Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran Kooperatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran Kooperatif. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 April 2011

Model dan Karakteristik Pembelajaran Kooperatif


Ada 4 macam model pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh Arends (2001), yaitu; (1) Student Teams Achievement Division (STAD), (2) Group Investigation, (3) Jigsaw, dan (4) Structural Approach. Sedangkan dua pendekatan lain yang dirancang untuk kelas-kelas rendah adalah; (1) Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) digunakan pada pembelajaran membaca dan menulis pada tingkatan 2-8 (setingkat TK sampai SD), dan Team Accelerated Instruction (TAI) digunakan pada pembelajaran matematika untuk tingkat 3-6 (setingkat TK).

Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif adalah; (1) belajar bersama dengan teman, (2) selama proses belajar terjadi tatap muka antar teman, (3) saling mendengarkan pendapat di antara anggota kelompok, (4) belajar dari teman sendiri dalam kelompok, (5) belajar dalam kelompok kecil, (6) produktif berbicara atau saling mengemukakan pendapat, (7) keputusan tergantung pada mahasiswa sendiri, (8) mahasiswa aktif (Stahl, 1994). Senada dengan ciri-ciri tersebut, Johnson dan Johnson (1984) serta Hilke (1990) mengemukakan ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah...


Artikel Lengkap Download DI SINI


Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

Panduan Pembelajaran Kooperatif Matematika

Buku panduan ini adalah buku panduan untuk para guru matematika yang berkeinginan menerapkan beberapa model pembelajaran kooperatif diantaranya STAD, Jigsaw, Number Head Together (NHT), serta TAI dengan disertai beberapa contoh.

Ebook ini juga bertujuan untuk menambah wawasan para pembaca, khususnya para guru dan pengawas alumni diklat PPPG Matematika dalam membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa dan materi pembelajaran.

Ebook Lengkap Download DI SINI

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

Prosedur Pembelajaran Kooperatif

Artikel singkat ini berusaha menjelaskan tentang Prosedur Pembelajaran Kooperatif.

Materi yang sesuai disajikan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif adalah materi-materi yang menuntut pemahaman tinggi terhadap nilai, konsep, atau prinsip, serta masalah-masalah aktual yang terjadi di masyarakat. Materi ketrampilan untuk menerapkan suatu konsep atau prinsip dalam kehidupan nyata juga dapat diberikan. Materi dapat berasal dari berbagai bidang studi, seperti bahasa, masalah-masalah social ekonomi, masalah kehidupan bermasyarakat, peristiwa-peristiwa alam, serta ketrampilan dan masalah-masalah lainnxa.

Adapun prosedur pembelajaran kooperatif dipilahkan menjadi empat langkah, yaitu; orientasi, bekerja kelompok, kuis, dan pemberian penghargaan. Setiap langkah dapat dikembangkan lebih lanjut oleh para dosen dengan berpegang pada hakekat setiap langkah sebagai berikut...

Artikel Lengkap Download DI SINI

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Demikian Artikel singkat tentang prosedur pembelajaran kooperatif  ini. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang prosedur pembelajaran kooperatif .

Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dan TAI


Pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division) dikembangkan oleh Robert Slavin dkk. di Universitas John Hopkin dan merupakan tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana yang menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan membantu dalam memahami suatu materi pelajaran.

Pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah salah satu model pembelajaran kooperatif di mana siswa belajar dengan bantuan LKS secara berkelompok, berdiskusi guna memahami konsep-konsep menemukan hasil yang benar. Semua anggota dibagi tanggung jawab, semua siswa secara individu diberi tes yang akan berpengaruh terhadap evaluasi seluruh kelompok, sehingga untuk memperoleh suatu penghargaan, hasil belajar tiap kelompok tersebut di bandingkan.

Siswa dalam satu kelas dipecah menjadi beberapa kelompok yang terdiri atas 4-5 orang. Setiap Tim atau kelompok hendaknya memiliki anggota yang heterogen baik jenis kelamin ( laki-laki dan perempuan ) ras, etnik, maupun berbagai kemapuan ( tinggi, sedang, rendah ). Tiap anggota tim menngunakan lembaran kerja akademik ( lembar kerja siswa ) dan kemudian saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusi antar sesama anggota tim secara individual atau tim, tiap satu atau dua minggu diadakan evaluasi untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap bahan akademik yang telah dipelajari. Tiap siswa dan tiap tim di beri skor atas penguasaanya terhadap...


Artikel Lengkap Download DI SINI


Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

Pengaruh Pembelajaran Kooperatif dalam Matematika

Salah satu tujuan pembelajaran matematika adalah agar siswa memiliki kemampuan pemahaman tentang hubungan antara bagian-bagian matematika, menganalisis dan menarik kesimpulan (Karadinata, 2001: 17, Rina, 2006: 23). Tujuan tersebut dapat tercapai jika guru menerapkan suatu pembelajaran yang mendukung dan sesuai dengan hal tersebut.

Dalam hal ini pembelajaran kooperatif memiliki pengaruh yang sangat penting terhadap kemampuan pemahaman matematik, siswa dapat memahami materi yang di berikan dengan cara bekerja kelompok, bertukar pikiran dan saling membantu diantara sesamanya. Dengan demikian melalui kolaborasi yang baik antar anggota kelompok, siswa dapat memahami materi matematika dan dapat menyelesaiakan�

Artikel Lengkap Download DI SINI

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

Strategi Pembelajaran Kooperatif (SPK)

Kelompok merupakan konsep yang penting dalam kehidupanmanusia, karene sepanjang hidupnya manusia tidak akan terlepas dari kelompoknya. Kelompok dalam pembelajaran dapat diartikan sebagai kumpulan dua orang individu atau lebih yang berinteraksi secara tatap muka, dan setiap individu menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari kelompoknya, sehingga mereka merasa memiliki, dan merasa saling ketergantungan secara positif yang digunakan untuk mencapai tujuan bersama.

Dalam pembelajaran kelompok, setiap anggota kelompok akan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama pula. Dilihat dari landasan psikologi belajar, pembelajaran kelompok banyak dipengaruhi oleh psikologi belajar kognitif holistik yang menekankan bahwa belajar pada dasarnya adalah proses berpikir.

Artikel Lengkap Download Di sini


Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

Minggu, 03 April 2011

Pembelajaran dengan Metode Jigsaw

Metode ini dikembangkan oleh Elliot Aronson dan kawan-kawannya dari Universitas Texas dan kemudian di adaptasi oleh Slavin dan kawan-kawannya. Melalui metode jigsaw kelas dibagi menjadi beberapa tim yang anggotanya terdiri dari 5 atau 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen. Bahan akademik disajikan kepada siswa dalam bentuk teks; dan tiap siswa bertanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian dari bahan akademik tersebut.

Para anggota dari berbagai tim yang berbeda memiliki tanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian akademik yang sama dan selanjutnya berkumpul untuk saling membantu mengkaji bagian bahan tersebut. Kumpulan siswa semacam itu disebut "kelompok pakar" (expert group). Selanjutnya para siswa yang berada dalam kelompok pakar kembali kembali ke kelompok semula (home teams) untuk mengajar anggota lain mengenai materi yang telah dipelajari dalam kelompok pakar. Setelah diadakan pertemuan dan diskusi dalam "home teams", para siswa dievaluasi secara individual mengenai bahan yang telah dipelajari.

A. Pengertian Metode Pengajaran Jigsaw
Dalam hal ini peneliti menggunakan metode jigsaw. Istilah metode berasal dari bahasa Yunani "Metodos". Kata ini terdiri dari dua suku kata yaitu "Metha" yang berarti melalui atau melewati dan "hodos" jalan atau cara. Jadi metode adalah suatu jalan yang dilalui untuk mencapai suatu tujuan.

Pengertian jigsaw learning adalah sebuah teknik yang dipakai secara luas yang memiliki kesamaan dengan teknis "pertukaran dari kelompok ke kolompok lain." (group to group exchange) dengan suatu perbedaan penting: setiap peserta didik mengajarkan sesuatu.

Sedangkan menurut Arends (1997) model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif, dengan siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang secara heterogen dan bekerjasama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada kelompok yang lain.

B. Langkah-Langkah Pelaksanaan Metode Jigsaw
1. Pilihlah materi pelajaran/ kuliah yang dapat dibagi menjadi beberapa segmen (bagian).
2. Bagilah siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah segmen yang ada. Jika jumlah siswa ada 50 sementara jumlah segmen yang ada adalah 5, maka masing-masing kelopmok terdiri dari 10 orang. Jika jumlah ini dianggap terlalu besar, bagi lagi menjadi dua, sehingga setiap kelompok terdiri dari 5 orang, kemudian setelah proses selesai gabungkan kedua kelompok pecahan tersebut.
3. Setiap kelompok mendapat tugas membaca dan memahami materi kuliah yang berbeda-beda.
4. Setiap kelompok mengirimkan anggotanya ke kelompok lain untuk menyampaikan apa yang telah mereka pelajari di kelompok.
5. Kembalikan suasana kelas seperti semula kemudian tanyakan sekiranya ada persoalan-persoalan yang tidak terpecahkan dalam kelompok.
6. Sampaikan beberapa pertanyaan kepada siswa untuk mengecek pemahaman mereka terhadap materi.

C. Variasi
1. Berikan tugas baru misalnya menjawab sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang didasarkan pada pengetahuan akumulatif dari semua anggota kelompok belajar jigsaw.
2. Beri siswa tanggung jawab untuk mempelajari ketrampilan, sebagai alternatif dari pemberian informasi kognitif. Perintahkan siswa untuk saling mengajarkan katrampilan yang telah mereka pelajari.

D. Faktor Penghambat Metode Jigsaw
Tidak selamanya proses belajar dengan metode jigsaw berjalan dengan lancar. Ada beberapa hambatan yang dapat muncul, yang paling sering terjadi adalah kurang terbiasanya peserta didik dan pengajar dengan metode ini. Peserta didik dan pengajar masih terbawa kebiasaan metode konvensional, dimana pemberian materi terjadi secara satu arah. Faktor penghambat lain adalah kurangnya waktu, proses metode ini membutuhkan waktu yang lebih banyak, sementara waktu pelaksanaan metode ini harus disesuaikan dengan beban kurikulum.


Rujukan:
1. Nurhadi, dkk. Pembelajaran kontekstual (CTL) dan penerapan dalam KBK (Malang: UM PRESS, 2004), hlm. 65
2. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner (Jakarta: Bumi Aksara, 1993), hlm. 61
3. Hidayat Komaruddin, Active Learning, 101 Strategi Pembelajaran Aktif (Yogyakarta: YAPENDIS, 1996 ). hlm. 195
4. (http://telaga.cs.ui.ac.id/Metodologi Penelitian/laporan4/kelompok5.doc.)
5. Hisyam Zaini DKK, Strategi Pembelajaran Aktif (Yogyakarta: CTSD, 2004), 58
6. Melvin L. Silberman, Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif, Raisul Muttaqien �Terj� (Bandung: Nuamedia dengan Penerbit Nuansa, 2004), hlm. 195


Dipublikasikan Oleh:

M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Rabu, 30 Maret 2011

Pembelajaran Kooperatif Model TGT

Menurut Hopkins (Noornia, 1997:14) Teams-Games Tournament (TGT) merupakan bentuk pembelajaran kooperatif di mana setelah siswa belajar secara individual, untuk selanjutnya dalam kelompok masing-masing anggota kelompok. Mengadakan turnamen atau lomba dengan anggota kelompok lainnya sesuai dengan tingkat kemampuannya.

Seperti karakteristik pembelajaraan kooperatif lainn
ya, TGT memunculkan adanya kelompok dan kerjasama dalam belajar. Di samping itu, terdapat persainga antar individu maupun antar kelompok. Dalam TGT, siswa yang mempunyai kemampuan dan jenis kelamin yang berbeda dijadikan dalam sebuah tim yang terdiri dari 4 sampai 5 siswa. Sebagai salah satu model pembelajaran kooperatif TGT sangat mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus membedakan adanya perbedaan status, melibatkan siswa sebagai tutor sebaya, dan adanya unsur reinforcement.

Kemudahan penerapan TGT ini disebabkan dalam pelaksanaanya tidak adanya fasilitas pendukung yang harus tersedia seperti peralatan atau ruangan khusus. Selain mudah diterapkan dalam penerapannya TGT juga melibatkan aktivitas seluruh siswa untuk memperoleh konsep yang diinginkan. Kegiatan tutor sebaya terlihat ketika siswa melaksanakan turnamen yaitu setelah masing-masing anggota kelompok membuat soal dan jawabannya, untuk selanjutnya saling mengajukan pertanyaan dan belajar bersama. Sedangkan untuk memotivasi belajar siswa dalam TGT terdapat unsure reinforcement. Secara sistematis penerapan model TGT meliputi empat langkah yaitu: apersepsi, orientasi, turnamen, dan refleksi.

PENTINGNYA PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL TGT

Penerapan pembelajaran kooperatif model TGT memang sangat penting, karena TGT sebagai bagian dari metode pembelajaran dalam KBK mampu memenuhi syarat-syarat yang harus dipenuhi jika dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar.

Berikut tinjauan dari konsep kompetensi yang disebutkan Gordon (Mulyasa, 2002:38-39):
1. Pengetahuan (knowledge); yaitu kesadaran dalam aspek kognitif, dengan menggunakan TGT pengetahuan siswa mengenai materi pelajaran akan lebih mendalam karena dalam TGT ada unsur tutor sebaya.
2. Pemahaman (understanding); yaitu kedalam kognitif dan afektif yang dimiliki oleh individu. Di samping memahami me
teri pelajaran dengan TGT siswa juga dilatih untuk memahami perasaan orang lain.
3. Kemampuan (skill); adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melakukan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Kompetensi ini dapat dengan mudah diperoleh siswa, karena dalam TGT mengembangkan banyak kompetensi diantaranya membuat pertanyaan dan menjelaskan kepada siswa lain.
4. Nilai (value); adalah suatu standar perilaku yang diyakini dan secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang. Kompetensi ini pada TGT terkandung dalam kejujuran dalam merahasiakan soal masing-masing individu, keterbukaan dalam memberikan penjelasan kepada teman lain dan demokrasinya terlihat ketika berdiskusi untuk menyatukan pendapat yang berbeda.

5. Sikap (attitude); yaitu perasaan (senang-tidak senang, suka-tidak suka) atau reaksi terhadap suatu rangsangan yang akan datang dari luar. Kompetensi sikap diperoleh siswa karena dalam TGT siswa belajar dengan kelompok masing-masing tanpa ada tekanan dari guru, sehingga siswa merasa senang dan santai.
6. Minat (interest); adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan. Adanya turnamen dalam TGT meningkatkan minat belajar siswa untuk mempelajari materi pelajaran.

Jika ditinjau dari prinsip pendukung pengembangan KBK yang tercantum dalam Depdiknas I-A (2003:25) pembelajaran kooperatif model TGT merupakan metode pembelajaran yang benar-benar efektif dan efisien. Berikut ini analisis penerapan pembalajaran kooperatif model TGT terhadap prinsip pendukung pengemban
gan KBK.
1. Berpusat pada peserta didik
Dalam TGT peserta didik diposisikan sebagai subjek belajar, artinya yang melaksanakan KBM adalah siswa. KBM dengan TGT ini dilakukan dengan melakukan turnamen yaitu saling menanyakan antar anggota dalam kelompok, sehingga konsep diperoleh berdasarkan hasil diskusi dalam masing-masing kelompok dan guru hanya bertindak sebagai fasilitator.
2. Mengembangkan kreativitas peserta didik
KBM perlu dipilih dan dirancang agar memberikan kesempatan dan kesempatan peserta didik untuk berkreasi secara berkesinambungan guna mengembangkan dan mengoptimalkan kreativitas peserta didik. Pada TGT pengembangan kreativitas ini terwujud dengan pemberian tugas individu siswa untuk membuat pertanyaa
n sekaligus jawaban secara bebas sesuai dengan kemampuan masing-masing.
3. Menciptakan kondisi menyenangkan dan menantang
Proses pembelajaran dalam TGT dilaksanakan oleh setiap kelompok sehingga dapat berjalan lebih rileks. Suasana belajar yang menyenangkan sangat doperlukan karena otak tidak akan bekerja secara optimal bila perasaan dalam keadaan tertekan. Selain itu dalam turnamen pada proses pembelajaran TGT setiap siswa bersaing untuk memperoleh nilai yang setinggi-tingginya, sehingga dengan persaingan tersebut siswa akan merasa lebih tertantang untuk menjadi yang terbaik.
4. Mengembangkan beragam kemampuan yang bermuatan nilai

Peserta didik akan belajar secara optimal jika pengalaman belajar yang disajikan dapat mengembangkan berbagai kemampuan seperti kemampuan logis matematis, bahasa, musik, kinestetik, dan kemampuan inter ataupun intra personal. Pengembangan kemampuan dalam TGT terbukti dengan adanya tugas membuat pertanyaan, kerjasama untuk saling melengkapi dalam memperoleh konsep yang benar dan adanya kebiasaan untuk berusaha memahami siswa lain.
5. Menyediakan pengalaman belajar yang beragam
Keragaman pengalaman belajar menuntut keragaman penyediaan sumber belajar, keragaman cara penilaian, keragaman tempat belajar, keragaman waktu, dan keragaman organisasi kelas. Pengalaman belajar juga menyediakan proporsi yang seimbang antara pemberian informasi dan penyajian terapannya. Metode TGT memberikan pengalaman yang sangat beragam pula
diantaranya cara memberikan penjelasan kepada orang lain, melakukan penilaian dan cara bekerjasama dalam suatu tim. Penyediaan proporsi yang seimbang dalam TGT terbukti adanya perlengkapan konsep oleh guru yang memerlukan adanya tambahan media atau bahan amatan, seperti: charta, model atau bahan asli.
6. Belajar melalui berbuat
Melalui TGT siswa belajar berbuat untuk memperoleh konsep dengan bekerjasama dalam setiap kelompok. Hasil belajar akan meningkat bila kegiatan pembelajaran dalam TGT dikondisiskan sedemikian rupa supaya peserta didik melakukan kegiatan praktis, seperti penggunaan telinga untuk mendengarkan penjelasan teman.

Berdasarkan apa yang diungkapkan oleh Slavin, maka model pembelajaran kooperatif tipe TGT memiliki ciri - ciri sebagai berikut.
1. Siswa Bekerja Dalam Kelompok - Kelompok Kecil

Siswa ditempatkan dalam kelompok - kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang yang memiliki kemampuan, jenis kelamin, dan suku atau ras yang berbeda. Dengan adanya heterogenitas anggota kelompok, diharapkan dapat memotifasi siswa untuk saling membantu antar siswa yang berkemampuan lebih dengan siswa yang berkemampuan kurang dalam menguasai materi pelajaran. Hal ini akan menyebabkan tumbuhnya rasa kesadaran pada diri siswa bahwa belajar secara kooperatif sangat menyenangkan.
2. Games Tournament

Dalam permainan ini setiap siswa yang bersaing merupakan wakil dari kelompoknya. Siswa yang mewakili kelompoknya, masing - masing ditempatkan dalam meja - meja turnamen. Tiap meja turnamen ditempati 5 sampai 6 orang peserta, dan diusahakan agar tidak ada peserta yang berasal dari kelompok yang sama. Dalam setiap meja turnamen diusahakan setiap peserta homogen.

Permainan ini diawali dengan memberitahukan aturan permainan. Setelah itu permainan dimulai dengan membagikan kartu - kartu soal untuk bermain (kartu soal dan kunci ditaruh terbalik di atas meja sehingga soal dan kunci tidak terbaca). Permainan pada tiap meja
turnamen dilakukan dengan aturan sebagai berikut. Pertama, setiap pemain dalam tiap meja menentukan dulu pembaca soal dan pemain yang pertama dengan cara undian. Kemudian pemain yang menang undian mengambil kartu undian yang berisi nomor soal dan diberikan kepada pembaca soal. Pembaca soal akan membacakan soal sesuai dengan nomor undian yang diambil oleh pemain. Selanjutnya soal dikerjakan secara mandiri oleh pemain dan penantang sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dalam soal. Setelah waktu untuk mengerjakan soal selesai, maka pemain akan membacakan hasil pekerjaannya yang akan ditangapi oleh penantang searah jarum jam. Setelah itu pembaca soal akan membuka kunci jawaban dan skor hanya diberikan kepada pemain yang menjawab benar atau penantang yang pertama kali memberikan jawaban benar.

Jika semua pemain menjawab salah maka kartu dibiarkan saja. Permainan dilanjutkan pada kartu soal berikutnya sampai semua kartu soal habis dibacakan, dimana posisi pemain diputar searah jarum jam agar setiap peserta dalam satu meja turnamen dapat berperan sebagai pembaca soal, pemain, dan penantang. Disini permainan dapat dilakukan berkali - kali dengan syarat bahwa setiap peserta harus mempunyai kesempatan yang sama sebagai pemain, penantang, dan pembaca soal.

Dalam permainan ini pembaca soal hanya bertugas untuk membaca soal dan membuka kunci jawaban, tidak boleh ikut menjawab atau memberikan jawaban pada peserta lain. Setelah semua kartu selesai terjawab, setiap pemain dalam satu meja menghitung jumlah kartu yang diperoleh dan menentukan berapa poin yang diperoleh berdasarkan tabel yang telah disediakan. Selanjutnya setiap pemain kembali kepada kelompok asalnya dan melaporkan poin yang diperoleh berdasarkan tabel yang telah disediakan. Selanjutnya setiap pemain kembali kepada kelompok asalnya dan melaporkan poin yang diperoleh kepada ketua kelompok. Ketua kelompok memasukkan poin yang diperoleh anggota kelompoknya pada tabel yang telah disediakan, kemudian menentukan kriteria penghargaan yang diterima oleh kelompoknya.
3. Penghargaan Kelompok

Langkah pertama sebelum memberikan penghargaan kelompok adalah menghitung rerata skor kelompok. Untuk memilih rerata skor kelompok dilakukan dengan cara menjumlahkan skor yang diperoleh oleh masing - masing anggota kelompok dibagi dengan dibagi dengan banyaknya anggota kelompok. Pemberian penghargaan didasarkan atas rata - rata poin yang didapat oleh kelompok tersebut. Dimana penentuan poin yang diperoleh oleh masing - masing anggota kelompok didasarkan pada jumlah kartu yang diperoleh oleh seperti ditunjukkan pada tabel berikut.






















Dengan keterangan sebagai berikut:
Top Scorer (skor tertinggi), High Middle scorer ( skor tinggi ), Low Middle
Scorer ( skor rendah ), Low Scorer ( skor terendah), ( skor sedang )
Dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT ada beberapa tahapan yang perlu ditempuh, yaitu :
1. Mengajar (teach)
Mempersentasekan atau menyajikan materi, menyampaikan tujuan, tugas, atau kegiatan yang harus dilakukan siswa, dan memberikan motivasi.
2. Belajar Kelompok (team study)

Siswa bekerja dalam kelompok yang terdiri atas 5 sampai 6 orang dengan kemampuan akademik, jenis kelamin, dan ras / suku yang berbeda. Setelah guru menginformasikan materi, dan tujuan pembelajaran, kelompok berdiskusi dengen menggunakan LKS. Dalam kelompok terjadi diskusi untuk memecahkan masalah bersama, saling memberikan jawaban dan mengoreksi jika ada anggota kelompok yang salah dalam menjawab.
3. Permainan (game tournament)
Permainan diikuti oleh anggota kelompok dari masing - masing kelompok yang berbeda. Tujuan dari permainan ini adalah untuk mengetahui apakah semua anggota kelompok telah menguasai materi, dimana pertanyaan - pertanyaan yang diberikan berhubungan dengan materi yang telah didiskusikan dalam kegiatan kelompok.
4. Penghargaan kelompok (team recognition)

Pemberian penghargaan (rewards) berdasarkan pada rerata poin yang diperoleh oleh kelompok dari permainan. Lembar penghargaan dicetak dalam kertas HVS, dimana penghargaan ini akan diberikan kepada tim yang memenuhi kategori rerata poin sebagai berikut.














Rujukan:
1. Arikunto, Suharsini. 1996. Pengelolaan Kelas dan Siswa. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
2. Arikunto, Suharsini. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta
3. Dimyati. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud
4. Lie, A. 2002. Cooperative Learning. Mempraktekkan Cooperatif Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana
5. Noornia, A. 1997. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model STAD pada Pengajaran Persen di Kelas IV SD Islam Ma�arif 02 Singosari. Tesis Tidak Diterbitkan. Malang: Program Pasca Sarjana
6. Sardiman, A.M. 1990. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Persada


Atikel ini dipublikasikan oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd

Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Hakikat Pembelajaran Kooperatif (Cooperatif Learning)

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Belajar kooperatif (Cooperatif Learning) adalah metode belajar mengajar yang didesain untuk mengembangkan kerjasama dan tanggung jawab siswa. Metode ini dirancang untuk mengurangi persaingan yang banyak ditemui di kelas dan cenderung mengarah pada pola �kalah dan menang� (Slavin, 1994). Definisi di atas menjelaskan bahwa belajar kooperatif merupakan model pembelajaran yang menekankan adanya kerjasama antara siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan belajar.

Lebih lanjut Watson (Jufri, 2000:14) menyatakan bahwa cooperatif learning (belajar kelompok) merupakan suatu lingkungan belajar di kelas, di mana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang mempunyai kemampuan yang berbeda-beda untuk mencapai suatu tujuan umum. Belajar kelompok merupakan pendekatan yang dilakukan agar siswa dapat bekerja sama dengan yang lain untuk memahami kebermaknaan isi pelajaran dan bekerja sama secara aktif dalam menyelesaikan tugas.

Pengelompokkan siswa secara heterogen dimaksudkan untuk mengembangkan penerimaan siswa terhadap keragaman dan keterampilan sosial. Pada dasarnya model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai paling tidak 3 tujuan pembelajaran yaitu hasil belajar, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial (Corebima, dkk.2002). melalui anggota kelompoknya baik kemampuan akademik, jenis kelamin, usia, latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya. Para siswa juga diharapkan menerima keragaman tersebut dan memaksimalkan kerja sama kelompok, sehingga masing-masing anggota kelompok siap menghadapi tes dan hasil belajar akan tercapai dengan optimal.

Kerjasama kelompok dalam pembelajaran kooperatif dapat digambarkan seperti dua orang atau lebih yang sedang mengangkat balok kayu. Jika salah satu saja melepaskan pegangannya maka keseimbangan akan berubah. Keseimbangan yang terjadi dapat mengakibatkan balok kayu tersebut lepas dan kemudian jatuh.

Selain itu ada kelebihan heterogen dalam metode belajar kooperatif yaitu memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling mengajar (Peer Tutoring) dan meningkatkan interaksi serta memudahkan guru dalam mengelola kelas (Lie,2002:42). Melalui belejar kelompok, secara khusus siswa berperan sebagai sumber belajar antara satu dengan yang lain, berbagi dan mengumpulkan informasi serta saling membantu untuk mencapai keberhasilan bersama. Dengan kata lain siswa sebagai tutor sebaya bagi kelompoknya, sebab kecenderungan bahwa siswa lebih mudah menerima dan memahami informasi dari teman sebayanya. Menurut Arikunto (1996:62) adakalanya siswa lebih mudah memperoleh keterangan dari teman sebayanya karena malu untuk bertanya kepada guru.

Roger dan David Johnson dalam Lie (2002) menyatakan bahwa �tidak semua kerja kelompok bisa dianggap cooperative learning�. Menurutnya untuk mencapai hasil yang maksimal ada 5 unsur model pembelajaran yang harus diterapkan, yaitu: (1) saling ketergantungan positif, (2) tanggung jawab perseorangan; (3) tatap muka; (4) komunikasi pada anggota; dan (5) evaluasi kelompok.

Dalam pembelajaran kooperatif setiap anggota kelompok saling bekerja sama menyelesaikan tugas untuk mencapai tujuan bersama. Adanya kerjasama kelompok menunjukkan bahwa keberhasilan kelompok ditentukan oleh hasil belajar bersama dalam kelompok, sehingga dalam satu kelompok terjadi ketergantungan positif. Selain itu setiap anggota kelompok bertanggung jawab perseorangan, maka setiap anggota kelompok berkesempatan memberi kontribusi bagi kesuksesan kelompoknya.

Setiap kegiatan pembelajaran termasuk kegiatan dalam pembelajaran kooperatif selalu melibatkan interaksi (tatap muka) dan komunikasi antara gutu dan siswa. Interaksi yang terjadia diantara anggota kelompok membantu siswa meningkatkan pemahaman suatu konsep sebab siswa lebih mudah berkomunikasi dengan teman sebayanya melalui bahasa yang sederhana dan mudah dipahami bila dibandingkan berkomunikasi dengan guru. Interaksi dan komunikasi yang muncul dalam pembelajaran diharapkan berjalan secara multi arah (guru-siswa, siswa-siswa).

Kegiatan pembelajaran selalu diakhiri dengan evaluasi, tujuannya adalah untuk emngatur ketercapaian tujuan belajar. Pembelajaran kooperatif menekankan evaluasi kelompok yang berarti keberhasilan siswa mencapai tujuan belajar sangat tergantung pada hasil belajar kelompok. Kelompok yang memperoleh skor tertinggi berhak memperoleh penghargaan.
Mbulu (2001:72) menyebutkan bahwa dalam setiap pembelajaran, siswa harus merasakan bahwa aktivitas yang dilakukannya memperoleh sukses. Setiap sukses yang diperoleh merupakan reinforcement yang memacu aktivitas belajar menjadi lebih kuat untuk memperoleh sukses berikutnya. Kesuksesan suatu pembelajaran dapat dilihat dari peningkatan hasil belajar. Jadi dengan memberikan penghargaan, maka siswa akan lebih termotivasi untuk meningkatkan hasil belajarnya.

Selain itu pembelajaran kooperatif juga membutuhkan perhatian khusus dalam penggunaan ruang kelas dan membutuhkan perabot yang bisa dipindahkan. Pengaturan model cluster dan swing adalah dua contoh pengaturan ruang kelas yang cocok digunakan dalam pembelajaran kooperatif (Depdiknas, 2002:18).

Menurut Noornia (1997:14) terdapat banyak model pembelajaraan kooperatif yang berhasil dikembangkan peneliti-peneliti pendidikan dan telah diterapkan pada beragam materi pembelajaran diantaranya adalah:
1. STAD (Student Teams-Achievement Divisions) merupakan pembelajaran kooperatif yang menekankan pada kerja sama kelompok dan tanggung jawab kelompok untuk mencapai ketuntasan belajar dengan melibatkan peran tutor sebaya.
2. JIGSAW merupakan pembelajaran kooperatif yang anggota kelompoknya diberi tugas berbeda satu dengan yang lainnya dari sebuah tema yang dibahas, kemudian tes diberikan secara menyeluruh agar semua kelompok mengetahui semua pokok bahasan.
3. Teams-Games Tournament (TGT) merupakan bentuk pembelajaran kooperatif dimana setelah siswa belajar secara individual, untuk selanjutnya dalam kelompok masing-masing anggota kelompok mengadakan turnamen atau lomba dengan anggota kelompok lainnya sesuai dengan tingkat kemampuannya.
4. Investigation Group merupakan suatu pembelajaran kooperatif di mana semua anggotanya dituntut untuk merencanakan apa yang diteliti dan bersama-sama kelompok membuat rencana pemecahannya.

Berdasarkan uraian di atas diketahui terdapat bermacam-macam model pembelajaraan kooperatif. Slavin (Noornia, 1997:17) menyatakan walaupun metode pembelajaran kooperatif berbeda-beda, akan tetapi semua mendasarkan pelaksanaannya pada lima karakteristik berikut:
1. Tujuan kelompok
2. Tanggung jawab individual
3. Kesempatan yang sama untuk mencapai keberhasilan
4. Spesialisasi tugas
5. Adaptasi terhadap kebutuhan individual

Sebagai metode pembelajaran tentunya pembelajaran kooperatif juga mempunyai kelebihan dan kelemahan. Beberapa ahli (Depdiknas, 2002:10) menegaskan dari hasil penelitian menyimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif mempunyai kelebihan sebagai berikut:
1. Lebih meningkatkan pencurahan waktu untuk tugas
2. Mengedepankan penerimaan terhadap perbedaan individu
3. Dengan waktu yang sedikit dapat menguasai materi secara mendalam
4. Proses belajar mengajar berlangsung dengan keaktifan siswa (student center)
5. Mendidik siswa untuk berlatih bersosialisasi dengan orang lain
6. Rasa harga diri lebih tinggi
7. Memperbaiki sikap terhadap IPS dan sekolah
8. Memperbaiki kehadiran motivasi belajar tinggi
9. Motivasi berlajar tinggi
10. Hasil belajar lebih tinggi
11. Retensi lebih lama
12. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi

Sedangkan Sudjana (2000:70) menyatakan beberapa kelemahan pembelajaran kooperatif adalah:
1. Bagi guru
a. Sulitnya mengelompokkan siswa yang mempunyai kemampuan haterogen dari segi prestasi akademis
b. Waktunya yang dihabiskan untuk diskusi oleh siswa cukup banyak sehingga siswa melewati waktu yang sudah ditetapkan
2. Bagi siswa
Masih adanya siswa berkemampuan tinggi yang mempunyai kesempatan untuk memberi penjelasan kepada siswa lain kurang terbiasa dan sulit memberikan penjelasan.
Melalui model pembelajaran kooperatif ini diharapkan siswa memiliki kepekaan dalam berkomunikasi dengan orang lain, seperti empati dan respek terhadap jawaban atau pertanyaan diajukan oleh siswa lain. Guru harus terfokus pada kecakapan komunikasi, bukan topik masalah yang dikemukakannya melainkan siswa diberi kesempatan yang sama untuk melatih kecakapan komunikasinya dalam bentuk pertanyaan kepada siswa lain dalam satu kelompok guna menghidupkan suasana pembelajaran kooperatif.


Rujukan:
1. Arikunto, Suharsini. 1996. Pengelolaan Kelas dan Siswa. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
2. Arikunto, Suharsini. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta
3. Dimyati. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud
4. Lie, A. 2002. Cooperative Learning. Mempraktekkan Cooperatif Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana
5. Noornia, A. 1997. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model STAD pada Pengajaran Persen di Kelas IV SD Islam Ma�arif 02 Singosari. Tesis Tidak Diterbitkan. Malang: Program Pasca Sarjana
6. Sardiman, A.M. 1990. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Persada


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com