Tampilkan postingan dengan label PAKEM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PAKEM. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Maret 2011

Hakikat Pembelajaran Menyenangkan

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Pembelajaran Menyenangkan
A. Definisi Pembelajaran Menyenangkan
Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia, menyenangkan berasal dari kata senang, yang berarti, puas, lega, gembira, riang. Sedangkan menyenangkan mempunyai maksud menjadikan senang, gembira, lega, puas.

Pembelajaran menyenangkan dalam PAKEM merupakan suasana belajar mengajar yang dapat memusatkan perhatiannya secara penuh saat belajar sehingga curah waktu perhatiannya (time on task) tinggi (Depdiknas:2004). Pembelajaran menyenangkan dapat diartikan sebagai pembelajaran yang dapat menarik perhatian siswa dengan berbagai metode yang diterapkan, sehingga saat pembelajaran berlangsung siswa tidak merasa bosan.

B. Aspek Pembelajaran Menyenangkan
Menjadikan pembelajaran yang menyenangkan, akan menjadikan siswa suka dan senang menerima pelajaran yang disampaikan. Ada beberapa aspek menyenangkan dalam pembelajaran.
1). Bermain
Bermain merupakan adalah hal yang paling menyenangkan, dengan bermain dalam kelas siswa menjadi enjoy dalam menerima pelajaran. Salah satu contoh bermain dalam kelas adalah playing card (bermain kartu), bermain tebakan, bermain peran dan lain-lain.

2). Merangsang dengan hal-hal yang menarik/disukai.
Tugas pendidik dalam kelas adalah menyelesaikan pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran, selain itu guru juga sebagai pembangkit semangat dalam belajar, dengan memberikan motivasi, dan menyampaikan dengan metode sesuai dengan karakter siswa, sehingga mereka suka dan tertarik untuk belajar. Tidak semua mata pelajaran disukai dengan bakat dan minat, tetapi bisa dengan metode pembelajaran yang tepat.

3). Penuh pujian
Pujian merupakan salah satu bentuk penguatan dalam pembelajaran adalah dengan pujian, akan menimbulkan semangat pada diri siswa, mereka termotivasi dengan ucapan-ucapan yang menyenangkan dan menantang.

4). Suasana kelas
Suasana kelas pengaruh terhadap pembelajaran, siswa akan bersemangat dengan banyak gambar dan tulisan di dinding untuk memacu semangat belajar (Freeman & Munandar, 2001:200-2001).


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Hakikat Pembelajaran Efektif

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


A. Definisi Pembelajaran Efektif
Efektif adalah perubahan yang membawa pengaruh, makna dan manfaat tertentu (Syah, 1999:107). Pembelajaran yang efektif ditandai dengan sifatnya yang menekankan pada pemberdayaan siswa secara aktif. Pembelajaran menekankan pada penguasaan pengetahuan tentang apa yang dikerjakan, tetapi lebih menekankan pada internalisasi, tentang apa yang dikerjakan sehingga tertanam dan berfungsi sebagai muatan nurani dan hayati serta dipraktekkan dalam kehidupan oleh siswa (E. Mulyasa, 2003:149).

Pembelajaran efektif juga akan melatih dan menanamkan sikap demokratis bagi siswa. Lebih dari itu pembelajaran efektif menekankan bagaimana agar siswa mampu belajar dengan cara belajarnya sendiri. Melalui kreativitas guru, pembelajaran di kelas menjadi sebuah aktivitas yang menyenangkan. Perwujudan pembelajaran efektif dan memberikan kecakapan hidup kepada siswa.

B. Cara Belajar Efektif
Cara belajar yang efektif dapat membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan yang diharapkan sesuai dengan tujuan instruksional yang ingin dicapai. Untuk meningkatkan cara belajar yang efektif perlu diperhatikan beberapa hal:
1. Perlunya bimbingan
Hasil belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kecakapan dan ketangkasan belajar pada setiap individu. Walau demikian, ada beberapa petunjuk umum tentang cara-cara belajar yang efektif, yakni memberi petunjuk saat mereka belajar dan mengawasi, membimbing sewaktu belajar. Hasilnya akan lebih baik lagi kalau cara-cara belajar dipraktekkan dalam tiap pelajaran yang diberikan (Slameto, 1991:75-76).

2. Kondisi strategi belajar
i. Kondisi internal
Yaitu kondisi yang ada pada diri siswa itu sendiri, misalnya kesehatan, keamanannya, ketentramannya, dan sebagainya.
ii. Kondisi Eksternal
Yaitu kondisi yang ada di luar pribadi manusia, umpamanya kebersihan rumah, penerangan serta keadaan lingkungan fisik yang lain. Untuk dapat belajar yang efektif diperlukan lingkungan fisik yang baik dan teratur, misalnya ruang belajar harus bersih, tidak ada bau-bauan yang dapat mengganggu konsentrasi belajar, ruangan cukup terang, tidak gelap dan tidak mengganggu mata, sarana yang diperlukan dalam belajar yang cukup atau lengkap.

3. Metode Belajar
Metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan tertentu, sehingga membutuhkan metode yang tepat dalam belajar. Cara yang dipakai akan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan akan mempengaruhi belajar itu sendiri. Seperti pembuatan jadwal, membuat catatan, mengulangi bahan pelajaran (Slameto, 1991:76-84).

C. Ciri Pembelajaran Efektif
Dikatakan pembelajaran yang efektif, jika dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan sesuai dengan indikator pencapaian. Pembelajaran yang efektif dapat diketahui dengan ciri:
1. Belajar secara aktif baik mental maupun fisik. Aktif secara mental ditunjukkan dengan mengembangkan kemampuan intelektualnya, kemampuan berfikir kritis. Dan secara fisik, misalnya menyusun intisari pelajaran, membuat peta dan lain-lain.
2. Metode yang bervariasi, sehingga mudah menarik perhatian siswa dan kelas menjadi hidup.
3. Motivasi guru terhadap pembelajaran di kelas. Semakin tinggi motivasi seorang guru akan mendorong siswa untuk giat dalam belajar.
4. Suasana demokratis di sekolah, yakni dengan menciptakan lingkungan yang saling menghormati, dapat mengerti kebutuhan siswa, tenggang rasa, memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar mandiri, menghargai pendapat orang lain.
5. Pelajaran di sekolah perlu dihubungkan dengan kehidupan nyata.
6. Interaksi belajar yang kondusif, dengan memberikan kebebasan untuk mencari sendiri, sehingga menumbuhkan rasa tanggung jawab yang besar pada pekerjaannya dan lebih percaya diri sehingga anak tidak menggantungkan pada diri orang lain.
7. Pemberian remedial dan diagnosa pada kesulitan belajar yang muncul, mencari faktor penyebab dan memberikan pengajaran remedial sebagai perbaikan, jika diperlukan (Slameto, 1991:94-97).


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Hakikat Pembelajaran Kreatif

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


A. Definisi Pembelajaran Kreatif
Berfikir kreatif mengandung proses mental yang dipergunakan dalam bentuk berfikir seperti pengalaman, pengikatan kembali dan ekspresi, sedangkan kreativitas merupakan kegiatan yang mendatangkan hasil yang bersifat:
1). Baru: inovatif, belum ada sebelumnya, segar, menarik, aneh dan mengejutkan.
2). Berguna: lebih enak, praktis, mempermudah, memperlancar, mengembangkan, mendidik memecahkan masalah, mengatasi kesulitan, mendatangkan hasil yang baik.
3). Dapat dimengerti (D. Campbell�1986:11).

Berfikir kreatif mengandung proses mental, yang dipergunakan juga dalam bentuk berfikir seperti pengalaman, pengingatan kembali dan ekspresi (Mustaqim & Wahab, 1991:95-98).
Hamalik (2001:179) mengatakan bahwa kreatif adalah sebuah pemahaman, sensitivitas dan apresiasi. Sehingga orang yang dikatakan kreatif adalah memiliki kemampuan kapasitas pemahaman, sensitivitas dan apresiasi. Hamalik juga mengatakan berfikir kreatif merupakan berfikir devergen thinking yang memiliki ciri fleksibelitas, originilitas, fluency (keluwesan, keaslian dan kuantitas out put).

Menurut hasil penelitian Torance (1959), Getzels dan Jackson (1962), dan Yamamato (1964) menyimpulkan hasil yang sama tentang hubungan kreativitas, bahwa kolompok siswa yang kreativitasnya tinggi tidak berbeda dengan siswa yang prestasinya tinggi (Utami Munandar, 1998:9).

B. Ciri-Ciri Orang Yang Kreatif
Menurut Campbell (1986:27-34) menyatakan ada beberapa ciri orang kreatif antara lain:
1. Kelincahan mental (berfikir dari segala arah).
2. Kemampuan untuk bermain dengan ide, gagasan konsep, langkah-langkah, lambang-lambang, kata, angka, yang lebih khususnya berhubungan dengan ide-ide, gagasan dan sebagainya.
3. Berfikir dari satu ide, gagasan menyebar kesegala arah, yakni berfikir mencari jawaban dengan mencari jawaban yang berbeda.
4. Fleksibilitas dan konseptual.
5. Kemampuan untuk secara spontan mengganti cara pandang, pendekatan kerja yang tak jalan.
6. Orientalis (berorientasi pada hal positif).
7. Kemampuan untuk mengeluarkan ide, gagasan, pemecahan, cara kerja, yang tidak lazim yang jarang, bahkan mengejutkan.
8. Lebih menyukai kompleksitas dari pada simplisitas.
9. Latar belakang yang merangsang.
10. Kecakapan dalam banyak hal.

Kreatif dapat dirancang untuk memecahkan masalah, ekspresi kreatif, empati, hubungan sosial baik di sekolah maupun lingkungan lain (Mulyasa, 2005:163). Jika demikian diharapkan pembelajaran agama khususnya Aqidah Akhlak dapat menarik dan menyenangkan, memunculkan minat pada setiap siswa sehingga muncul pentingnya belajar Aqidah Akhlak, pada gilirannya akan merubah sikap siswa.

Selain itu orang kreatif selalu ingin tahu, suka mencoba, senang bermain, intuitif. Kreatif tidak harus seorang seniman, ilmuwan, penemu. Semua orang mempunyai kemampuan untuk menjadi pemikir-pemikir yang kreatif dan pemecah masalah. Yang dibutuhkan adalah pikiran yang penuh rasa ingin tahu, kesanggupan untuk mengambil resiko, dan dorongan untuk membuat segalanya. Selain itu orang kreatif menggunakan pengetahuan yang kita semua miliki dengan membuat lompatan yang memungkinkan, mereka memandang segala sesuatu dengan cara yang baru (Deporter & Hernacki, 2005:292).

C. Tahap-Tahap Kreativitas
Adapun tahap-tahap kreatifitas menurut Munandar (1998:34) adalah sebagai berikut:
1. Persiapan
2. Meletakkan dasar, mempelajari latar, seluk beluk dan problematikanya
3. Konsentrasi
4. Inkubasi mengambil waktu, istirahat, waktu santai, melepaskan diri dari kesibukan
5. Iluminasi
6. Tahap mendapatkan ide gagasan, penyelesaian, cara kerja, jawaban baru
7. Verifikasi
8. Menghadapi memecahkan masalah-masalah praktis sehubungan dengan perwujudan ide, gagasan, pemecahan, penyelesaian, cara kerja dan jawaban baru.

D. Prosedur Mengembangkan Kreatifitas
Para siswa dibimbing agar memiliki kemampuan kreatifitas, mampu berfikir kritis dan mampu memecahkan masalah. Oleh karena itu, melalui proses belajar mengajar diupayakan tercapainya tujuan-tujuan tersebut. Guru perlu menyediakan kondisi belajar yang memungkinkan terjadinya penambahan aspek keluwesan, keaslian, dan kuantitas kreatifitas yang dimiliki oleh para siswa.

Adapun prosedur mengembangkan kreatifitas menurut Hamalik (2002:180-182) sebagai berikut
1. Mengklasifikasikan jenis masalah yang akan disajikan kepada siswa.
2. Mengembangkan dan menggunakan keterampilan-keterampilan memecahkan masalah.
3. Memberikan ganjaran/hadiah bagi yang berhasil dalam belajar kreatif.


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Perlengkapan Pembelajaran Aktif

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Pembelajaran Aktif
Aktif dalam pendidikan pada dasarnya mengajak siswa untuk belajar berinteraksi dalam kegiatan belajar mengajar. Menurut Silberman (2004) ada beberapa perlengkapan belajar aktif diantaranya:
1). Tata letak menyusun Kelas
Keadaan kelas (lingkungan belajar) sangat berpengaruh saat pembelajaran berlangsung. Dengan formasi bangku yang berbeda akan membawa semangat belajar aktif dan menjadikan pembelajaran yang menyenangkan.


















































2). Partisipasi
Kegiatan yang aktif tidak akan terjadi tanpa adanya partisipasi dari siswa. Beberapa cara dibawah ini akan menarik respon siswa dalam berbicara di kelas.
a. Diskusi terbuka
b. Bermain kartu
c. Jajak pendapat
d. Diskusi kelompok

e. Mitra belajar
f. Adanya penyemangat
g. Panel
h. Ruang terbuka
i. Permainan
j. Mendatangkan pemateri

3). Mendapatkan mitra belajar
Salah satu cara yang paling tepat untuk mengaktifkan adalah dengan menggunakan mitra belajar, yakni membagi kelas menjadi berpasang-pasangan dan membentuk kemitraan dalam belajar.

4). Pertanyaan untuk mengetahui harapan siswa

Lingkungan belajar aktif merupakan tampat dimana kebutuhan, harapan dan persoalan siswa mempengaruhi rencana pembelajaran guru. Pengajar dapat membuat variasi pertanyaan yang kita ajukan untuk mengetahui apa yang menjadi tujuan siswa. Seperti �informasi apakah yang ingin kalian dapatkan pada mata pelajaran ini?�. Dengan pertanyaan ini siswa akan tertarik karena informasi tersebut mereka butuhkan.

5). Strategi membentuk kelompok belajar
Kelompok belajar merupakan bagian penting dari kegiatan belajar aktif. Sehingga mereka berhak memilih kelompok mereka, sesuai dengan yang diperintahkan (Silberman, 2004:30-49).
Belajar aktif memiliki banyak keuntungan dalam kegiatan belajar mengajar sehingga siswa dengan sendirinya menggali dan mencari apa yang dibutuhkan, dengan belajar aktif guru berperan sebagai fasilitator dan pengontrol, dimana tercipta lingkungan yang mendukung. Adapun perbedaan belajar aktif dan pasif menurut DePorter dan Hernacki (2005:55) sebagai berikut:














Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Prinsip-Prinsip Pembelajaran Aktif

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Prinsip-Prinsip Pembelajaran Aktif
Untuk menjadikan aktif, maka pembelajaran harus direncanakan dan dilaksanakan secara sistematis serta mengetahui prinsip-prinsinya, Nana Sudjana (1989:27-29) mengungkapkan prisip-prinsip belajar aktif antara lain:
1). Stimulus belajar
Yang dimaksud dengan stimulus belajar adalah segala hal di luar individu itu untuk mengadakan reaksi atau perbuatan belajar (Soemanto, 1999:108). Pesan yang diterima siswa dari guru melalui informasi biasanya dalam bentuk stimulus. Stimulus tersebut dapat berbentuk verbal atau bahasa, visual, auditif, taktik dan lain-lain. Stimulus hendaknya disampaikan dengan upaya membantu agar siswa menerima pesan dengan mudah.

2). Perhatian dan motivasi
Perhatian adalah pemusatan tenaga psikis tertuju kepada suatu obyek (Suryabrata, 1993:14). Sedangkan yang dimaksud dengan motivasi adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai (Sardiman, 1996:101).

Perhatian dan motivasi akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, untuk memotivasi dan memberikan perhatian pada kegiatan belajar, pengajar dapat melakukan berbagai model pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan pembelajaran yang menyenangkan. Motivasi belajar yang diberikan oleh guru tidak akan berarti tanpa adanya perhatian dan motivasi siswa.

Ada beberapa cara untuk menumbuhkan perhatian dan motivasi, antara lain melalui cara mengajar yang bervariasi, mengadakan pengulangan informasi, memberikan stimulus baru melalui pertanyaan kepada siswa, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan keinginan belajarnya, menggunakan media dan alat bantu yang menarik perhatian siswa seperti gambar, foto, diagram dan lain-lain. Secara umum siswa akan terangsang untuk belajar apabila ia melihat bahwa situasi belajar mengajar cenderung memuaskan dirinya sesuai dengan kebutuhannya.

3). Respon yang dipelajari
Belajar adalah proses belajar yang aktif, sehingga apabila tidak dilibatkan dalam berbagai kegiatan belajar sebagai respon siswa terhadap stimulus guru, maka tidak mungkin siswa dapat mencapai hasil belajar yang dikehendaki.
Keterlibatan atau respon siswa terhadap stimulus guru bisa meliputi berbagai bentuk seperti perhatian, proses internal terhadap informasi, tindakan nyata dalam bentuk partisipasi kegiatan belajar seperti memecahkan masalah, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, menilai kemampuan dirinya dalam menguasai informasi, melatih diri dalam menguasai informasi yang diberikan oleh guru dan lain-lain.

4). Penguatan
Setiap tingkah laku yang diikuti oleh kepuasan terhadap bebutuhan siswa akan mempunyai kecenderungan untuk diulang kembali. Sumber penguat belajar untuk pemuasan kebutuhan yang berasal dari luar adalah nilai, pengakuan prestasi siswa, persetujuan pendapat siswa, pemberian hadiah dan lain-lain.

5). Asosiasi
Secara sederhana, berfikir asosiatif adalah berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuai dengan lainnya. Berfikir asosiatif itu merupakan proses pembentukan hubungan antara rangsangan dengan respon (Syah, 1995:119). Asosiasi dapat dibentuk melalui pemberian bahan yang bermakna, berorientasi kepada pengetahuan yang telah dimiliki siswa, pemberian contoh yang jelas, pemberian latihan yang jelas, pemberian latihan yang teratur, pemecahan masalah yang serupa, dilakukan dalam situasi yang menyenangkan. Di sini siswa dihadapkan kepada situasi baru yang dapat menuntut pemecahan masalah melalui informasi yang telah dimilikinya (Sudjana, 1989:27-29).


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Definisi dan Indikator Pembelajaran Aktif

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Definisi dan Indikator Pembelajaran Aktif
Aktif dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti giat (bekerja, berusaha) dan �mengaktifkan� memiliki arti menjadi aktif, dan menggiatkan. Sedangkan aktif menurut Mulyasa, merupakan keikutsertaan berpola, giat, lincah (Mulyasa, 2005:43). Aktif digunakan dalam berbagai aspek, seperti pendidikan. Dikatakan pembelajaran aktif, jika memiliki beberapa indikator. Menurut Ahmad Tafsir ada indikator yang menandai siswa aktif dalam pembelajaran:
1). Segi Siswa
a. Keinginan, keberanian menampilkan bakat, dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.
b. Keinginan dan keberanian serta kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan, proses berkelanjutan dalam belajar.
c. Penampilan berbagai usaha belajar dalam menjalani dan menyelesaikan kegiatan belajar sampai mencapai hasil.
d. Kemandirian belajar.

2). Segi Guru
a. Usaha mendorong, membina gairah belajar dan berpartisipasi dalam proses pengajaran secara aktif.
b. Peran guru yang tidak mendominasi kegiatan belajar siswa.
c. Memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar menurut cara dan keadaan msing-masing.
d. Menggunakan metode mengajar dan pendekatan multimedia.

3). Segi Program
a. Tujuan pembelajaran sesuai dengan minat, kebutuhan dan kemampuan siswa.
b. Program cukup jelas bagi siswa dan menantang siswa untuk melakukan kegiatan belajar.

4). Segi Situasi
a. Hubungan erat antara siswa dan guru, siswa dengan siswa, guru dengan guru, serta dengan unsur pimpinan sekolah.
b. Siswa bergairah belajar.

5). Segi sarana pembelajaran
a. Sumber belajar yang memadai.
b. Fleksibilitas bagi kegiatan belajar.
c. Dukungan media pembelajaran.
d. Kegiatan belajar di dalam maupun di luar kelas (Tafsir, 1995:145).


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Pembelajaran Bermakna dan Kontekstual

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Pembelajaran Bermakna dan Kontekstual Sebagai Suatu Pendekatan PAKEM
Ratna (2001) menyatakan bilamana siswa mempelajari sesuatu yang berarti pada kondisi terbaiknya dapat dikatakan bahwa siswa belajar materi pelajaran yang bermakna dalam kehidupannya. Akan tambah pengalamannya jika siswa belajar meteri pelajaran yang disajikan melalui konteks kehidupan mereka dan menemukan arti dalam proses pembelajaran, proses belajar mengajar tersebut akan menjadi lebih berarti dan menyenangkan.

The Nortwest Regional Education Laboratory dalam Rustana (2001) mengidentifikasi enam kunci dasar dari belajar dan mengajar kontekstual sebagai berikut:
a. Pembelajaran bermakna: pemahaman, relevansi, dan penilaian pribadi dimana seorang siswa berkepentingan dengan isi materi pelajaran yang harus dipelajarinya. Pembelajaran dirasakan terkait dengan kehidupan nyata atau dengan kata lain siswa mengerti manfaat isi pembelajaran, sehigga merasa berkepentingan untuk belajar demi kehidupan di masa mendatang. Prinsip ini sejalan dengan konsep pembelajaran bermakna (meaningful learning) dari ausuble. Dimana arti meaningful learning adalah dapat mentransfer dalam kehidupan siswa kini dan kelak.
b. Penerapan mengetahuan: kemampuan untuk memahami apa yang dipelajari dan diterapkan dalam tatanan kehidupan dan berguna di masa sekarang atau di masa depan.
c. Berfikir tingkat tinggi: siswa diwajibkan untuk memanfaatkan berfikir kritis dan berfikir kreatifnya dalam mengumpulkan data, pemahaman data, pemahaman isu, pemecahan masalah dan mampu menjawab pertanyaan �mengapa� dan �bagaimana�.
d. Kurikulum yang dikembangkan berdasarkan standar isi pembelajaran dikaitkan dengan standar lokal, provinsi, nasional, perkembangan, ilmu pengetahuan dan teknologi serta dunia kerja.
e. Responsif terhadap budaya: guru harus memahami dan menghargai nilai, kepercayaan, dan kebiasaan siswa, karena pendidikan, masyarakat tempat ia mendidik. Ragam individu dan budaya tersebut akan mempengaruhi pembelajaran dan sekaligus akan berpengaruh terhadap cara mengajar guru.
f. Penilaian autentik: penggunaan berbagai strategi penilaian (misalnya penilaian proyek, unjuk kinerja siswa, portofolio rubrik, daftar cek, pedoman obsevasi dan sebagainya) akan merefleksikan hasil belajar yang sesungguhnya.

Dalam rangka pelaksanaan belajar dan mengajar kontekstual diperlukan berbagai strategi, antara lain:
a. Menekankan pada pemecahan masalah.
b. Mengakui kebutuhan belajar dan mengajar yang terjadi di berbagai konteks misalnya rumah, masyarakat dan sekolah.
c. Mengajar siswa untuk mengontrol dan mengarahkan pembelajarannya, sehingga mereka menjadi pembelajar yang mandiri (self-regulated learners).
d. Bermuara pada mengajar siswa yang memiliki keragaman konteks hidup.
e. Mendorong siswa untuk belajar dari sesamanya dan bersama-sama atau menggunakan grup belajar interdependen (interdependen learning group).
f. Menggunakan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment).

Dalam metode pembelajaran efektif dan bermakna, setiap materi yang baru harus dikaitkan dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang ada sebelumnya, sehingga pembelajaran dimulai dengan hal-hal yang sudah dikenal dan dipahami peserta didik, kemudian guru menambahkan unsur-unsur pembelajaran dan kompetensi baru yang disesuaikan dengan pengetahuan dan kompetensi yang telah dimiliki peserta didik (Mulyasa, 2006:197).


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Cooperative Learning Dalam PAKEM

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Cooperative Learning Dalam PAKEM
Pembelajaran kooperatif atau gotong royong adalah salah satu jenis belajar kelompok dapat menjadikan pembelajaran lebih efektif, adapun karakteristik kooperatif sebagai berikut:
a. Kelompok terdiri dari anggota yang heterogen (kemampuan, jenis kelamin, etnik dan sebagainya).
b. Ada ketergantungan yang positif di antara anggota-anggota kelompok, karena setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas keberhasilan tugas kelompok dan tugas individual (tugas tidak selalu berupa tugas mengerjakan soal, dapat juga memahami materi pelajaran, sehingga dapat menjelaskan materi tersebut).
c. Kepemimpinan dipegang bersama, tetapi ada pembagian tugas selain kepemimpinan.
d. Guru mengamati kerja kelompok dan melakukan intervensi bila perlu.
e. Setiap anggota kelompok harus siap menyajikan hasil kerja kelompok (Setiawan, Depdiknas: 2004).

Nurhadi dan Agus Gerrad S (2003:60) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) secara sadar menciptakan interaksi yang silih asah sehingga menjadi sumber bagi siswa bukan hanya guru dan bukan hanya buku ajar tetapi juga sesama siswa.

Dalam PAKEM, kooperatif juga disajikan dalam bentuk kelompok yang menjadikan siswa lebih aktif dalam ketergantungan positif, dimana guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan, saling ketergantungan mencapai tujuan, menyelesaikan tugas, saling memberikan bahan atau sumber, saling berperan, saling membagi hadiah.

Kooperatif dengan interaksi tatap muka juga dapat membantu menjadi sumber belajar yang bervariasi, selain itu kooperatif juga dituntut dalam penilaian individual meskipun belajar dalam berkelompok dan kooperatif merupakan pembelajaran keterampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide, berani mempertahankan pikiran logis, tidak medominasi orang lain dan mandiri.

Holubec ( 2001 ) dalam Nurhadi dan Agus Gerrad S ( 2003: 59 )
menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning)
memerlukan pendekatan pengajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar dan mencapai tujuan belajar.

Salah satu metode kooperatif yang lebih mudah untuk diterapkan adalah kooperatif struktural, yaitu menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola-pola interaksi siswa. Dimana siswa saling merespon dan saling membantu satu sama lain.

Adapun secara garis besar langkah dalam melaksanakan kooperatif struktural adalah sebagai berikut:
1. Membagi kelompok dengan memberikan penomeran atau pengenal pada kelompok.
2. Memberikan pertanyaan atau memberi perintah untuk memahami teks atau materi sesuai dengan kompetensi yang dicapai.
3. Membahas pertanyaan atau memberikan kesempatan untuk bertukar ide pada teks yang telah dipahami untuk dipecahkan bersama (Nurhadi, 2003:66).


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Penerapan Pembelajaran PAKEM

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Untuk melaksanakan PAKEM secara optimal maka perlu dilakukan proses pembelajaran yang sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah matang. Mulyasa (2006:194-197) menyatakan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menerapkan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.

1. Pemanasan dan apersepsi
Pemanasan dan apersepsi perlu dilakukan untuk menjajaki pengetahuan peserta didik, memotivasi dengan menyajikan materi yang menarik dan mendorong untuk mengetahui berbagai hal-hal yang baru. Apersepsi dapat dilakukan sebagai berikut:
a. Memulai pembelajaran dengan hal-hal yang diketahui dan pahami peserta didik.
b. Memotifasi peserta didik dengan bahan ajar yang menarik dan berguna bagi kehidupan mereka.
c. Menggerakkan peserta didik agar tertarik dan bernafsu untuk mengetahui hal-hal yang baru.

2. Eksplorasi
Tahap eksplorasi merupakan kegiatan pembelajaran untuk mengenalkan bahan dan mengaitkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik. Hal berikut dapat ditempuh sebagai berikut:
a. Memperkenalkan materi standar dan kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh peserta didik.
b. Mengaitkan materi standar dan kompetensi dasar yang baru dengan pengetahuan dan kompetensi yang sudah dimiliki oleh peserta didik.
c. Memilih metode yang paling tepat dan bervariasi untuk meningkatkan konsentrasi peserta didik terhadap materi standar dan kompetensi baru.

3. Konsolidasi pembelajaran
Konsolidasi merupakan kegiatan untuk mengaktifkan peserta didik dalam pembentukan kompetensi dengan mengaitkan kompetensi peserta didik. Konsolidasi pembelajaran ini dapat dilakukan sebagai berikut:
a. Melibatkan peserta didik secara aktif dalam manafsirkan dan memahami materi standar dan kompetensi baru.
b. Melibatkan peserta didik secara aktif dalam proses pemecahan masalah (problem solving), terutama dalam masalah-masalah aktual.
c. Mengaitkan secara struktural antara materi standar dan kompetnsi baru dengan berbagai aspek kehidupan dalam lingkungan masyarakat.
d. Memilih metodologi yang paling tepat sehingga materi standar dapat diproses menjadi kompetensi peserta didik.

4. Pembentukan kompetensi, sikap dan perilaku
Pembentukan kompetensi, sikap dan perilaku peserta didik dapat dilakukan sebagai berikut:
a. Mendorong peserta didik untuk menerapkan konsep, pengertian dan kompetensi yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari.
b. Mempraktekkan pembelajaran secara langsung agar peserta didik dapat membangun kompetensi, sikap dan perilaku baru dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan pengertian yang dipelajari.
c. Menggunakan metodologi yang tepat agar terjadi perubahan kompetensi, sikap dan perilaku peserta didik.

5. Penilaian
a. Mengembangkan cara-cara untuk menilai hasil pembelajaran peserta didik.
b. Menggunakan hasil penilaian untuk menganalisis kelemahan atau kekurangan peserta didik dan masalah-masalah yang dihadapi guru dalam memberikan kemudahan kepada peserta didik.
c. Memilih metodologi yang paling tepat dan sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Makna Menyenangkan dalam PAKEM

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Menyenangkan dalam PAKEM
Pembelajaran menyenangkan (joy instruction) merupakan suatu proses pembelajaran yang didalamnya terdapat sebuah kohesi yang kuat antara pendidik dan peserta didik, tanpa ada perasaan terpaksa atau tertekan (not under pressure). Dengan kata lain, pembelajaran menyenangkan adalah adanya pola hubungan yang baik antara guru dengan peserta didik dalam proses pembelajaran.

Guru memposisikan diri sebagai mitra belajar peserta didik dalam proses pembelajaran, bahkan dalam hal tertentu tidak menutup kemungkinan guru belajar dari peserta didiknya. Hal ini dimungkinkan pesatnya perkembangan teknologi informasi tidak memungkinkan lagi guru untuk mendapatkan informasi lebih cepat dari peserta didiknya. Dalam hal ini perlu diciptakan suasana yang demokratis, dan tidak ada beban baik bagi guru maupun peserta didik dalam melakukan proses pembelajaran.

Untuk mewujudkan proses pembelajaran yang menyenangkan, guru harus mampu merancang pembelajaran yang baik, memilih materi yang tepat, serta memilih dan mengembangkan strategi yang dapat melibatkan peserta didik secara optimal (Mulyasa, 2006:194).

Bambang Ari Sugianto, fasilitator Managing Basic Education Bahasa Inggris, menyatakan bahwa pembelajaran yang menyenangkan berarti siswa asyik terlibat dalam proses pembelajaran karena penugasan yang diberikan guru menantang, sesuai dengan kebutuhannya serta berada dalam dunianya. Di lain pihak siswa merasa nyaman karena tidak dimarahi atau dicemooh ketika siswa membuat kesalahan sehingga berani berbeda dan tidak takut membuat kesalahan.

Pelaksanaan PAKEM dapat menjadikan kelas adalah tempat yang nyaman dalam belajar. Memajang hasil karya siswa di kelas, diadakan sudut-sudut baca dalam kelas, diharapkan mampu meningkatkan minat belajar, sebaliknya keadaan kelas yang kosong, tanpa pajangan akan menjadikan suasana kelas gersang, membosankan, dan tidak menggugah minat siswa (Supriono. S dkk, 2001:29).

Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) sebagai strategi pembelajaran meliputi:
1. Bermain peran
2. Belajar kelompok
3. Menulis dengan kata-kata sendiri
4. Memecahkan masalah
5. Diskusi kelas
6. Debat praktek keterampilan
7. Penelitian
8. Drama.

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Makna Efektif dalam PAKEM

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Efektif dalam PAKEM
Pembelajaran dapat dikatakan efektif jika mampu memberikan pengalaman baru, membentuk kompetensi peserta didik, serta mengantarkan mereka ketujuan yang ingin dicapai secara optimal. Hal ini dapat dicapai dengan melibatkan peserta didik dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran. Seluruh peserta didik harus melibatkan secara penuh agar bergairah dalam pembelajaran, sehingga pembelajaran benar-benar kondusif dan terarah pada tujuan dan pembentukan kompetensi peserta didik.

Pembelajaran efektif menuntut keterlibatan peserta didik secara aktif, karena mereka merupakan pusat kegiatan pembelajaran dan pembentukan kompetensi. Peserta didik harus didorong untuk menafsirkan informasi yang disajikan oleh guru sampai informasi tersebut dapat diterima oleh akal sehat. Dalam pelaksanaannya, memerlukan proses pertukaran pikiran, diskusi dan perdebatan dalam rangka pencapaian pemahaman yang sama terhadap materi standar (Mulyasa, 2006:193-194).

Pembelajaran yang efektif harus ditunjang dengan lingkungan memadai, dari situ guru harus mampu mengelola tempat belajar dengan baik, mengelola peserta didik, mengelola kegiatan pembelajaran, mengelola isi atau materi pembelajaran dan mengelola sumber-sumber belajar seperti modul atau diktat.

Adapun pembelajaran yang efektif pada PAKEM digambarkan sebagai berikut:
1. Diadakannya tugas-tugas yang lebih praktis, termasuk tugas yang memanfaatkan lingkungan sosial dan alam.
2. Anak menggunakan lebih banyak alat bantu belajar.
3. Hasil kerja anak ditulis dengan kata-kata mereka sendiri.
4. Sudut-sudut baca/perpustakaan sekolah dibuat dan dimanfaatkan.
5. Guru menunjukkan fleksibelitas dalam pengelolaan siswa pada pelaksanaan pembelajaran.
6. Hasil kerja anak dipajangkan di kelas.


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Makna Kreatif dalam PAKEM

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Kreatif dalam PAKEM
Pembelajaran kreatif merupakan proses pembelajaran yang mengharuskan guru untuk dapat memotivasi dan memunculkan kreatifitas peserta didik selama pembelajaran berlangsung, dengan menggunakan beberapa metode atau strategi yang bervariasi misalnya kerja kelompok, bermain peran dan memecahkan masalah.

Pembelajaran kreatif menuntut guru untuk mampu merangsang kreatifitas peserta didik, baik dalam mengembangkan kecakapan berfikir maupun dalam melakukan sesuatu tindakan. Berfikir kreatif selalu dimulai dengan berfikir kritis, yakni menemukan dan malahirkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada atau memperbaiki sesuatu.
Berfikir kreatif harus dikembangkan dalam proses pembelajaran, agar peserta didik terbiasa untuk mengembangkan kreatifitasnya (Mulyasa, 2006:192-193).

Sedangkan menurut Campbell, kreatif mengandung arti inovatif, belum ada sebelumnya, segar, menarik, aneh dan mengejutkan. Selain itu kreatif adalah berguna, memiliki lebih baik, praktis, mempermudah, memperlancar, mengembangkan, mendidik memecahkan masalah, mengatasi kesulitan, mendatangkan hasil yang baik, dapat dimengerti (D. Campbell�1986:11).


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Makna Aktif dalam PAKEM

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Aktif dalam PAKEM
Pembelajaran aktif merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang lebih banyak melibatkan aktifitas peserta didik dalam mengakses berbagai informasi dan pengetahuan untuk dibahas dan dikaji dalam pembelajaran di kelas, sehingga mereka mendapatkan berbagai pengalaman yang dapat meningkatkan pemahaman dan kompetensinya. Lebih dari itu, pembelajaran aktif memungkinkan peserta didik mengembangkan kemampuan berfikir tingkat tinggi, seperti menganalisis dan mensintesis, serta melakukan penilaian terhadap berbagai peristiwa belajar dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran aktif memiliki persamaan dengan model pembelajaran self discovery learning, yakni pembelajaran yang dilakukan peserta didik untuk menanyakan kesimpulan sendiri sehingga dapat menjadikan nilai baru yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari (Mulyasa, 2006:192).

Dalam pembelajaran aktif guru dapat memposisikan dirinya sebagai fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar (to facilitate of learning) kepada peserta didik. Peserta didik terlibat secara aktif dan banyak berperan dalam proses pembelajaran, sedangkan guru lebih banyak memberikan arahan, bimbingan, serta mengatur sirkulasi proses pembelajaran (Mulyasa, 2006:192).

Siti Kusrini dkk (1996:79) berpendapat, ada beberapa strategi untuk mengaktifkan kelas antara lain:
1. Learning start with a question strategi mengaktifkan siswa dengan memberikan pertanyaan awal sebagai umpan.
2. Every one is teacher yaitu strategi pembelajaran yang memberi kesempatan setiap siswa untuk bertindak sebagai guru bagi siswa yang lain.
3. The power of two, yaitu kekuatan dua kelompok pada saat berdiskusi kelas.
4. Information search, yaitu pembelajaran dengan persiapan teks atau hand out untuk dipresentasikan bersama.
5. Snowballing, yaitu penggabungan dari pasangan menjadi kelompok besar.
6. Jigsaw learning, yaitu strategi dengan membagikan bahan ajar lengkap dan berkelompok dalam diskusi kecil dan kelompok besar.
7. Debat kelas atau debat yang efektif, yaitu pembelajaran yang menyajikan antara pro dan kontra.
8. Card sort/playing card, yaitu pembelajaran yang menggunakan media card dengan membagi materi.
9. Synergetic teaching, yaitu pembagian materi pada kelompok sesuai dengan permasalahan dan dianalisa sesuai dengan pandangan masing-masing.
10. Tim pendengar (Listening team) yaitu diskusi dimana setiap peran memberikan argumentasi dan sanggahan sebagai upaya pemecahan yang mendalam.
11. Point counterpoint, yaitu menyajikan topik atau permasalahan yang menimbulkan berbagai pandangan.
12. Tim Quiz, yaitu memberdayakan seluruh siswa mempelajari satu topik pada tiap-tiap kelompok, dan setiap kelompok membuat kuis untuk dijawab oleh kelompok lain.

Silberman (2004) menyatakan ada beberapa perlengkapan aktif untuk membantu siswa mendapatkan pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor), dan sikap (afektif) secara aktif di dalam kelas. Untuk mengaktifkan diperlukan banyak metode antara lain:
1. Kegiatan belajar dalam satu kelas penuh
Kegiatan ini merupakan metode yang menjadikan pengajaran lebih interaktif dalam menyajikan informasi dan gagasan yang melibatkan siswa. Adapun metode tersebut antara lain:
a. Tim pendengar
b. Pengajaran sinergis
c. Pengajaran terarah
d. Menemui pembicara tamu
e. Kelompok saya
f. Tayangan video

2. Menstimulasi diskusi kelas
Mengintensifkan dialog dan debat, yang bertujuan menjadikan siswa lebih aktif dan menyeluruh. Adapun metode tersebut antara lain:
a. Debat aktif
b. Rapat dewan kota
c. Diskusi panel
d. Argumen tandingan
e. Pengadilan majelis hakim
f. Keputusan terbuka tiga tahap

3. Belajar bersama
Menyajikan, merancang tugas untuk kelompok kecil untuk bekerjasama dan saling ketergantungan positif. Adapun metode tersebut antara lain:
a. Pencarian informasi
b. Kelompok belajar
c. Turnamen belajar
d. Pemilihan kartu
e. Kekuatan dua orang
f. Kuis tim

4. Pengajaran sesama siswa
Metode untuk pembelajaran aktif sesama siswa dengan mengajarkan kepada sesama.
Adapun metode tersebut antara lain:
a. Pertukaran kelompok
b. Jigsaw
c. Every one is teacher
d. Studi kasus
e. Pemberitaan
f. Poster

5. Belajar mandiri
Mengajarkan kepada siswa untuk mandiri. Adapun metode tersebut antara lain:
a. Imaginasi
b. Menulis saat ini
c. Peta pikiran
d. Belajar sekaligus bertindak
e. Jurnal belajar
f. Kontrak belajar

6. Belajar yang efektif
Belajar untuk memahami perasaan, nilai dan sikap siswa untuk memfasilitasi pemahaman diri dan penjelasan nilai. Adapun metode tersebut antara lain:
a. Mengetahui yang sebenarnya
b. Papan pengumuman
c. Sekarang bagaimana?
d. Penilaian diri
e. Peraga peran

7. Pengembangan keterampilan
Pengembangan keterampilan dan penerapannya kepada siswa. Adapun metode tersebut antara lain:
a. Formasi regu tembak
b. Pengamatan dan pemberian masukan secara aktif
c. Pemeranan lakon
d. Lakon tiga siswa
e. Menggilir peran
f. Memperagakan tanpa bicara
g. Pemberian peran
h. Lempar bola
i. Kelompok penasehat


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

PAKEM Sebagai Strategi Pembelajaran


Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd

Pendidik di Malang


PAKEM Sebagai Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran pada PAKEM menggunakan strategi belajar yang berpusat pada siswa. Menurut Hamalik (2001:201) strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa adalah sebuah proses belajar mengajar yang berdasarkan kebutuhan dan minat siswa. Berbagai kegiatan belajar dirancang dengan sistem belajar yang fleksibel sesuai dengan kehidupan, gaya belajar dan tujuan pembelajaran, dimana guru hanya sebagai fasilitator, pembimbing, pengarah sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai tanpa mengenyampingkan potensi siswa.


Adapun beberapa strategi belajar berpusat pada siswa menurut Hamalik (2001:202) antara lain :
1. Pusat belajar pada modular
2. Pengajaran berpusat pada pengalaman
3. Pengajaran berdasarkan pada inkuiri
4. Pengajaran dalam bentuk pengajaran berdebat
5. Pengajaran dalam bentuk pengajaran komputer

Strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa atau lebih dikenal dengan student oriented merupakan pembelajaran yang lebih memberdayakan pada kemampuan siswa. Dalam aplikasinya siswa belajar tidak semata-mata hanya menekankan pada jawaban dari pertanyaan ulangan dan ujian, namun dituntut pada pengetahuan yang luas, bermanfaat, berkembang dan relevan dengan kehidupan sehari-hari (Nurhadi, 2003:5).


Strategi pembelajaran merupakan proses terpenting dalam pembelajaran karena dalam strategi pembelajaran terjadi proses pentransferan ilmu yang nantinya berpengaruh pada hasil belajar. Oleh karena itu, pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan
merupakan strategi yang optimal dalam pembelajaran. Karena dalam PAKEM peserta didik harus lebih berani bertanya, mengungkapkan pendapat dan tidak takut salah maupun malu ditertawakan.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram model Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) sebagai berikut:














Sumber
: www.kabar-pendidikan.blogspot.com,
www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM)

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Pembelajaran yang optimal akan terjadi jika ada interaksi positif antara siswa dan guru. Guru sebagai fasilitator harus dapat memfasilitasi siswa dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya, dengan harapan pembelajaran di kelas menjadi aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Dengan demikian, akan memudahkan dalam mencapai kompetensi belajar siswa.

Definisi dan Deskripsi PAKEM
Istilah PAKEM sebenarnya bukan istilah yang asing, karena pakem digunakan dalam beberapa istilah yang luas, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia �pakem� salah satunya memiliki arti �pakan� yaitu sejenis makanan hewan, selain itu pakem juga digunakan pada istilah pewayangan yang memiliki arti cerita asli pewayangan. Tetapi dalam hal ini, pakem muncul dalam istilah pendidikan. PAKEM menurut Departemen Pendidikan Nasional dalam Program Manajemen Berbasis Sekolah disebutkan bahwa PAKEM merupakan singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan.

Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka membentuk generasi yang kreatif, sedangkan kreatif dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi beragam tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan adalah suasana belajar mengajar yang dapat memusatkan perhatiannya secara penuh saat belajar sehingga curah waktu perhatiannya (time on task) tinggi (Depdiknas, 2004: II-8).

Secara garis besar, PAKEM dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekankan pada belajar melalui berbuat.
2. Guru menggunakan alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai media belajar agar pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.
3. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan 'pojok baca'.
4. Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif, termasuk cara belajar kelompok.
5. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya (Depdiknas, 2004:III-8).

Penerapan PAKEM sebagai upaya mengaktifkan siswa, menampilkan kreatifitas siswa, mewujudkan pembelajaran yang efektif dan tetap menyenangkan harus melibatkan beberapa komponen yakni guru, siswa, dan media pembelajaran. Media pembelajaran tidak harus di kelas dengan peralatan yang terbatas, tetapi bisa berupa lingkungan sebagai media pembelajaran dalam bentuk penekanan belajar melalui berbuat.

Seperti yang dilakukan SD Gambiran Banyuwangi, siswa belajar dengan menggunakan media belajar sawah. Siswa yang secara aktif terlibat dalam pembelajaran, mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, mengungkapkan gagasannya, memproses informasi belajar dengan lebih efektif dan lebih menyenangkan.

Sejarah PAKEM
PAKEM telah berkembang pesat di Indonesia sampai saat ini, hal ini dikarenakan PAKEM merupakan sebuah pembelajaran yang mampu mengubah pembelajaran menjadi lebih efektif. Adapun sejarah singkat PAKEM yang ada di Indonesia sebagai berikut:
1. Sejak beberapa tahun, beberapa proyek USAID (United States Agency for International Development) telah berlangsung di Indonesia, terutama di bidang pemerintahan daerah seperti: PERFORM, BIGG, dan CLEAN. Kerjasama selanjutnya di bidang pendidikan yang berada di bawah naungan MBE (Managing Basic Education) pada pelaksanaan MBS (Manejemen Berbasis Sekolah) dan PSM (Peran Serta Masyarakat). Pendidikan Dasar menjadi fokus utama program ini, karena merupakan sektor paling besar yang harus dikelola oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. Salah satu contoh, masyarakat sekitar SD Ngepung di Sukapura menanam pisang untuk membantu sekolah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.

2. Lima daerah MBE telah membuat nota kesepakatan (MOU) dengan RTI/USAID mengenai pelaksanaan program MBE. Lokakarya manajemen pendidikan telah diadakan pada tanggal 1 s/d 4 September 2003 di Yogyakarta. Survei manajemen pendidikan meliputi beberapa hal, antara lain: pendanaan, perencanaan, pengelolaan guru dan fasilitas. Lebih kurang 90% alokasi dana pendidikan digunakan untuk membayar gaji pegawai, terutama gaji guru.

3. Kepala sekolah, komite sekolah dan guru baru dilatih dalam penerapan MBS dan PAKEM. Yang menjadi kendala dalam pelaksanaan PAKEM adalah kurangnya tenaga pengajar. Efektifitas kelas maksimal 20 siswa, sedangkan dalam realitanya kelas berisi + 30-35 siswa, untuk melaksanakan program PAKEM perlu diadakan kelas paralel. Lokakarya selalu terus diadakan, selain itu pihak-pihak sekolah yang melaksanakan program ini diusahakan dapat mengunjungi sekolah-sekolah yang sudah melaksanakan MBS, PSM, dan PAKEM dengan baik.

4. Program lain dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah meningkatkan kesehatan anak, sehingga program SHIP (School Health Improvement Program) atau UKS terus digalakkan hingga saat ini.
5. Kemudian MBE menyebar lagi di lima daerah baru, yaitu: Kota Batu dan Kota Madiun di Jawa Timur, serta Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Kebumen di Jawa Tengah. PAKEM selain diterapkan pada pembelajaran juga diterapkan kepada guru, yaitu mengelolah dana secara PAKEM pula.

6. MBE sudah mulai menyebar lebih dari 900 sekolah di luar sekolah binaan, di sisi lain pondok pesantren sudah ada yang menerapkan MBS dan PAKEM.

7. Rapat review dan perencanaan diadakan pada tgl. 4 s/d 7 Januari 2004 di Batu untuk ke 9 daerah MBE. Dan pada tanggal 6 s/d 8 Desember 2004 dilaksanakan di Hotel Sanur Paradise, Bali. Pada rapat tersebut MBE Project mengikuti Konferensi Nasional PDPP-PERFORM dan akan melaksanakan workshop analisis pemetaan sekolah di lima daerah baru (Banyumas, Kebumen, Kota Madin, Blitar dan Kota Batu) pada awal 2005. Salah satu tujuan dari MBE adalah untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya pendidikan.

8. Mulai bulan April 2005 MBE akan masuk ke 5 daerah baru di Jawa Tengah dan 6 daerah di Jawa Timur. Jawa Tengah: Kabupaten Purbalingga, Purworejo, Semarang, Sukoharjo dan Kota Magelang. Jawa Timur: Kabupaten Magetan, Malang, Nganjuk, Situbondo, Trenggalek, dan Kota Pasuruan. Di setiap daerah MBE telah dilatih tim 12 orang fasilitator. Mereka dipilih dari guru, kepala sekolah, pengawas dan pegawai pemerintah daerah.

9. Kegiatan di 11 daerah MBE tahap ke 3 telah dimulai dengan diadakannya lokakarya orientasi. Satu prioritas USAID Indonesia adalah pengembangan Pendidikan Dasar. USAID telah mengalokasikan lebih dari $ 100 juta untuk menunjang program baru yang namanya �Developing Basic Education�. Tahap ke 3 ini adalah terkait lokarkarya pendanaan pendidikan.

10. Hingga saat ini lokakarya dan pemantauan pelaksanaan MBS, PAKEM terus dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu contoh, Condoleezza Rice Menteri Luar Negeri Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia pada tanggal 14 Maret 2006 untuk melihat salah satu sekolah binaan MBE di Jakarta yaitu MI Al-Ma'muriyah di daerah Cikini.

11. Pelatihan MBS dan PSM juga masih berlangsung pada tanggal 7 Maret 2006 di Kecamatan Magetan tepatnya di Aula Cabang Dinas Pendidikan dan 8 Maret 2006 di Kecamatan Maospati di gedung KKG (USAID).

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com