values (nilai-nilai penghayatan); meyakini dan menghayati kebenaran, kebajikan, keindahan, keimanan dan nilai-nilai yang dianggap berharga.
3) Attitudinal values (nilai-nilai bersikap); menerima dengan tabah dan mengambil sikap yang tepat terhadap penderitaan yang tak dapat dihindari lagi setelah melakukan upaya secara optimal, tetapi tidak berhasil mengatasinya.

Adapun norma dapat dipahami sebagai seperangkat ketentuan yang berlangsung secara alami dan ditetapkan oleh suatu kelompok untuk ditaati bersama. Norma dapat berupa adat istiadat dan peraturan. Norma menjadi referensi anggota dalam perpikir dan bertindak terhadap tujuan yang akan dicapai. Itulah sebabnya sekolah yang memiliki norma-norma keagungan akan melahirkan karakteristik budaya yang berkualitas.

Sekolah yang memiliki budaya mutu dapat dilihat dari kemampuan sekolah ini untuk menciptakan seperangkat norma sebagai acuan warga sekolah dalam berprilaku di sekolah. Kepala sekolah, guru, siswa, staf, dan lainnya tanpa norma yang tertanam dalam aktivitas sehari-hari akan sulit untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Oleh karenanya kepala sekolah dituntut untuk membangun norma sekolah agar tercapai iklim sekolah yang bermutu.

Seperangkat peraturan sekolah merupakan bentuk norma yang terorganisir dalam suatu organisasi sekolah. Peraturan yang tertulis maupun yang tidak tertulis merupakan bagian dari norma sekolah, yang merupakan budaya sekolah. Semakin tinggi norma yang ditetapkan dalam sekolah maka semakin tinggi budaya mutu yang lahir di sekolah.


Rujukan:
1. Madyo Ekosusilo, Sekolah Unggul Berbasis Nilai: Studi Multikasus di SMA Negeri 1, SMA Regina Pacis, dan SMA Al Islam 1 Surakarta (Sukoharjo: Bantara Press, 2003), 22.
2. EM. Kaswardi, Pendidikan Nilai Memasuki Tahun 2000, (Jakarta : Gramedia, 1993), 20.
3. Asrin, Kepemimpinan Kepala Sekolah Pada Budaya Mutu di Sekolah; Studi Multikasus di SMAN Agung Dan SMAI Kartini Di Kota Bunga (Malang: Disertasi UM Tidak Diterbitkan, 2006), 56-58


Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

Artikulasi Visi dan Misi Kepemimpinan

Visi adalah apa yang didambakan organisasi untuk dimiliki atau diperoleh di masa depan (what we do we want to have). Sedangkan misi adalah dambaan tentang kita akan menjadi apa di masa depan (what we do we want to be). Agar efektif dan powerful, maka visi dan misi harus jelas, harmonis, dan compatible.

Dalam proses kepemimpinan, seorang kepala sekolah dituntut untuk merumuskan visi dan misi sekolah sebagai kesatuan ide dan perekat bagi anggota organisasi sekolah. Visi dan misi yang dimiliki sekolah berusaha diwujudkan dalam peran dan tugas masing-masing individu atau kelompok di sekolah. Terbentuknya visi dan misi sekolah yang kuat merupakan hasil dari sudut pandang (view of state) dan harapan kepala sekolah terhadap sekolah yang dipimpinnya.

Visi dan misi dimaksudkan untuk menjadikan sebuah organisasi memiliki jati diri yang khas yang membedakannya dengan organisasi lainnya. Visi dan misi yang dimiliki oleh sekolah harus merupakan karakteristik unik yang dapat diterjemahkan dalam aktifitas-aktifitas yang lebih operasional. Sehingga dalam melahirkan visi dan misi sekolah yang baik setidaknya mencakup tugas dan fungsi, filosofi dasar organisasi, apa yang akan ditawarkan, apa dan untuk siapa sekolah tersebut.

Visi yang baik akan memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) menjalaskan arah tujuan; 2) mudah dimengerti dan diartikulasikan; 3) mencerminkan cita-cita yang tinggi, dan menetapkan standart of excellent; 4) menumbuhkan inspirasi, semangat, dan komitmen; 5) menciptakan makna bagi anggota organisasi; 6) merefleksikan keunikan dan keistimewaan organisasi; 7) menyiratkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh organisasi; 8) kontekstual, berhubungan dengan organisasi dengan lingkungan dan sejarah perkembangan organisasi.

Sedangkan misi akan menggerakkan organisasi lebih baik. Keunggulan misi yaitu: 1) organisasi yang digerakkan oleh misi akan lebih efisien; 2) organisasi yang digerakkan oleh misi akan lebih efektif dan baik; 3) organisasi yang digerakkan oleh misi akan lebih fleksibel; dan 4) organisasi yang digerakkan oleh misi akan mempunyai semangat lebih tinggi.
Itulah sebabnya visi dan misi mempunyai posisi yang sangat penting dalam kajian kepemimpinan. Visi dan misi merupakan gambaran umum atau cetak biru masa depan organisasi yang akan dipimpim oleh seorang pemimpin.


Rujukan:
1. Madyo Ekosusilo, Sekolah Unggul Berbasis Nilai: Studi Multikasus di SMA Negeri 1, SMA Regina Pacis, dan SMA Al Islam 1 Surakarta (Sukoharjo: Bantara Press, 2003), 44-45.
2. Asrin, Kepemimpinan Kepala Sekolah Pada Budaya Mutu di Sekolah; Studi Multikasus di SMAN Agung Dan SMAI Kartini Di Kota Bunga (Malang: Disertasi UM Tidak Diterbitkan, 2006), 53-55.



Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

Hakekat Kepemimpinan Pendidikan Islam

Dalam penelitian ini, istilah �kepemimpinan� disandingkan dengan kata �pendidikan�. Hal ini mengandung dua pengertian. Di mana kata �pendidikan� menerangkan dalam lapangan apa dan di mana kepemimpinan itu berlangsung, sekaligus menjelaskan pula sifat atau ciri-ciri yang harus dimiliki oleh kepemimpinan tersebut.

Untuk itu, Sebelum membahas pengertian kepemimpinan sebagai suatu kesatuan, maka perlu dijelaskan juga pengertian pendidikan dari M.J Langeveld yang berpendapat bahwa pendidikan atau pedagogi adalah kegiatan membimbing anak manusia menuju pada kedewasaan dan kemandirian. Adapun pendidikan Islam pada hakekatnya merupakan usaha bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup.

Adapun pengertian kepemimpinan telah banyak sekali para ahli yang berusaha mendefinisikannya, di antaranya sebagai berikut:
a. Kepemimpinan adalah suatu proses di mana individu mempengaruhi kelompok untuk mencapai tujuan umum.
b. Kepemimpinan itu adalah kemampuan untuk menanamkan keyakinan dan memperoleh dukungan dari anggota organisasi untuk mencapai tujuan organisasi.
c. Menurut Rivai definisi kepemimpinan secara luas adalah meliputi proses mempengaruhi dan menetukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, dan mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya.
d. Menurut Nawawi, kepemimpinan berarti kemampuan menggerakkan memberikan motivasi dan mempengaruhi orang-orang agar bersedia melakukan tindakan-tindakan yang terarah pada pencapaian tujuan melalui keberanian mengambil keputusan tentang kegiatan yang harus dilakukan.

Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah proses kegiatan seseorang yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi, mendorong, mengarahkan, dan menggerakkan individu-individu supaya timbul kerjasama secara teratur dalam upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama. Senada dengan kesimpulan ini, Prabowo menyatakan bahwa dari berbagai defini kepemimpinan kesemuanya mengarah pada adanya suatu proses untuk memberi pengaruh secara sosial kepada orang lain, sehingga orang lain tersebut menjalankan sesuatu sebagaimana diinginkan oleh pemimpin. Dari banyaknya definisi tentang kepemimpinan tidak ada yang �benar�, ia hanya merupakan masalah sejauh mana definisi tersebut berguna untuk meningkatkan pengetahuan kita.

Lebih lanjut, Mike PEGG (1994) memperkenalkan kepemimpinan positif yang diadopsi dari model-model kepemimpinan tokoh-tokoh sukses yang memunculkan dua kesimpulan: pertama, pemimpin positif memiliki banyak ciri pemimpin yang dalat mendorong untuk bekerja guna mencapai tujuan yang pasti. Kedua, mereka dapat membangun tim kepemimpinan yang baik.

Apabila pengertian kepemimpinan dipadukan dengan pengertian pendidikan, maka pengertian kepemimpinan pendidikan merupakan suatu proses mempengaruhi, mengkoordinir, dan menggerakkan orang lain yang ada hubungan dengan pengembangan ilmu pendidikan dan pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran agar kegiatan-kegiatan yang dijalankan dapat lebih efisien dan efektif demi mencapai tujuan-tujuan pendidikan dan pembelajaran.

Kepemimpinan pendidikan juga dapat diartikan sebagai proses kegiatan usaha mempengaruhi, menggerakkan, dan mengkoordinasi-kan personal di lingkungan pendidikan pada situasi tertentu agar mereka melalui kerjasama mau bekerja dengan penuh tanggung jawab dan ikhlas demi tercapainya demi tercapainya tujuan pendidikan yang telah dirumuskan.

Menjadi pemimpin lembaga pendidikan, terutama pendidikan Islam tidak saja dituntut untuk menguasai teori kepemimpinan, akan tetapi ia juga harus terampil dalam menerapkan situasi praktis di lapangan dan memiliki etos kerja yang tinggi untuk membawa lembaga pendidikan yang dipimpinnya dan memiliki pengaruh yang kuat. Di sini
Para ulama berkonsensus bahwa inti efektivitas proses kepemimpinan terlatak pada wibawa (pengaruh) interaktif antara pemimpin dan pengikutnya. Kepemimpinan yang sukses adalah yang mampu mempengaruhi perilaku individu-individu untuk menunaikan tugasnya dalam rangka memberikan arahan dan petunjuk, mewujudkan target organisasi (jamaah), mengembangkan, memegang teguh, dan menjaga kekuatan bagunannya.


Rujukan:
1. Kartini Kartono, Pengantar Ilmu Mendidik Teoritis (Bandung: Mandar Maju, 1992), 22.
2. Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), 86.
3. P. G. Northouse, Leadership: Theory and Practice (New Delhi: Response Book, 2003), 3.
4. Imam Suprayogo, Reformulasi Visi dan Misi Pendidikan Islam (Malang: STAIN Press, 1999), 160.
5. A. J. Dubrin, 2001, Leadership: Research Findings, Practices, and Skills (Boston: Houghton Mifflin Company, 2001), 3.
6. Veithzal Rivai, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2003), 2.
7. Hadari Nawawi, Administrasi Pandidikan (Jakarta: Haji Masagung, 1998), 81; dan Burhanuddin, Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), 63. Sedikit berbeda dengan pengertian Nawawi, Dirawat menambahkan perlunya kesiapan untuk memimpin dan bertindak bahkan bila perlu memaksa orang lain agar ia menerima pengaruh pemimpin tersebut. Lihat Dirawat, et.al., Pengantar Kepemimpinan Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1986), 80.
8. Sugeng Listyo Prabowo, Manajemen Pengembangan Mutu Sekolah/Madrasah (Malang: UIN Malang Press, 2008), 11-12.
9. Gary Yulk, �Leadership in Organizations�, diterjemahkan Jusuf Udaya, Kepemimipinan dalam Organisasi (Jakarta: Prenhallindo, 1998),15.
10. Mike PEGG, �Positive Leadership�, diterjemahkan Arif Suyoko, Kepemimpinan Positif (Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo, 1994), 6.
11. Hendyat Soetopo, et.al., Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan (Jakarta: Bina Aksara, 1984), 4.
12. M. Ahmad Rohani, et.al., Pedoman Penyelenggaraan Administrasi Pendidikan di Sekolah (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), 88.
13. Jamal Madhi, �Al-Qiyadah Al-Muatsirah�, diterjemahkan Amang Syafrudin, et.al., Menjadi Pemimpin yang Efektif dan Berwibawa (Bandung: Syamil Cipta Media, 2004), 2-3.



Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

Selasa, 29 Maret 2011

Hal-hal yang Mempengaruhi Kepemimpinan



Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd

Pendidik di Malang

Hal-hal yang mempengaruhi kepemimpinan
Faktanya ada banyak hal yang mempengaruhi kepemimpinan itu sendirinya, terlebih fakta oraganisasi satu dengan lainnya sangat beragam sehingga ada banyak hal yang mempengaruhi kepemimpinan. Pada tahap inilah bukan hanya konsep kepemimpinan yang mempunyai pengaruh besar tetapi juga keterampilan spontan dan teknis pemimpin itu sendiri yang banyak menentukan keberhasilan sebuah kepemimpinan mengingat fakta organisasi tersebut beragam. Untuk mempermudahnya dapat dipolakan sebagai berikut:














a. Faktor Kemampuan Personal
Pengertian kemampuan adalah kombinasi antara potensi sejak pemimpin dilahirkan ke dunia sebagai manusia dan faktor pendidikan yang ia dapatkan. Jika seseorang lahir terberi dengan kemampuan dasar kepemimpinan, ia akan lebih hebat jika mendapatkan perlakuan edukatif dari lingkungan, jika tidak, ia hanya akan menjadi pemimpin yang biasa dan standar. Sebaliknya jika manusia lahir tidak terberi dengan potensi kepemimpinan namun mendapatkan perlakuan edukatif dari lingkunganya akan menjadi pemimpin dengan kemampuan yang standar pula. Dengan demikian antara potensi bawaan dan perlakuan edukatif lingkungan adalah dua hal tidak terpisahkan yang sangat menentukan hebatnya seorang pemimpin.

Dalam kepemimpinan, faktor pribadi yang berupa berbagai kompetensi yang dimiliki sangat mempengaruhi proses kepemimpinannya. Dalam hal ini, konsepsi kepemimpinan umumnya memusatkan perhatian kepada pribadi pemimpin dengan berbagai kualitas/kemampuan yang dimilikinya. Beberapa abad yang lalu, seorang dikatakan memiliki kualitas pribadi ketika ia dilahirkan dalam kalangan raja atau bangsawan. Maka muncullah teori �orang besar� yang pada saat sekarang ini sudah tidak relevan lagi. Seorang pemimpin di era modern didasarkan pada beberapa kelebihan yang tidak dimiliki orang lain dalam kelompoknya, seperti kecerdasan, tingkat pendidikan, bertanggung jawab, aktivitas dan partisipasi sosial serta status ekonomi dan sosial.

Hal tersebut nampak jelas pada lembaga/organisasi formal yang telah menerapkan standar atau aturan yang baku tentang syarat-syarat menjadi seorang pemimpin. Dalam Islam, potensi setiap individu ini dikenal istilah fitroh, yaitu ciptaan, sifat tertentu yang mana setiap yang maujud disifati dengannya pada masa awal penciptaanya, sifat pembawaan manusia yang ada sejak manusia dilahirkan. Beberapa fitroh yang dimiliki oleh manusia antara lain: fitrah bermoral, fitrah kemerdekaan, fitrah kebenaran, fitrah individu, fitrah sosial, fitrah politik, fitrah seni dan fitrah-fitrah lainnya. Berbagai fitrah tersebut harus dikembangkan sehingga terwujud dalam perilaku-perilaku positif dalam kehidupan sehari-hari.

Faktor personal ini juga dalam pengertian bahwa para pemimpin mempunyai kemampuan menginternalisasi visi dan misi organisasi kedalam pribadi mereka. Pemimpin tidak hanya pandai untuk mengajak anggota organisasi untuk menjadi bagian dari visi dan misi dengan meninternalisasi visi dan misi tersebut tetapi ia juga harus menjadi model yang berhasil menginternalisasi visi dan misi organisasi kedalam pribadinya sendiri.

b. Faktor Jabatan
Pengertian jabatan adalah struktur kekuasaan yang pemimpin duduki. Jabatan tidak dapat dihindari terlebih dalam kehidupan moder saat ini, semuanya seakan terstrukturifikasi. Dua orang mempunyai kemampuan kepemimpinan yang sama tetapi satu mempunyai jabatan dan yang lain tidak maka akan kalah pengaruh. sama-sama mempunyai jabatan tetapi tingkatannya tidak sama maka akan mempunya pengarauh yang berbeda.

Seorang pemimpin dalam berperilaku harus selalu mengindahkan dalam posisi mana ia berada. Seorang perwira tinggi tentunya dalam memberikan perintah sangat berbeda gayanya dengan seorang rektor. Hal ini terkait dengan aturan dan norma yang diberlakukan di masing-masing organisasi. Satu hal yang perlu dipahami banwa seorang pemimpin tidak pernah bekerja dalam ruang vakum, tetapi dia selalu ada dalam lingkungan sosial yang dinamis. Dalam hal ini, seorang pemimpin harus memiliki citra tentang perilaku kepemimpinan yang digunakan sehingga sesuai dengan situasi yang menyertainya. Oleh karena itu, dia harus memahami konsep peranan (role consept). Selain itu, seorang pemimpin harus tanggap terhadap situasi eksternal. Dalam hal ini berupa tuntutan perilaku yang berasal dari orang lain. Peristiwa ini disebut dengan �harapan peranan� (role ekspektation).

c. Faktor Situasi dan Kondisi
Pengertian situasi adalah kondisi yang melingkupi perilaku kepemimpinan. Disaat situasi tidak menentu dan kacau akan lebih efektif jika hadir seorang pemimpin yang karismatik. Jika kebutuhan organisasi adalah sulit untuk maju karena anggota organisasi yang tidak berkepribadian progresif maka perlu pemimpin transformasional. Jika identitas yang akan dicitrakan oragnisasi adalah religiutas maka kehadiran pemimpin yang mempunyai kemampuan kepemimpinan spritual adalah hal yang sangat signifikan. Begitulah situasi berbicara, ia juga memilah dan memilih kemampuan para pemimpin, apakah ia hadir disaat yang tepat atau tidak.

Situasi khusus selalu membutuhkan tipe kepemimpinan yang khusus pula. Seorang pemimpin dalam hal ini harus memiliki fleksibilitas yang tinggi terhadap situasi dan kondisi yang menyertai para bawahannya. Bila tidak, maka yang akan muncul bukan komitmen (kepatuhan) tetapi resistensi (perlawanan) dari para bawahan yang pada akhirnya berakibat pada tidak efektifnya suatu kepemimpinan. Pemahaman terhadap situasi dan kondisi ini sangat penting bagi seorang pemimpin sehingga gaya kepemimpinannya tidak selalu monoton. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus memahami dengan baik tipe Kepemimpinan Situasional atau dalam bahasanya Fidler disebut dengan gaya Kepemimpinan Kontingensi. Dalam dunia pendidikan yang menjunjung tinggi profesionalitas, maka dalam rangka menciptakan kepemimpinan yang efektif, ketiga hal tersebut harus mendapat perhatian serius. Pemimpin yang dipilih harus orang yang memang pilihan situasi yang melingkupi dan amanah terhadap perwujudan situasi oragnisasi yang lebih baik.

Diskripsi diatas memberikan pengertian bahwa dalam melahirkan atau memilih seorang pemimpin tiga hal tersebut haruslah diperhatikan. Disaat potensi internal pemimpin bertemu secara klop dengan potensi ekternal maka akan muncul dampak kepemimpinan yang luarbiasa. Jika tidak demikian maka efektifitas kepemimpinan akan sulit diwujudkan.


Rujukan:
1. Sondang S. Piagan, Teori Pengembangan Organisasi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004) hal. 230
2. J. Winardi, Teori Organisasi dan Pengorganisasian, (Jakarta: Rajawali pres, 2003), hal. 192
3. Adam Ibrahim Indrawijaya, Perubahan dan Pengembangan Organisasi, (Bandung: 1989), hal. 227
4. Nader Anga, Theory I (kepemimpinan Berdasarkan Kecerdasan Spritual), (Jakarta: Serambi, 2002), hal. 79-80
5. Masu�ud Said, Kepemimpinan (Pengembangan Organisasi, team Building dan Perilaku), (Malang; UIN Press, 2006) hal. 7
6. John Aldair, Menjadi Pemimpin Efektif (Terjemah oleh Andre Asparsayogi), Jakarta: Kerjasama Lembaga Pendidikan dan Pembinaan Manajemen dengan PT Binaman Pressindo, 1994, hal.. 13
7. Kamus Al-Munjid fi al-Lughah wa al-A�lam, Beirut: Dar al-Masyriq, 1986, hal.. 588
8. Muhaimin, et.al., Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2002, hal.. 16-19

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Komponen Perilaku Kepemimpinan Transformasional

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Komponen Perilaku Kepemimpinan Transformasional
Di bawah ini akan dibicarakan komponen perilaku atau manifestasi kepemimpinan transformasional agar dalam memahaminya lebih terukur. Bass dalam Hartanto beranggapan bahwa unjuk kerja kepemimpinan yang lebih baik terjadi bila para pemimpin dapat menjalankan salah satu atau kombinasi dari empat cara ini, yaitu (1) memberi wawasan serta kesadaran akan misi, membangkitkan kebanggaan, serta menumbuhkan sikap hormat dan kepercayaan pada para bawahannya (Idealized Influence - Charisma), (2) menumbuhkan
ekspektasi yang tinggi melalui pemanfaatan simbol-simbol untuk memfokuskan usaha dan mengkomunikasikan tujuan-tujuan penting dengan cara yang sederhana (Inspirational Motivation/leadership), (3) meningkatkan intelegensia, rasionalitas, dan pemecahan masalah secara seksama (Intellectual Stimulation), dan (4) memberikan perhatian, membina, membimbing, dan melatih setiap orang secara khusus dan pribadi (Individualized Consideration). Pemimpin yang seperti ini akan dianggap oleh rekan-rekan atau bawahan mereka sebagai pemimpin yang efektif dan memuaskan.

Bass dalam bentuk asli memuat 12 faktor pengukuran kepemimpinan tranformasional yang meliputi item mengenai atribut charisma, idealized influence, inspirational leadership, intellectual stimulation, individual consideration, contingent reward, management by exception active, management by exception passive, laissez faire leadership, extra effort, effecitveness, dan satisfaction.

Berangkat dari perspektif Bass yang dalam bentuk aslinya memuat 12 faktor pengukuran kepemimpinan tranformasional yang meliputi item mengenai atribut charisma, idealized influence, inspirational leadership, intellectual stimulation, individual consideration, contingent reward, management by exception active, management by exception passive, laissez faire leadership, extra effort, effecitveness, dan satisfaction. 12 belas kompone
n pengukuran ini selanjutnya ada modifikasi-modifikasi yang akan mengarah dan berkaitan dengan adanya perubahan dan perbaikan dalam sebuah kehidupan berorganisasi.

Meskipun Bass membuat pengukuran perilaku kepemimpinan transformasional dalam 12 perilaku seperti tergambat diatas penelitian ini hanya akan melihat fenomena penelitian hanya dari sudut pandang empat perikau saja, empat perilaku tersebut sebagai berikut:

















Rujukan:
1. Sondang S. Piagan, Teori Pengembangan Organisasi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004) hal. 230
2. J. Winardi, Teori Organisasi dan Pengorganisasian, (Jakarta: Rajawali pres, 2003), hal. 192
3. Adam Ibrahim Indrawijaya, Perubahan dan Pengembangan Organisasi, (Bandung: 1989), hal. 227
4. Nader Anga, Theory I (kepemimpinan Berdasarkan Kecerdasan Spritual), (Jakarta: Serambi, 2002), hal. 79-80
5. Masu�ud Said, Kepemimpinan (Pengembangan Organisasi, team Building dan Perilaku), (Malang; UIN Press, 2006) hal. 7



Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Kepemimpinan Transformasional dalam Islam

Oleh: M. Karim, M.Pd
Pengajar di UIN Malang

KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DALAM ISLAM
Wacana kepemimpian dalam dunia Islam yang utuh digali dari teks suci agama (al-Qur�an) mulai menjadi gelombang besar pada akhir abad 19 setelah sebelumnya melemah karena menguatnya gelombang pengembangan ilmu pengetahuan melalui pengkajian langsung terhadap sumber pengetahuan berupa perilaku manusia dan gejala alam semesta raya ini. Keadaan itu terjadi karena Eropa telah terbukti berhasil membangun dan mengembangkan peradabannya sampai sekarang dengan melandaskan epistemologi pengetahuannya dalam bentuk demikian, ditambah lagi politik pengetahuan yang menghegemoni terhadap penduduk dunia lainnya sehingga bentuk epistemologi ini menjadi begitu kokoh, kuat dan tak terbantahkan karena menguatkanya apresiasi penduduk dunia lainnya.

Kepemimpinan transformasional perspektif Islam dalam kajian ini tidaklah dibangun dengan kerangka pikiran dikotomis antara ayat Allah SWT yang verbal berupa al-Qur�an dan ayatNya yang non verbal berupa perilaku manusia dan gejala alam semesta. Oleh karena itu, dalam membincang kepemimpinan transformasional dalam perspektif Islam tidak perlu dimulai dari nol, tetapi dapat memanfaatkan perilaku kepemimpinan manusia dan teori-teori kepemimpinan yang sudah ada termasuk teori Transformational Leadership barat dengan melakukan saling menguji, saling dialog, saling melakukan revisi dan saling melakukan modifikasi, saling melengkapi atau mengurangi (antara al-Qur�an dan perilaku manusia/gejala alam semesta) sehingga dapat dibangun kesimpulan yang paling mendekati kebenaran hakiki.

Hal ini berdasarkan pemahaman adanya dua ragam tanda (sign/ayat) Tuhan yang perlu diketahui. Pertama tanda-tanda (ayat-ayat) yang bercorak linguistik verbal dan menggunakan bahasa insani (bahasa Arab/bahasa Qur�ani). Kedua, tanda-tanda (ayat-ayat) yang bercorak nonverbal berupa perilaku manusia dan gejala alam. Keduanya diturunkan Allah untuk manusia agar mereka menelaah dan memahaminya. Kedua ayat itu menduduki posisi yang sama (sama-sama berasal dari Allah SWT.) sebagai sumber inspirasi dalam membincang kepemimpinan transformasional perspektif Islam.

Ulasan tentang konsep kepemimpinan trnsformasional baik yang dikaji dari ayat Tuhan yang verbal (al-Qur�an) maupun yang nonverbal (perilaku manusia dan gejala alam semesta) titik persamaannya adalah dalam memposisikan �perubahan� dan �perbaikan� sebagai titik berangkat dan tujuan organisasi. Adapun perpedaannya adalah konsep yang dikaji dari ayat Tuhan yang berupa perilaku manusia dan gejala alam semesta seringkali terlalu antroposentris bahkan mengalami keterputusan dengan hal yang teosentris. Sedangkan konsep yang dikaji langsung dari ayat Tuhan yang verbal (al-Qur�an) seringkali terlalu terjebak kepada teosentris sehingga terkesan konsep yang dibangun tidak kontektual yang sesuai dengan psikososial manusia.

Konsep transformational leadership sudah banyak diberbincangkan di barat khususnya pada akhir-akhir ini. Meskipun demikian, pembahasan di bagian ini bukan gejala dari alih-alih dan akuisisi pengetahuan, dengan jalan mencari-cari atau mengganti landasan dasar dari sebuah teori pengetahuan yang sudah ada sebelumnya dengan al-Qur'an. karena tulisan ini tidaklah dibangun dengan kerangka pikiran dikotomis antara ayat Allah SWT yang verbal berupa al-Qur�an dan ayatNya yang non verbal berupa hamparan alam semesta dan gejalanya.

Lahirnya perubahan (transformasi) yang lebih baik merupakan inti dari usaha- usaha yang dilakukan oleh jamak manusia di dunia ini. Perubahan dan perbaikan merupakan inti dari aktivitas sebuah kepemimpinan. Dengan demikian term transformasi menjadi hal yang sangat signifikan dan relevan. Usaha agama, usaha pengetahuan, usaha ekonomi, usaha politik, usaha kebudayaan, usaha pendidikan, usaha manajemen, usaha kepemimpinan dan lain sebagainya merupakan serangkaian yang dilakukan oleh manusia untuk menuju perubahan (transformasi) yang lebih baik.

Dalam al-Qur�an semangat perubahan, revolusi termasuk transformasi dapat menemukan pijakan epistemologisnya dari beberapa ayat yang menceritakan tentang para nabi dan rasulullah yang revolusioner semisal cerita Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad SAW dan beberapa ayat yang tertera lafadz al-Hijrah, dan al-Jihadu,. Berangkat dari identifikasi ayat-ayat bersemangat transformasi dengan kata-kata kunci seperti diatas kita akan dapat memulai mengkonsepsikan tentang kepemimpinan transformasional dan perilakunya dalam perspektif Islam (al-Qur�an).


Rujukan:
1. Sondang S. Piagan, Teori Pengembangan Organisasi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004) hal. 230
2. J. Winardi, Teori Organisasi dan Pengorganisasian, (Jakarta: Rajawali pres, 2003), hal. 192
3. Adam Ibrahim Indrawijaya, Perubahan dan Pengembangan Organisasi, (Bandung: 1989), hal. 227
4. Nader Anga, Theory I (kepemimpinan Berdasarkan Kecerdasan Spritual), (Jakarta: Serambi, 2002), hal. 79-80
5. Masu�ud Said, Kepemimpinan (Pengembangan Organisasi, team Building dan Perilaku), (Malang; UIN Press, 2006) hal. 7
6. John Aldair, Menjadi Pemimpin Efektif (Terjemah oleh Andre Asparsayogi), Jakarta: Kerjasama Lembaga Pendidikan dan Pembinaan Manajemen dengan PT Binaman Pressindo, 1994, hal.. 13
7. Kamus Al-Munjid fi al-Lughah wa al-A�lam, Beirut: Dar al-Masyriq, 1986, hal.. 588
8. Muhaimin, et.al., Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2002, hal.. 16-19
9. Thisihiko Izutsu, God and Man in The Koran: Semantic of The Koranic Weltanschaung, (Tokyo: The Keiko Institute of Cultural and Linguistics, 1964) hal. 133





Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Dampak Kepemimpinan Transformasional

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Dampak yang paling jelas terlihat dalam kehidupan organisasi jika perilaku kepemimpinan dalam organisasi tersebut transformasional adalah transformasi organisasi itu sendiri. Transformasi organisasi disini adalah perubahan-perubahan drastis yang terjadi dalam organisasi yang menyangkut cara organisasi berfungsi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Transformasi oragnisasi mengandung makna bahwa upaya perubahan yang dilakukan bersifat drastis dan mendadak yang diarahkan pada tiga faktor organisasional, yaitu: Struktur organisasi sebagai keseluruhan, Proses manajemen dan Kultur organisasi.

Perubahan-perubahan seperti diskripsi diatas merupakan peruabahan yang bersifat organisasional sistemik. Maksud perubahan ini adalah adanya perubahan pada seluruh bagian-bagian, departeman-departemen dalam organisasi yang sudah tersistemkan. Kepemimpinan transformasional selain meyebabkan perubahan sistem struktural diatas juga berdampak terhadap perubahan-perubahan kehidupan subyek-subyek organisasi karena sasaran umum ekplisit dari pengembangan organisasi yaitu pertumbuhan dan pengembangan individu-individu pad semua tingkat organisasi, yang diekpektasi akan menyebabkan timbulnya peningkatan efisiensi dan efektifitas keorganisasian.

Dampak perubahan lainnya adalah adanya perubahan dan pengembangan manajemen. Pengembangan manajemen adalah perubahan dan pengembangan yang terjadi secara gradual karena sudah direncanakan. Dalam manajemen seperti itu akan ada kegiatan-kegitan pengembangan manajemen yang ditujukan untuk membantu terjadinya proses perubahan, proses perubahan tersebut dilakukan secara berencana dan sistemik dalam rangka menigkatkan efektifitas organisasi melalui perubahan pada mereka yang menduduk posisi struktural.
Secara garis besar penerapan kepemimpinan transformasional akan mampu membawa kepada peningkatan kinerja sebagai akibat dari adanya perubahan baik pada tingkat makro maupun mikro, yang mana keduanya saling berhubungan dan penting untuk menciptkan perubahan-perubahan besar dalam organisasi.

Peningkatan kinerja organisasimerupakan buah dari perubahan yang durencanakan secara seksama. Perubahan demikian terjadi dalam level organisasi, baik makro maupun mikro. Pada tingkat makro, perubahan difokuskan pada organisasi secara keseluruhan. Isu-isu semacam visi, misi, prinsip, arahan tujuan, target, dan strategi organisasi masuk dalam kategori ini. Sedangkan perubahan pada level mikro menekankan peran individu, faktor-faktor sosial yang terlibat diantaranya: budaya korporat, tim kerja, struktur organisasi, juga pemenuhan kebutuhan kerja.

Masud Said menuliskan bahwa:
Implikasi dari perubahan-perubahan tersebut bagi organisasi juga harus disesuaikan juga dengan tantangan terdekat dari organisasi yang dimaksud.... maka implikasi pengembanagan individu ialah pengayaan materi ilmu terus-menerus, menambah keyakinan akan misi-misinya esensial organisasi termasuk ide-idenya dan juga motivasi yang benar, besar dan terarah.

Bedasarkan beberapa pendapat diatas bahwa adanya perubahan sebagai dampak dari penerapan kepemimpinan transformasional akan terjadi pada beberapa bagian. Said menjelaskan bahwa perubahan akan terjadi pada bagian terdekat, jika kepemimpinan transformasional diterapkan di perguruan tinggi (misalnya rektor) maka faktor terdekat semisal Purek I, II, III, dan IV serta beberapa pejabat struktural akan mengalami perubahan.

Perubahan yang paling jelas terlihat dan terdekat sebagai dampak dari penerapan perilaku kepemimpinan transformasional adalah transformasinya perilaku karyawan organisasi dalam berfikir, beraktifitas guna menggerakkan laju organisasi. Pemimpin transformasional yang lebih konsen kepada perubahan, perbaikan dan peningkatan kemampuan SDM organisasi jelas akan berdampak langsung terhadap prestasi-prestasi karyawan dan selanjutnya pengembangan organisasi berjalan dengan baik, benar dan tepat.

Rujukan:
1. Sondang S. Piagan, Teori Pengembangan Organisasi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004) hal. 230
2. J. Winardi, Teori Organisasi dan Pengorganisasian, (Jakarta: Rajawali pres, 2003), hal. 192
3. Adam Ibrahim Indrawijaya, Perubahan dan Pengembangan Organisasi, (Bandung: 1989), hal. 227
4. Nader Anga, Theory I (kepemimpinan Berdasarkan Kecerdasan Spritual), (Jakarta: Serambi, 2002), hal. 79-80
5. Masu�ud Said, Kepemimpinan (Pengembangan Organisasi, team Building dan Perilaku), (Malang; UIN Press, 2006) hal. 7


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Kepemimpinan Transformasional dan Transaksional

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Kepemimpinan transaksional menggunakan pendekatan transaksi untuk disepakati bersama antara pemimpin dengan karyawan. Disini pemimpin mengambil inisiatif untuk menawarkan beberapa bentuk pemuasan kebutuhan karyawan seperti peningkatan upah, promosi, pengakuan dan perbaikan kondisi kerja. Sebaliknya apabila karyawan mau menerima tawaran itu mereka harus bekerja keras untuk meningkatkan produktivitas kerjanya. Apabila kedua belah pihak telah menyepakati transaksi tersebut, pemimpin menindaklanjuti dengan merumuskan dan mendiskripsikan tugas-tugas dengan jelas dan operasional, menjelaskan target yang harus dicapai, menawarkan berbagai bentuk imbalan yang dapat memotivasi karyawan untuk bekerja keras.

Sedangkan kepemimpinan transformasional menyatakan bahwa untuk menjadi pemimpin yang sukses, dia harus membangkitkan komitmen pengikutnya untuk dengan kesadarannya membangun nilai-nilai organisasi, mengembangkan visi organisasi, melakukan perubahan, dan mencari terobosan-terobosan baru untuk meningkatkan produktivitas organisasi. Untuk menjadi pemimpin transformasional, ia harus melakukan tugasnya melalui:

Pertama, Membangun keadaran pengikutnya akan pentingnya semua pihak mengembangkan dan perlunya semua pihak harus bekerja keras untuk meningkatkan produktivitas organisasi. Kedua mengembangkan komitmen berorganisasi dengan mengembangkan kesadran ikut memilki organisasi, kesadran bertanggung jawab menjaga kebutuhan dan kehidupan organisasi, serta berusaha memlihar dan memajukan organisasi.

Pada kepemimpinan transaksional pemimpin memang berperan sebagai penampung aspirasi anggotanya, akan tetapi lebih fokus pada aspirasi para individu, bukan lembaga. Jadi pemimpin bekerja sepenuh tenaga untuk sebesar mungkin memenuhi aspirasi para individu. Pemimpin bekerja pada sistem yang sudah terbangun, tanpa dituntut punya inisiatif mengembangkan komunitas lebih lanjut. Singkatnya, dalam kepemimpinan transaksional, pemimpin lebih bertindak sebagai seorang manajer dengan berpedoman kuat pada nilai-nilai yang sudah terbangun secara mapan. Akad hubungan dengan anggota yang ditekankan adalah �reward� (imbalan) dan �punishmen� (hukuman) yang bersifat konvesional.

Kepemimpinan transaksional memotivasi pengikut dengan minat-minat pribadi, melibatkan nilai-nilai yang relevan dalam proses pertukaran dan tidak langsung menyentuh substansi perubahan yang dikehendaki. Selain tujuan antara transformasional dengan transaksionl berbeda, kontuniutas perilaku juga berbeda. Keperbedaan kedua pendekatan kepemimpinan tersebut bukanlah bersifat dikotomis melainkan lebih bersifat stuasional, sehingga tampilannya lebih berupa sebuah kontinium atau kontingensi.

Jika merujuk pada pendapat diatas maka kepemimpinan transformasional secara mendasar memang berbeda dengan transaksional dalam penekanaanya tentang penciptaan perubahan. Namun, pemimpin transformasioanal bisa melakukan perilaku transaksional dalam situasi tertentu guna menciptakan perubahan, sehingga proses penggabungan dua model kepemimpinan tersebut terjadi.

Sementara dalam kepemimpinan transformasional, selain menjadi representasi keinginan bersama para anggotanya, pemimpin juga dituntut untuk selalu aktif melakukan inisiasi perubahan (envisioning). Memang dia akan berpijak sistem yang sudah ada, akan tetapi bersamaan dengan itu, dia juga aktif mempromosikan visi baru yang progresif berlandaskan pada moralitas dan tujuan luhur bersama. Pemimpin menjadi motivator kegairahan anggotanya untuk bersama mendorong kemajuan lembaga.

Dalam proses kepemimpinannya, ada proses dialektika aktif antara pemimpin dan anggota untuk mendiskusikan visi baru organisaisi. Dalam proses tersebut anggota memberikan standar �capaian� bersama organisasi, dan pada saat yang sama pemimpin menstimulasi diskursus yang mengarah pada capaian standar baru yang lebih tinggi. Jadi, ada tambahan peran pemimpin transformational yaitu envisioning, energizing, dan enabling (Burns 2003). Envisioning artinya pemimpin menstimulus terbentuknya visi baru organisasi yang lebih maju. Energizing berarti berarti kekuatan karakter yang menjadi sumber energi (spirit) bagi anggota untuk bergairah bekerja mewujudkan cita-cita lembaga. Dan dengan enabling Pemimpin bekerja bersama dengan anggota sehingga memberikan keyakinan akan terwujudnya cita-cita lembaga (bukan cita-cita individu).

Rujukan:
1. Wuradji, The Educational Leadership (Kepemimpinan Transformasional), (Yogyakarta: Gama Media, 2008), hal. 30-31
2. Sudarman Danim, Menjadi Komunitas Pembelajar (kepemimpinan Transformasional Dalam Komunitas Organisasi Pembelajaran), (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hal. 58-59
3. M. Chozin, Kepemimpinan Transformatif: Tanda Mata Buat PB HMI, (http://www.hminews.com/) diakses tanggal 25 oktober 2008


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Pengertian Kepemimpinan Transformasional

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Pengertian kepemimpinan transformasional
Istilah kepeimpinan transformasional terdiri dari dua suku kata yaitu kepemimpinan (leadership) dan transformasional (transformastion) . Adapun istilah transformasional berinduk dari kata to trasform yang bermakna mentransformasikan atau mengubah sesuatu menjadi menjadi bentuk lain yang berbeda. Misalnya mentransformasikan visi menjadi realita, panas menjadi energi, potensi menjadi aktual, laten menjadi manifes dan sebagainya. Transformasional karenanya mengandung makna sifat-sifat yang dapat mengubah sesuatu menjadi bentuk lain, misalnya mengubah energi potensial menjadi energi aktual atau motif berprestasi menjadi prestasi riil. Sudarman melanjtukan dengan mengutip Lethwood dkk. mengemukakan bahwa:
Transormational leadership is seen to be sesitive to organization building developing shared vision, distributing and building school culture neccessary to curent restructuring effors in schools.

Kepemimpinan transormasional sangat sesitiv untuk membangun organisasi dengan mengembangkan visi bersama, mendistribusikan, dan membangun budaya sekolah yang diperlukan untuk memberikan dorongan restrukturisasi di sekolah.

Pendapat lainnya mengatakan bahwa:
Trasformasional leaders posses good visioning, rethorical, and impreration management skills, ang they use these skill to develop strong emotional bond with follower. Transformational leaders belived to ber more sucsesful at driving organazational change because of followers heightenid emotional level and their willingnes to wor toward the accomplisment of leaders vision.

Pemimpin trasformasional memiliki visi, retorika yang baik, dan pengembangan keterampilan manajemen, mereka menggunakan keahlian ini untuk mengembangkan ikatan emosional yang kuat dengan para pengikut. Pemimpin transformasional mempunyai keyakinan sukses untuk mengarahkan perubahan organisasi, karena pengikutnya mempunyai tingkat emosional tinggi untuk mewujudkan visi kepemimpinannya.

Kutipan ini menggariskan bahwa kepemimpinan transformaional menggiring SDM yang di pimpin ke arah tumbuhnya sensitivitas pembinaan dan pengembangan organisasi, pengembangan visi secara bersama, pendistribusian kewenangan kepemimpinan, dan membangun kultur oraganisasi. Pendapat berikutnya akan memberikan kesimpulan bahwa kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang mampu mengkomunikasikan visi sehingga menimbulkan emosi yang kuat dari para pengikutnya untuk menggapainya sehingga perubahan akan terus-menerus terjadi.

Rujukan:
1. Sudarman Danim, Menjadi Komunitas Pembelajar (kepemimpinan Transformasional Dalam Komunitas Organisasi Pembelajaran), (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hal. 53-54
2. Ricard L Hughes dkk, Leadership Enhancing tehe Lesson of Experience, (New York, Hill Compinies, 2002), hal. 416


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Konsep Kepemimpinan Transformasional

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Konsep awal tentang Kepemimpinan Transformasional ini dikemukakan oleh Burn yang menjelaskan bahwa kepemimpinan transformasional adalah sebuah peroses dimana pimpinan dan para bawahannya berusaha untuk mencapai tingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi. Untuk memperjelas posisi kepemimpian transformasional (mentransformasi nilai-nilai) ia membedakannya dengan kepemimpinan transaksional (jual beli nilai-nilai). Dalam pengertian lainnya, pemimpin transformasional mencoba untuk membangun kesadaran para bawahannya dengan menyerukan cita-cita yang besar dan moralitas yang tinggi seperti kejayaan, kebersamaan dan kemanusiaan.

Seorang pemimpin dikatakan transformasional diukur dari tingkat kepercayaan, kepatuhan, kekaguman, kesetiaan dan rasa hormat para pengikutnya. Para pengikut pemimpin transformasional selalu termotivasi untuk melakukan hal yang lebih baik lagi untuk mencapai sasaran organisasi.

Kepemimpian Transformasional ini memiliki keterkaitan dengan kepemimpinan karismatik. Karisma merupakan bagian yang sangat penting dalam Kepemimpinan Transformasional, namun karisma itu tidak cukup untuk melakukan proses transformasi. Perbedaan yang paling menonjol adalah para pemimpin transformasional mencoba untuk memberikan kekuasaan sesuai dengan kapasitas kewenangan masing-masing dan memberdayakan bawahan tetapi pada kepemimpinan karismatik boleh jadi pemimpin mencoba untuk membuat para pengikutnya tetap lemah agar selalu merasa tergantung dan patuh padanya.

Teori kepemimpinan transformasional merupakan pendekatan terakhir yang hangat dibicarakan selama dua dekade terakhir ini. Gagasan awal mengenai model kepemimpinan transformasional dikembangkan oleh James McGregor Burns yang menerapkannya dalam konteks politik dan selanjutnya ke dalam konteks organisasional oleh Bernard Bass.

Dalam upaya pengenalan lebih dalam tentang konsep kepemimpinan transformasional ini, Bass mengemukakan adanya kepemimpinan transaksional yaitu kepemimpinan yang memelihara atau melanjutkan status quo. Kepemimpinan jenis ini didefinisikan sebagai kepemimpinan yang melibatkan suatu proses pertukaran (exchange process) di mana para pengikut mendapat imbalan yang segera dan nyata untuk melakukan perintah-perintah pemimpin.

Sementara itu kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang dipertentangkan dengan kepemimpinan yang memelihara status quo. Kepemimpinan transformasional inilah yang sungguh-sungguh diartikan sebagai kepemimpinan yang sejati karena kepemimpinan ini sungguh bekerja menuju sasaran pada tindakan mengarahkan organisasi kepada suatu tujuan yang tidak pernah diraih sebelumnya. Para pemimpin secara riil harus mampu mengarahkan organisasi menuju arah baru.

Menurut Burn, pemimpin bukan saja pemimpin yang memungkinkan terjadinya proses pertukaran dengan kemauan atau keinginan para pengikutnya, atau Pemimpin Transaksional, apalagi bagi para pengikutnya yang baru belajar, tetapi dalam proses selanjutnya perlu pemimpin yang dapat mengangkat dan mengarahkan pengikutnya ke arah yang benar, ke arah moralitas dan motivasi yang lebih tinggi atau sering disebut sebagai Pemimpin Transformasional. James MacGregor Burns, dalam Leadership (pemenang Pulitzer Prize), � But transformational leadership ultimately becomes moral in that it raises the level of human conduct and ethical aspiration of both leader and the led, and thus it has a transforming effect on both.�

Kepemimpinan transformasional didefinisikan sebagai kepemimpinan yang melibatkan perubahan dalam organisasi (dipertentangkan dengan kepemimpinan yang dirancang untuk memelihara status quo). Kepemimpinan ini juga didefinisikan sebagai kepemimpinan yang membutuhkan tindakan memotivasi para bawahan agar bersedia bekerja demi sasaran-sasaran "tingkat tinggi" yang dianggap melampaui kepentingan pribadinya pada saat itu.

Perhatian orang pada kepemimpinan di dalam proses perubahan (management of change) mulai muncul ketika orang mulai menyadari bahwa pendekatan mekanistik yang selama ini digunakan untuk menjelaskan fenomena perubahan itu, kerap kali bertentangan dengan anggapan orang bahwa perubahan itu justru menjadikan tempat kerja itu lebih manusiawi. Di dalam merumuskan proses perubahan, biasanya digunakan pendekatan transformasional yang manusiawi, di mana lingkungan kerja yang partisipatif, peluang untuk mengembangkan kepribadian, dan keterbukaan dianggap sebagai kondisi yang melatarbelakangi proses tersebut, tetapi di dalam praktek, proses perubahan itu dijalankan dengan bertumpu pada pendekatan transaksional yang mekanistik dan bersifat teknikal, di mana manusia cenderung dipandang sebagai suatu entiti ekonomik yang siap untuk dimanipulasi dengan menggunakan sistem imbalan dan umpan balik negatif, dalam rangka mencapai manfaat ekonomik yang sebesar-besarnya.

Pemimpin transformasional bisa berhasil mengubah status quo dalam organisasinya dengan cara mempraktikkan perilaku yang sesuai pada setiap tahapan proses transformasi. Apabila cara-cara lama dinilai sudah tidak lagi sesuai, maka sang pemimpin akan menyusun visi baru mengenai masa depan dengan fokus strategik dan motivasional. Visi tersebut menyatakan dengan tegas tujuan organisasi dan sekaligus berfungsi sebagai sumber inspirasi dan komitmen.

Menindaklanjuti idenya Max Weber mengenai masyarakat law bureaucracy, John Gregorius Burns menggulirkan ide �kepemimpinan trnsformasional� pada tahun 1978. Menurut Burns, kepemimpinan transformasional adalah sebuah kepemimpinan yang melibatkan seluruh elemen anggota organisasi/masyarakat dalam kepemimpinannya. Oleh karena itu, kepimimpinan bukan hanya terdiri dari orang yang memimpin saja, akan tetapi juga melibatkan anggota (followers) dalam proses kepemimpinannya. Hal ini berdasarkan asumsi bahwa pada kondisi masyarakat yang sudah sangat berdaya; batas kapasitas pribadi antara yang dipimpin dengan pemimpin sudah sangat tipis (artinya sudah sama-sama pintar). Masyarakat tidak lagi membutuhkan sosok pimpinan yang serba bisa dan instruksionis, melainkan pemimpin yang bisa menampung aspirasi bersama untuk bersama-sama diwujudkan dalam tindakan kelembagaan yang sistematis.

Lebih lanjut, kepemimpinan transformasional lebih mengandalkan pertemuan visi kedepan yang dibangun berdasarkan konsesus bersama antara pemimpin dan anggota. Oleh karena itu pemimpin tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang bertugas untuk memberikan visi gerakan dan kemudian mendiseminasikan kepada anggotanya; peminpin justru menjadi interpreter (penerjemah) visi bersama para anggotanya untuk di transformasikan dalam bentuk kerja nyata kolektif yang mutual.

Rujukan:
1. Gary Yukl, Kepemimpinan Dalam Organisasi (Leadership in Organization), Edisi Bahasa Indonesia, Jakarta: Universitas Katolik Indonesia, 1994, hal. 29
2. Eisenbach, et.al., dalam Tjiptono, Fandy, dan Akhmad Syakhroza, "Kepemimpinan Transformasional", Manajemen dan Usahawan Indonesia, No. 9, Thn. XXVIII September 1999, hal. 5-13.
3. Bass dalam Hartanto, F. M., �Peran Kepemimpinan Transformasional dalam Upaya Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja di Indonesia, Makalah Seminar Departemen Tenaga Kerja, Jakarta, 1991.


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Senin, 28 Maret 2011

Konsep Perilaku Kepemimpinan

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Konsep Perilaku Kepemimpinan
1. Pengertian Perilaku Kepemimpinan
Perilaku kepemimpinan adalah perilaku khusus/pribadi para pemimpin terkait dengan tugas dan perannya sebagai seorang pemimpin. Perilaku kepemimpinan dipahami sebagai suatu kepribadian (personality) seorang pemimpin yang diwujudkan dalam aktivitas kepemimpinannya dalam kaitannya dengan mengelola tugas dan hubungan dengan bawahan/pegawai untuk mencapai tujuan organisasi.

Perilaku seorang pemimpin terkait erat dengan beberapa hal, yaitu kemampuan yang dimilikinya, karakter setiap bawahan yang dipimpinnya, jabatan atau posisi tertentu yang diembannya, dan budaya organisasi serta situasi kondisi yang menyertainya.

2. Teori Perilaku dan Urgensinya Dalam Kepemimpinan
Teori tentang perilaku manusia perlu diungkap mengingat seorang pemimpin harus mengetahui tingkat kamatangan para pegawainya agar bisa memimpin mereka secara efektif. Banyak pemimpin yang gagal karena tidak mengetahui dengan baik karakter dan kebutuhan pegawainya dalam melakukan pekerjaan.

a. Teori X dan Y Douglas Mc Gregaor
Karya Gregor yang paling dikenal umum adalah pembedaan dua teori dasar mengenai tingkah laku manusia dalam bukunya the Human Side of Enterprise, yang mengemukakan Teori X dan Teori Y.
Teori X beranggapan bahwa :
1) Rata-rata karyawan itu malas dan tidak suka bekerja.
2) Umumnya para karyawan tidak berambisi dan menghindar dari tanggung jawab.
3) Karyawan lebih suka dibimbing, diperintah dan dikendalikan.
4) Karyawan lebih mementingkan diri sendiri dan tidak memperdulikan sasaran organisasi.

Oleh karena itu, para karyawan harus dikendalikan dan diarahkan agar organisasi dapat mencapai sasarannya. Tipe kepemimpinan Teori X adalah otoriter sedangkan gaya kepemimpinannya berorientasi pada prestasi.
Sedangkan Teori Y beranggapan bahwa:
1) Rata-rata karyawan rajin, dan memiliki semangat kerja yang tinggi.
2) Lazimnya karyawan dapat memikul tanggung jawab dan berambisi untuk maju.
3) Karyawan selalu berusaha untuk mengembangkan dirinya dalam mencapai sasaran organisasi.
4) Karyawan pada umumnya selalu mengutamakan kepentingan bersama dan organisasinya.

Dalam Teori Y ini, dedikasi dan partisipasi akan lebih menjamin tercapainya sasaran organisasi. Dengan demikian, manajemen partisipasi harus dikembangkan. Tipe kepemimpinan teori Y adalah demokratis sedangkan gaya kepemimpinan menuju keseimbangan antara tugas dan kompromi (hubungan).

b. Teori 3 Perilaku D. Young
Young membedakan manusia manjadi tiga golongan menurut arah perhatiannya, yaitu:
1) Tipe Extrovert
Seorang bawahan disebut seorang yang extrovert jika perhatiannya terutama ditujukan ke sekelilingnya. Orang seperti ini biasanya memiliki ciri berhati terbuka, gembira, ramah tamah, sosial dan menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan kelompoknya.
2) Tipe Introvert
Bawahan yang bertipe introvert perhatiannya terutama diarahkan ke dalam dirinya sendiri. Orang seperti ini biasanya memiliki ciri egoistis, acuh tak-acuh, senang menyendiri, pendiam, kurang bisa bergaul dan selalu mendahulukan kepentingan pribadinya.
3) Tipe Ambiverse
Tipe ini merupakan perpaduan dari dua tipe sebelumnya. Dalam hal ini, seorang bawahan sangat susah ditebak sifat dan karakternya. Pemimpin harus hati-hati dalam menghadapi bawahan yang bertipe seperti ini.

c. Teori Tuju Prilaku Clare W. Graves
Graves mengklasifikasi prilaku manusia menjadi tujuh tipe yaitu:
1) Tipe Austik
Seorang bawahan memiliki sifat ini hidupnya seperti tumbuh-tumbuhan. Ia kurang bahan untuk hidup dan tidak punya daya juang dan dalam arti umum tak dapat dikaryakan.
2) Tipe Animistik
Bawahan yang bertipe animistik biasanya sadar akan lingkungannya, tetapi kurang memahaminya. Motifnya yang paling dominan adalah mempertahankan kelangsungan hidupnya (to survive) tetapi masih percaya dan dikuasai oleh hal-hal klenik dan praktek-praktek kehidupan yang aneh-aneh.
3) Tipe Kejutan
Seseorang yang bertipe ini takut akan adanya daya-daya yang bertentangan dalam dirinya sendiri. Segala hal yang sifatnya baru selalu jadi beban hidupnya. Dia pasif dalam inovasi dan kreativitas. Motif utamanya adalah keamanan dan perlindungan status quo.
4) Tipe Agresif dan Gila Kuasa
Di antara pegawai atau bawahan pasti ada yang memiliki sifat suka menantang tradisi dan tata tertib yang telah mapan dan ia lebih suka mengatur dirinya sendiri. Motifnya yang paling dominan adalah kekuasaan dan mungkin juga prestise.
5) Tipe Agresif Individualistis
Pegawai yang bertipe demikian biasanya percaya akan dirinya sendiri, bertanggung jawab, berkiblat pada tujuan, bukan pada sarana. Ia benci akan perincian metode, dia tidak menyukai tugas yang dipaksakan. Motif dominannya adalah pencapaian prestasi.
6) Tipe Individualis Suka Damai
Seorang pegawai bertipe ini memiliki sifat berorientasi pada tujuan dan berharap dapat ikut serta dalam menentukan setiap target organisasi. Motif dominannya adalah prestasi dan harga diri dan sangat acuh-tak acuh terhadap penghargaan maupun kritikan dari orang lain.
7) Tipe Sosiosentris
Tipe ini dimiliki oleh pegawai yang selalu rindu dengan suasana kerja yang menyenangkan. Orang seperti ini selalu mendahulukan masalah-masalah sosial dari pada masalah-masalah material atau pribadi. Dia sangat menyukai kegiatan kelompok dan segala aktivitas yang berbentuk tim kerja. Motif dominannya adalah prestasi dan hubungan dalam kelompok.

Dalam proses kepemimpinan di lembaga pendidikan, seorang pemimpin pasti akan dihadapkan pada berbagai karakter individu bawahan yang sangat beragam. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus jeli dan teliti melihat berbagai perbedaan tersebut dan selanjutnya memilih tipe kepemimpinan yang sesuai dengan karakter para bawahannya.

Mempraktekkan teori ditas, misalnya bagi bawahan/pegawai yang memiliki sifat X, maka seorang pemimpin akan efektif dalam menggerakkan mereka bila gaya kepemimpinan otoriter diterapkan. Hal ini bukan berarti dengan serta merta seorang pemimpin bisa bertindak semaunya, tetapi pendekatan persuasif harus selalu diutamakan. Kebutuhan akan prestasi (need for achievement) harus menjadi pertimbangan utama dalam memimpin pegawai yang berkarakter demikian. Sama halnya dengan bawahan atau pegawai yang memiliki tipe introvert, ambiverse dan autis, maka gaya dan orientasi kepemimpinan yang demikian lebih efektif dalam mencapai sasaran organisasi.

Selanjutnya, bagi pegawai yang memiliki ciri Y atau tipe lain yang menyerupainya, maka gaya kepemimpinan demokratis akan lebih efektif dalam menggerakkan mereka. Sedangkan dalam mencapai tujuan organisasi, maka kebutuhan akan afiliasi (need for affiliation) harus menjadi pertimbangan utama.

Adapun bagi pegawai yang memiliki karakter individual yang kuat dan motivasi kerta yang tinggi, maka kebutuhan akan kekuasaan (need for power) harus menjadi pertimbangan utama seorang pemimpin. Untuk menciptakan komitmen dalam diri pegawai yang demikian, pendekatan otoriter akan lebih efektif sedangkan untuk mengembangkan mereka, lebih sesuai dengan pendekatan demokratis.

Rujukan:
1. M. Shohib dalam Sinopsis Tesis Perilaku Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Inovasi Lembaga Pendidikan Madrasah, 2001, hal. 7
2. Patar Rumapea, Pengaruh Kekuasaan Legitimasi, Penghargaan, Paksaan, Keahlian dan Referensi terhadap Kinerja Karyawan, dalam Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Tahun 9, No. 3, 2004, hal. 567
3. Dessler., Manajemen Personalia, Edisi III, Terjemahan Agus Dharma, Jakarta: Erlangga, 1986, hal. 19
4. Malayu S.P. Hasibuan, Manajemen : Dasar, pengertian dan Masalah., Jakarta: CV Haji Masagung, hal. 179-180


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Faktor Penyebab Perubahan Makna

Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang Faktor Penyebab Perubahan Makna. Diharapkan makalah pendidikan/artikel pendidikan singkat ini memberi pemahaman tentang  Faktor Penyebab Perubahan Makna sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema  Faktor Penyebab Perubahan Makna.
--------------


Faktor Penyebab Perubahan Makna
Perubahan suatu makna kata disebabkan oleh beberapa faktor. Beberapa faktor yang dimaksud adalah (a) perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, (b) perkembangan sosial-budaya (at-tathawur al-ijtima�iy wats tsaqafi) (c) penyimpangan bahasa (al-inhiraful lughawi), (d) perbedaan bidang pemakaian, dan (e) adanya asosiasi.

A. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) berkembang begitu cepat dan menyentuh hampir seluruh kehidupan masyarakat. Perkembangan IPTEK ini berimplikasi pada perkembangan bahasa, khususnya perkembangan kosa kata yang mengacu pada benda-benda dari produk IPTEK tersebut. Keterkaitan erat antara perkembangan IPTEK dan bahasa ini karena bahasa itu sendiri sebagai media untuk mengkonsepsikan setiap peristiwa, benda, dan objek-objek lainnya. Dengan ungkapan lain, fungsi bahasa adalah sebagai alat ekspresi dan komunikasi.

Ada beberapa cara yang berkaitan dengan pengembangan bahasa, khususnya pengembangan kata karena akibat perkembangan IPTEK. Pertama bisa berupa serapan dari bahasa penutur pengembang IPTEK, kedua kemungkinan (meskipun kemungkinan kedua ini kecil) membuat padanan kata baru, dan ketiga dengan cara menggunakan kata yang sudah ada dengan memodifikasi atau mengubah makna asalnya. Dalam konteks ini, cara ketiga inilah (perubahan makna) yang menjadi bahasan dalam tulisan ini.

Dalam bahasa Indonesia, Chaer (2002) memberikan contoh perubahan makna akibat perkembangan IPTEK pada kata berlayar. Kata ini pada awalnya bermakna �perjalanan di laut (di air) dengan menggunakan perahu atau kapal yang digerakkan dengan tenaga layar�. Walaupun sekarang kapal-kapal besar tidak lagi menggunakan layar, tetapi sudah menggunakan tenaga mesin, bahkan juga menggunakan tenaga nuklir, tetapi kata berlayar masih digunakan.

Fenomena perubahan makna akibat perkembangan IPTEK dalam bahasa Arab dapat kita lihat pada kata ????, ?????, ?????, dan lain-lain. Untuk lebih jelasnya, perhatikan penggunaan ketiga kata sebagai berikut.

Contoh A
1- ..... ???????? ?????? ???????? ??????????? ??????? ???????? ???????????? ?????????? ???? ????????????? ????????? ???????????? ??????? ??? ??????????? ?????????? ??????? ???? ?????????? ????????? ??????? ????????????????? ???????? ?????????? ( ??????? ?????????: 2).?
2- ??? ???? ???? ???????? ???? ?????? ?? ???? ???? ?????? ??? ??????? ?? ???? ?????? (????: 10).
3- ????? ????? ??????? ?????? ????? ????? ??? ????? ??? ??? ?????? ?????? ????? ???? ??? ??????. (????: 19).
4- ???? ????? ????? ????? (????????: 8).

1. .... Aku didatangi oleh dua malaikat yang berwibawa. Aku ketakutan dan gemetar. Aku dipegang dan didudukkan. Mereka akan menanyaiku. Tiba-tiba aku mendengar panggilan yang tidak jelas sumbernya (suara tanpa rupa), �hendaklah kamu berdua (Malaikat Munkar dan Nakir) meninggalkannya (Umar bin Khattab), janganlah kamu berdua menakut-nakutinya, karena Aku mengasihinya.

2. Seseorang di antara mereka berkata: "Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat."

3. Kemudian datanglah kelompok orang-orang musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil air, maka dia menurunkan timbanya dia berkata: "Oh; kabar gembira, ini seorang anak muda!" Kemudian mereka menyembunyikan dia sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan (Yusuf, 19)

4. Maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.

Contoh B
1- ?? ????? ??? ??????? (?? ??????) ???????? ????????
(http:/news:bbc.co.uk/hi/sci_tech/newsid.)
2- ??????? ??????????? ???????????? ???????? ?????? ???????? ??? ??????????? ???????? ?????? ?????? ?? ???????? ?????? ????????? ?????????? (?? ???????).
3- ????? ?? ??? ???????.

1. Tidak ada korelasi antara telpon seluler (Hp) dengan penyakit kanker.
2. Firnando Alonso berkebangsaan Spanyol pada hari Ahad yang lalu di Brazil dinobatkan sebagi pemenang termudah pada kelompok pertama untuk lomba reli mobil.
3. Ayahku membelikan saya computer.

Kata ??????, ???????, dan ??????? pada contoh di atas mengalami perubahan makna. Perubahan makna ini dipengaruhi oleh perkembangan IPTEK. Kata ?????? pada contoh A (1) diartikan suara tanpa rupa, yakni petutur mendengar suara tetapi tidak diketahui wujud konkret dari sang penuturnya. Dengan ditemukan alat komunikasi yang baru, kata ?????? berubah maknanya menjadi telepon atau hand phone (Hp) sebagaimana pada contoh B (1).

Kata ????? pada ayat 10 dan 19 surah Yusuf di atas (contoh A 2 dan 3) berbeda dengan makna yang digunakan dewasa ini. Dalam kedua ayat tersebut kata ????? berarti sekelompok musafir. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Ash-Shabuni, II, 1976), yang dimaksud dengan kata ????? pada ayat 19 di atas adalah sekelompok musafir yang melewati jalan. Yang dimaksud jalan di sini adalah suatu tempat Yusuf dibuang oleh saudara-saudaranya (kecuali Benyamin) ke sumur. Menurut Ibnu Abbas sebagaimana yang dikutip oleh Ash-Shabuni, II, 1976, yang dimaksud dengan ???? ????? adalah sekelompok kaum yang melakukan perjalanan dari Madyan ke Mesir; tiba-tiba di tengah jalan mereka tersesat dan bingung sehingga akhirnya mereka tiba di suatu jalan yang ada sumurnya tempat Yusuf dibuang dan sumur tersebut jauh dari keramaian. Menurut Shihab (2004), kata ????? berasal dari kata ??? yang berarti berjalan. Kata ini pada mulanya dipahami dalam arti kelompok yang banyak berjalan. Kata ini merupakan salah satu contoh dari pengembangan makna kata. Dikarenakan oleh perkembangan teknologi transportasi, kata ini sekarang berarti �mobil�.

Hal yang sama juga terjadi pada kata ??????? . Kata atau frase ini berasal dari kata ???-????- ?????. Pada contoh contoh A (4) berarti diperiksa atau dihitung dan kata ??????? berarti alat penghitung. Kata ini berubah makna (dimodifikasi maknanya) menjadi �komputer� seiring dengan perkembangan teknologi informasi.

B. Perkembangan Sosial Budaya
Dinamika kehidupan dalam masyarakat dapat menghasilkan suatu perubahan sosial-budaya, dan perubahan sosial-budaya juga berdampak pada kegiatan berbahasa, khususnya penggunaan makna kata. Sebagaimana dikemukakan oleh Chaer (2002), bahwa perkembangan di bidang sosial kemasyarakatan dapat menyebabkan terjadinya perubahan makna. Sebuah kata yang pada mulanya bermakna �A�, lalu berubah menjadi bermakan �B� atau �C�. Jadi bentuk katanya tetap sama, tetapi konsep makna yang dikandung sudah berubah.

Menurut Umar (1982), perubahan makna dalam bahasa Arab karena perubahan sosial-budaya banyak terjadi pada istilah-istilah keagamaan, misalnya ?????? ????? ??????? ??????? ???????. Kata ?????? �salat� semula bukanlah istilah islami, tetapi suatu istilah atau kata yang digunakan oleh orang-orang Arab sebelum Islam datang. Kata ?????? ini pada awalnya berarti do�a dan istighfar (Bik, tanpa tahun).

Di dalam al-Qur�an, surah At-taubah, ayat 103 kata ?????? berarti do�a sebagai berikut.
??? ????? ?? ????? ??? ???
dan berdo�alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Dalam surah Al-Haj, ayat 40 berikut ini, kata ????? bentuk jamak dari ???? berarti rumah-rumah ibadah orang Yahudi. Dengan bahasa yang lain tetapi maksudnya sama, Ash-Shabuni, II (1976) memaknai kata ????? menjadi ????? ??????. Dengan demikian, dengan konteks sosial yang berbeda, kata yang sama dapat berbeda maknanya.

(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah". Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

Setelah Islam mensyariatkan umat Islam umtuk melakukan shalat sebagaimana yang kita pahami sekarang ini, kata ?????? yang semula berarti do�a, istighfar, dan rumah-rumah ibadah orang Yahudi, berubah mejadi suatu konsep peribadatan ritual yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam (Rasjid, 1997). Oleh karena itu sekarang kita kenal shalat maghrib, shalat isya�, shalat subuh, shalat dzuhur, shalat asar, dan lain-lainnya.
Hal yang sama juga terjadi kata ????? yang semula berarti menahan dan meninggalkan sesuatu, atau menurut Bik (tanpa tahun) ??????? ?? ????? ?????? dalam konteks sosial-keagamaan menjadi ??????? ?? ????????. Dalam al-Qur�an, surah Maryam ayat 26, kata ????? dimaknai meninggalkan berbicara, atau oleh Ash-Shabuni, II (1976) kata ???? berarti ?????? ?????? .

Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini".

Demikian pula, kata ???? semula berarti �menyengaja sesuatu� atau ?????, selanjutnya makna kata ini berubah menjadi suatu bentuk ibadah, yakni �bertujuan mengunjungi ka�bah untuk melakukan beberapa amal ibadah dengan syarat-syarat tertentu (Rasjid, 1997). Demikian pula kata ?????? berarti membersihkan dengan air (???? ??????: ???? ?????). Selanjutnya karena konteks sosial keagamaan, kata ?????? menjadi �mengambil air untuk shalat dengan cara-cara tertentu.

C. Penyimpangan bahasa (al-inhiraful lughawi)
Pengguna bahasa kadang melakukan penyimpangan makna kata dengan kata lain yang maknanya lebih dekat atau mirip dan gejala ini mudah diterima oleh penutur bahasa (Umar, 1982). Menurut Umar (1982), penyimpangan bahasa ini terjadi akibat kesalahpahaman, ketaksaan, dan ketidakjelasan. Pada saat itu, para linguis tidak serta merta melakukan perbaikan, sehingga mayarakat tidak sadar dan terbiasa menggunakan penyimpangan bahasa itu. Umar (1982) memberikan contoh penggunaan kata ????? yang mempunyai beberapa makna yang berbeda. Ia bisa berarti ?????? ??????? dan ??????. Kata ????? bisa berarti ????? dan bisa berarti ????????.
Menurut Umar (1982), anak-anak juga melakukan hal ini dan mereka lebih mementingkan aspek bentuk daripada fungsi. Mereka kadang-kadang menggunakan kata ????? dan ??????? untuk kata ????. Mereka kadang-kadang juga mencampuradukkan penggunaan kata yang berkaitan dengan berbagai macam burung, misalnya penggunaan kata ??????? untuk ??????? dan kata ??????? �burung rajawali� untuk ??????.

D. Perbedaan Bidang Pemakaian
Suatu bidang kajian, keilmuan, atau kegiatan tertentu memiliki kekhasan dalam penggunaan kosa kata. Istilah-istilah seperti striker, gelandang kanan, penjaga gawang, tendangan pojok, tendangan penalti, pemain belakang, menghadang bola, dan lini tengah merupakan kosa kata yang lazim digunakan dalam olahraga sepak bola. Di bidang Fisika kita mengenal istilah Vektor, skalar, hukum Newton, massa, gravitasi, panumbra, dan lain-lain.
Kosa kata yang lazim digunakan di bidang tertentu juga dapat digunakan dalam bidang lain yang bersifat umum. Dalam bahasa Indonesia, kata menggarap yang berasal dari bidang pertanian dengan segala macam derivasinya seperti pada frase menggarap sawah, tanah garapan, dan petani penggarap, kini banyak digunakan dalam bidang-bidang lain dengan makna �mengerjakan� misalnya menggarap skripsi, menggarap usul para anggota, menggarap generasi muda, dan menggarap naskah drama (Chaer, 2002).

Kesimpulan yang dapat ditarik dari gejala ini adalah bahwa kata yang sama memiliki arti atau makna berbeda apabila digunakan dalam bidang yang berbeda pula. Dengan ungkapan yang berbeda, Pateda (2001) menyatakan bahwa lingkungan masyarakat (2001) menyebabkan perubahan makna. Berikut ini contoh penggunaan kata cetak yang dikutip dari Pateda (2001) dan Anda diminta membandingkan dan menjelaskan makna kata yang dicetak miring pada masing-masing kalimat.

Contoh A
1) Buku itu dicetak di PT Asdi Mahasatya, Jakarta.
2) Cetakan batu bata itu besar-besar.
3) Pemerintah menggiatkan pencetakan sawah baru bagi petani.
4) Ali mencetak 5 gol dalam pertandingan itu.

Perubahan makna atas dasar bidang pemakaian dalam bahasa Arab dapat dilihat pada contoh B berikut ini.

Contoh B
1- ?????? ?? ??????? ???????? ?? ???? ???????.
2- ?????? ?? ???? ????? ???? ??? ??????.
3- ?. ???? ??????? ???? ??????? ?????? "???????".
4- ???? ??????? ?????? ???? ??????? ?? ?????? ?2005??.
5- ?????? ????? ?? ???? ????? ??? ????, ??? ??? ????? ???? ?????? ???? ????? ???? ????? ??? ???? (??????: 92).

1. Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian.
2. Ibadah salat merupakan kewajiban paling utama yang diperintah untuk dilaksanakan.
3. Muhammad Ismail adalah pemimpin redaksi majalah �Al-mujtama��.
4. Komperensi tingkat tinggi untuk Partai/kelompok Pembebasan (Hizbut Tahrir) telah dilakasanakan pada bulan Agustus 2005.
5. Dan tidak layak bagi soerang mu�min membunuh seorang mu�min (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barang siapa membunuh seorang mu�min karena tersalah, (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (Qur�an, surah Annisa� ayat 92).

Pada contoh B (1) sampai B (4) terdapat kosa kata yang sama. Kalimat B (1) dan B (2) sama-sama memiliki kata ?????. Demikian pula, kalimat B (3) dan B (4) juga sama-sama memiliki kata ???????. Permasalahannya adalah apakah kata yang sama pada contoh B di atas juga memiliki acuan makna yang sama. Jawabannya tentu tidak sama. Ketidaksamaan atau perbedaan makna pada kata yang sama tersebut muncul karena kata-kata yang sama tersebut diletakkan dalam bidang yang berbeda.

Kata ????? pada contoh B (1) berada pada bidang bahasan penelitian, sehingga arti yang muncul dari kata tersebut adalah hipotesis. Sementara itu, kata ????? pada contoh B (2) bukan lagi diartikan hipotesis, melainkan diartikan kewajiban, karena kata ini berada pada bidang keagamaan, khususnya bidang Ilmu Fiqh. Perubahan makna dari kewajiban ke hipotesis atau sebaliknya disebabkan oleh penggunaan kata tersebut pada kekhasan bidang atau keilmuan.

Demikian pula, kata ??????? pada contoh B (3) dan (4) juga memiliki makna yang berbeda, meskipun keduanya sama. Kata ??????? pada B (3) bersentuhan dengan wilayah jurnalistik, sehingga makna yang muncul adalah redaksi. Jadi ???? ??????? berarti �Pemimpin Redaksi�. Sementara itu, Kata ??????? pada B (4) bersentuhan dengan wilayah politik, sehingga kata tersebut berarti �pembebasan�. Jadi ??? ??????? berarti �Partai Pembebasan�. Hal yang sama juga terjadi pada B (5). Kata ??????? pada B (5) ini berkaitan dengan hukuman bagi orang yang melakukan pembunuhan (masalah kirminal) dan kata ??????? juga berarti membebaskan (membebaskan budak muslimah).

E. Adanya asosiasi
Perubahan makna juga dapat terjadi karena adanya asosiasi antara kata yang digunakan dan hal atau peristiwa lain yang berkaitan dengan kata tersebut sehingga memunculkan makna baru. Chaer (2002) memberikan contoh kata amplop yang berasal dari bidang administrasi atau surat-menyurat, makna asalnya adalah �sampul surat�. Ke dalam amplop itu, selain bisa dimasukkan surat, juga bisa dimasukkan benda lain, misalnya uang. Oleh karena itu, dalam kalimat Beri saja amplop, maka urusan pasti beres, kata amplop di sini bermakna uang.

Dalam bahasa Arab juga didapati kata atau istilah yang berubah makna asalnya karena adanya asosiasi. Menurut informasi dari salah seorang yang pernah menetap di Siria, kata ????????? yang makna asalnya istirahat dalam lingkungan tertentu bisa diasosiasikan dengan �tawaran kepada pria untuk tidur bersama dengan �Pekerja Seks Komersial (PSK)�. Kata ini konon dapat diungkapkan oleh PSK itu sendiri dan bisa diungkapkan oleh �makelar� atau �pemilik mucikari�. Kata lain misalnya ???????, makna asalnya �manisan� atau �kemanisan�, tetapi dalam lingkungan tertentu bisa diasosiasikan dengan �upah�, �tip�, atau �bingkisan�.


--------------
Demikian artikel/makalah tentang  Faktor Penyebab Perubahan Makna. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang  Faktor Penyebab Perubahan Makna. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, tulis permohonan, kritik, sarannya melalui komentar.

Makna Idiomatis dan Makna Peribahasa

Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang Makna Idiomatis dan Makna Peribahasa. Diharapkan makalah pendidikan/artikel pendidikan singkat ini memberi pemahaman tentang  Makna Idiomatis dan Makna Peribahasa sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema  Makna Idiomatis dan Makna Peribahasa.
--------------

Makna Idiomatis dan Makna Peribahasa
Idiom adalah satuan-satuan kebahasaan (kata, frasa, dan kalimat) yang maknanya tidak dapat diketahui dari makna leksikal unsur-unsurnya maupun dari makna gramatikal satuan tersebut. Sebagai contoh kata ??????? � ??????? - ???????? - ???????? mempunyai dasar berupa nomina- ??? .??? - ???? - ??? Menurut kaidah gramatikal kata ??????? �menjadi batu� ???????�menjadi kayu� ???????? �menjadi mendung�, dan ???????? �menjadi es� bermakna �menjadi hal yang dikemukakan pada bentuk dasar�. Tetapi kata ???????? yang berasal dari bentuk dasar berupa nomina ???? dan mengalami proses gramatika yang sama dengan keempat kata terdahulu tampaknya tidak memiliki makna �menjadi hal yang dikemukakan pada bentuk dasar�. Atau secara singkat, kata ???????? tidak bermakna �menjadi pasar�, melainkan bermakna �berbelanja�.

Sebagai contoh lain, kata �- ????? ????? � ????? yang berasal dari ajektiva �????? ???? - � ????mempunyai makna mentransitifkan atau menjadikan sesuatu sebagaimana dinyatakan pada dasar. Tetapi makna tersebut tidak terdapat pada kata ?????? yang juga berasal dari ejektiva ????. Kata ?????? tidak lain bermakna �merawat hal yang ada pada bentuk dasar atau berupaya menghilangkan sesuatu yang dinyatakan pada bentuk dasar�.

Contoh yang berupa frasa dapat dikemukakan, misalnya ????? ??????? tidaklah bermakna �meminum rokok ataupun memasukkan hal yang dinyatakan pada kata kedua ke dalam perut melalui mulut�, sebagaimana frasa ??? ????? �??? ????? - ??? ?????? . Frasa ??? ??????? berarti �mengisap rokok atau merokok� (????????) .Jadi makna yang terkandung pada kata ???????? - ?????? dan frasa ??? ??????? bukanlah makna leksikal atau gramatikal, melainkan makna idiomatis. Termasuk dalam kategori idiom dalam bahasa Arab adalah pasangan khas verba dengan huruf jar (preposisinya), misalnya ?????? ?? �senang� dan ?????? ??? �benci�. Jadi makna idiomatis adalah makna satuan kebahasaan yang menyimpang dari makna leksikalnya ataupun dari makna gramatikal unsur-unsur pembentuknya.

Idiom dapat dibedakan menjadi dua (Pateda, 2001), yaitu idiom penuh dan idiom sebagian. Idiom penuh adalah idiom yang unsur-unsurnya secara keseluruhan sudah merupakan satu kesatuan dengan satu makna. Contoh:

(40) ??? ??????
(41) ??? ??????
Frasa ??? ?????? terbentuk dari kata ??? yang makna leksikalnya �bangunan tempat tinggal� dan ?????? yang makna leksikalnya �sepi, sunyi�,. Makna leksikal dari setiap kata tidak lagi tampak pada konstruksi tersebut. Frasa ??? ?????? tidak bermakna rumah sepi atau rumah untuk menyepi, tetapi bermakna �tempat buang hajat�. Frasa ??? ?????? yang bermakna �orang atau pihak yang dipersalahkan atau dijadikan sebagai dalih atas terjadinya sesuatu� tidak lagi mengandung makna leksikal unsur-unsurnya, yaitu ??? �kambing� dan ?????? �tebusan�.

Adapun idiom sebagian masih menampakkan salah satu unsur dengan makna leksikalnya. Misalnya kata ?? �wanita yang melahirkan� dan ?????? �kitab suci umat Islam� membentuk konstruksi ?? ?????? �surat Al-Fatihah� (42). Jadi makna leksikal dari unsur kedua masih terwakili pada makna keseluruhan konstruksi tersebut. Frasa ??? ????? (43) mempunyai makna �uang awal usaha atau modal�. Frasa tersebut terdiri atas unsur ??? �kepala atau bagian paling atas dari suatu makhluk bernyawa� dan ????? �harta, kekayaan�. Jadi makna ????? sebagai unsur kedua juga masih tampak pada makna konstruksi tersebut secara utuh.

(42) ?? ??????
(43) ??? ?????
Idiom berbeda dari peribahasa. Sebagaimana telah dikemukakan, idiom merupakan satuan kebahasaan yang maknanya �menyimpang� dari makna unsur-unsurnya. Adapun peribahasa merupakan satuan kebahasaan yang digunakan sebagai perbandingan, tetapi maknanya masih dapat dilacak dari makna leksikal dan gramatikal unsur-unsur pembentuknya. Sebagai contoh, satuan bagai air dan minyak merupakan satuan yang terdiri atas unsur air �benda cair sebangsa air minum� dan unsur minyak �benda cair yang mudah terbakar�. Di dalam satuan tersebut, kedua unsurnya tetap memiliki makna leksikalnya masing-masing. Tetapi satuan tersebut justru digunakan sebagai pembanding suatu hal di luar satuan itu sendiri, yaitu keadaan dua hal yang tidak bisa bersatu atau bercampur. Dua hal yang tidak bisa bersatu atau bercampur disamakan atau dibandingkan dengan air dan minyak yang mempunyai sifat sulit bercampur antarkeduanya.

Dalam bahasa Arab dapat dikemukakan dua contoh berikut.
(44) ??? ????? ?????? ???? ?????
(45) ??? ?? ???? ??? ??????? ???????

Satuan (44) berpadanan dengan nasi telah menjadi bubur. Unsur-unsur pada satuan (44) digunakan dengan makna leksikalnya masing-masing. Satuan tersebut bermakna harfiah �tidaklah akan kembali hari-hari yang telah berlalu�. Makna tersebut digunakan sebagai pembanding suatu hal yang ada di luar atau yang tidak dinyatakan. Dalam hal ini yang yang dibandingkan adalah kesempatan, waktu, atau kegiatan dan kehidupan yang telah lewat atau telah dikerjakan. Kesempatan, waktu, kehidupan yang telah lewat atau telah dikerjakan tidak datang lagi sebagaimana hari-hari yang telah berlalu tidak akan datang lagi. Kalaupun hari-hari dalam seminggu terus datang berulang, sesunguhnya hari-hari dalam minggu ini bukanlah hari-hari yang datang minggu lalu.

Satuan ??? ?? ???? ??? ??????? ??????? �engkau tidak memetik anggur dari durian� digunakan sebagai pembanding hal yang ada di luar satuan tersebut, yaitu hasil perbuatan yang diperoleh seseorang itu sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya. Yang menanam durian, akan memetik durian sebagaimana yang menanam anggur akan memetik anggur. Berbuat baik akan memperoleh hasil yang baik. Jadi satuan (45) mempunyai makna �hasil perbuatan sesuai dengan perbuatannya�. Makna tersebut dapat dilacak dari makna leksikal unsur-unsur dalam satuan. Satuan (45) tampak berpadanan dengan satuan BI barang siapa menanam menuai.
Dalam BA, hal yang dibandingkan kadang-kadang dinyatakan secara eksplisit dalam teks, misalnya:
(46) ?????? ???? ?????? ??? ???? ????? ?????

Satuan (46) terdiri atas dua klausa, (a) ?????? ???? ?????? �senda gurau memakan kewibawaan� dan (b) ???? ????? ????? �api memakan kayu bakar�. Klausa (b) merupakan pembanding dari klausa (a). Jadi makna peribahasa satuan tersebut pada dasarnya sudah dinyatakan pada klausa (a). Adapun maksud dari satuan tersebut adalah anjuran atau peringatan untuk tidak banyak bersenda gurau.


--------------
Demikian artikel/makalah tentang  Makna Idiomatis dan Makna Peribahasa. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang 
Makna Idiomatis dan Makna Peribahasa
. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, tulis permohonan, kritik, sarannya melalui komentar.